 |
| Air terjun Sipiso-piso |
“disinilah surga itu kawan”
Begitulah kira-kira bathin saya kala itu berkata. Sebuah
hamparan keindahan yang ada di hadapan saya seketika memukau dan menghilang kan
penat yang sudah menjalar hampir ke seluruh aliran darah di tubuh saya. Peluh
yang mengucur dengan deras akibat menuruni ratusan anak tangga juga seolah
sekejap kering, berganti dengan kesejukan tempias bias-bias air yang menempel
di kulit tubuh. Sementara itu di hadapan saya terlihat sebuah air terjun yang
menjulang tinggi,
jatuh diantara
tebing-tebing hijau akibat lumut-lumut yang menempel indah.
 |
| Desa Tongging dari atas |
Air terjun sipiso-piso ini terletak di desa Tongging,
kecamatan Merek, kabupaten Karo, Sumatra Utara. Air terjun yang berjarak
sekitar 24 kilometer dari Kabanjahe ini mempunyai ketinggian sekitar 120meter.
Deras nya air yang mengalir dan jatuh dari sebuah sungai diatas tebing ini
kalau di lihat dari jauh sekilah menyerupai sebuah “piso” atau pisau, dari
sanalah asal mula nama sipiso-piso ini.
Memandang air terjun ini dari gardu pandang yeng berada di desa
Tongging membuat saya berdecak kagum. Di sebelah kiri saya adalah sebuah lembah
nan cantik dimana desa tongging berada yang tepat di tepi danau toba dengan
segala keindahannya, sementara di sebelah kanan saya terhampar sebuah tebing
indah yang diatas nya terlihat subur sekali dengan beragam jenis tanaman sayur
mayur, sementara di tebing itu sendiri jatuh sebuah air terjun yang konon
katanya tertinggi di negri ini. Sebuah panorama yang akan memanjakan mata
siapapun yang datang kesini.
 |
| Lihat anak tangganya ya |
Melihat jumplah anak tangga dari atas menara pandang ini saja
rasanya sudah jiper hati saya, maklum hampir 7 tahun terakhir saya sudah
menggantungkan predikat anak gunung menjadi anak pantai. Padahal kalau
dibandingkan dengan waktu jadi anak gunung, mendaki Gunung Merapi Sumatra barat
saja saya suka berlari, nah ini melihat anak tangga menuju air terjun yang
terlihat seperti ular karena meliuk-liuk ini saya saya sudah jiper ha ha.
Cedera lutut masih membayangi saya ketika harus melakukan pendakian, yah sebuah
luka lama yang harus saya kesampingkan demi sipiso-piso.
Perlahan tapi pasti saya mulai menuruni anak tangga satu
demi satu. Pemandangan yang memukau seolah bergembira menyambut kedatangan
saya. Terik matahari juga seolah riang sekali siang itu, padahal waktu
perjalanan kesini saya di bayangi oleh mendung hitam yang menggelayut diatas
danau Toba, tapi alhamdulillah cerah hadir kembali.
 |
| Heaven |
Gemuruh air terjun sudah mulai terdengar, namun kaki ini
rasanya sudah mulai lelah. Peluh di kepala juga sudah mulai bercucuran. Tenaga
yang tersisa juga sudah mulai menipis. Citra hanya cengar-cengir saja melihat
saya bermandikan keringat.
Satu-demi satu anak tangga saya tapaki. Trek ini sebenarnya
lumayan terjal, jadi bagi anda yang merasa kondisi tubuhnya kurang sehat atau kurang
prima staminanya untuk menuruni anak tangga menuju ke air terjun sebaiknya
menikmatinya saja di menara pandang. Ini baru turun, cerita lebih seru akan
terjadi ketika nanti naik kembali dari air terjunnya.
 |
| Seger |
Gemuruh dan bias air saya rasakan ketika saya sampai di pos
terakhir, sebuah air terjun maha sempurna ada di hadapan saya. Hujan juga
tiba-tiba hadir walau rintik-rintik. Suasana air terjun sepi, tidak ada satupun
pengunjung siang itu. Hanya saya dan Citra. Hamparan bunga-bunga liar juga
tumbuh di sekitar jatuhnya air terjun. Jika dilihat sekilas seperti hamparan
permadani hijau mahal dari negeri timur tengah sana. Sesekali bunga-bunga itu bergoyang
akibat angin yang berhembus dari jatuhnya air.
Susah sekali memotret di lokasi ini. Namun saya tidak
kehabisan akal, kamera saya kerudungi dengan plastik yang emang khusus dibuat
untuk melindungi kamera seperti saat harus memotret waktu hujan turun. Depan
lensa saya lindungi dengan filter yang hanya dalam hitungan detik basah oleh
embun air. Paling tidak saya bisa mengabadikan momen air terjun indah ini.
Selain itu pintar-pintar lah membaca angin, disaat angin ke arah kita tentu
akan sulit karena bias air juga mengitu angin. Begitu angin berhembus ke arah
lain segeralah memencet tombol rana dikamara anda.
 |
| syahdu |
Lumut-lumut yang menempel di dinding tebing semakin
mempercantik air terjun sipiso-piso ini. Bahkan jika anda beruntung seringkali
terlihat pelangi di lokasi ini. Pohon-pohon pinus yang ada di sekitar air
terjun juga seolah membuat suasana disini makin nyaman untuk melepas penat
setelah berpeluh keringat menuruni anak tangga tadi.
