Melanglang di Malang, Lihat Indonesia Part #13

Pemandangan dari puncak Gunung banyak
Malam baru saja menjelma pagi, langit di ufuk timur masih terlihat di selimuti sedikit mendung pucat. Matahari seolah enggan menampak kan cahayanya. Namun jalur perjalanan yang saya dan team Lihat Indonesia lewati terlihat tidak kehilangan pesonanya. Hutan pinus yang yang lebat serta sungai yang mengalir deras terlihat begitu menantang untuk di akrab-i.

Perjalanan menuju kota Batu Malang ini entah sudah keberapa kalinya saya lakukan. Bercerita tentang kota Malang saya selalu terngiang oleh dongeng Almarhum kakek dulu tentang keberadaan Tanah Suci Mekkah, sebuah tanah suci yang selalu saya gadang-gadang menjadi destinasi favorit  dalam