Setelah puas menikmati pesona keindahan sipiso-piso dari
dekat saatnya perjuangan dimulai. Saya harus menaiki satu demi satu anak tangga
yang jumplahnya ratusan, dengan kemiringan hampir ada yang 80 derajat. Pasti
bukan hal yang mudah dan pasti akan sangat menguras tenaga dan mempertaruhkan
mental juga. Satu demi satu anak tangga mulai saya naiki, namun berkali-kali
saya harus berisirahat mengatur nafas dan menyeka peluh yang mengucur deras
tidak kalah dengan airterjun-nya ha ha. Citra tidak hentin-hentinya
menyemangati sambil cekikikan melihat muka saya memerah karena kepanasan dan
kecapekan.
 |
| Tepar |
Di ketawain Citra justru malah membakar semangat saya untuk
meneruskan perjalanan. Satu persatu anak tangga kembali saya tapaki hingga
akhirnya sampailah di pos terakhir sebelum gardu pandang. Setelah menenggak
berliter-liter air putih kok saya ingin menghiasi suasana indah duduk memandang
hamparan danau toba ini dengan secangkir kopi, alhasil sebuah kopi hitam
dihidangkan oleh seorang ibu penjaga warung.
Sampai kembali di menara pandang saya mampir ke sebuah
warung sambil menunggu becak motor yang sudah saya pesan. Tidak lama setelah
sebuah sms terkirim becak sudah muncul dan kami bertiga menikmati gorengan di
sebuah warung kecil disana. Hujan kembali turun ketika saya berada di atas
becak untuk kembali ke simpang merek. Abang Marbun pengendara becak motor ini
orangnya asik sekali. Sepanjang perjalanan dia berceloteh tentang segala hal.
Bahkan saya di antarkan ke sebuah pangkalan angkot yang akan membawa saya ke
Kabanjahe disaat hujan masih mengguyur.
 |
| Bungalow murah di Brastagi |
Untuk sampai ke Kabanjahe saya harus berada di sebuah angkot
yang penuh sesak dengan karung-karung kopi. Sepertinya komoditi ini akan di
jual ke pasar di Kabanjahe atau bahkan malah akan dibawa menuju Medan. Sampai
di Kabanjahe saya harus berpindah angkot lagi menuju Brastagi untuk mengambil
barang-barang bawaan dan selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju medan.
Untuk mencapai medan di perlukan waktu sekitar 3 jam lebih
dari brastagi. Apalagi dengan kondisi jalan kecil yang rentan sekali dengan
kemacetan. Akibat kemacetan inilah saya akhirnya harus menginap satu malam di
kota medan karena ketinggalan pesawat.
Atas rekomendasi dari kawan saya menginap di hotel transit.
Tapi kok rasanya kesialan saya malam itu berlipat-lipat. Setelah ketinggalan
pesawat dan harus membeli lagi tiket dengan harga 3x lipat harga tiket promo
saya yang hangus, saya juga mengalami kesialan di hotel ini.
 |
| Partner in crime :) |
Ceritanya begini, karena sudah capek dan ingin sekali
beristirahat dikamar, saya diantarkan oleh seorang tukang ojek ke hotel ini.
Abang ojeknya baik sekali, dan kami pun terlibat dalam obrolan demi obrolan
tentang segala hal. Nah pas waktu chek in di hotel, saya memilih kamar dengan
harga 100 ribu/malam. Yah untuk melepas lelah dah menanti jadwal keberangkatan
besok pagi cukup lah. Setelah menyerahkan ktp dan membayar (yang juga
disaksikan oleh abang ojek) saya naek ke kamar sambil dibantuin sama si abang
ojek ini.
Nah Masalah muncul ketika saya mau check out besok paginya.
Bermaksud meminta KTP saya ke
recepcionis eh kok saya dikasih tagihan kamar lagi, menurut mereka saya belum
bayar biaya kamar. Jelas-jelas saya sudah membayar dan saksinya adalah abang
ojek saya. Karena malas berpolemik takut ketinggalan pesawat lagi akhirnya saya
mengalah dengan membayar sebesar 100 ribu lagi. Si abang ojek saya juga
kelihatan marah sekali sama recepcionis hotel itu. Yah Sudahlah anggap saja
bumbu-bumbu perjalanan he he. Pelajaran buat kalian yang mau menginao di hotel
ini, mintalah kwitansi pembayaran begitu anda membayar biaya kamar.
Bang Silalahi mengantarkan saya ke Terminal bandara Polonia.
Setelah saya turun dia bergegas pamit karena harus mengantar anaknya ke
sekolah. Dan perjalan mengarungi keindahan Aceh Singkil hingga Air terjun
sipiso-piso harus saya akhiri. Semoga suatu saat saya bisa kembali menikmati
keindahan alam semesta di salah satu ujung pulau Sumatra ini.
Semoga.
 |
| Desa Tongging |
 |
| Seru untuk di eksplore |
 |
| Dari menara pandang |
 |
| Deretan warung sebelum turun ke air terjun |
 |
| ijo segerrr |
 |
| Di brastagi gak butuh AC tapi ini pemanas alami |
 |
| Terong Belanda |
 |
| Ngopi dulu sob |
 |
| Damai nya sipiso piso |
Labels: Sumatera, Travel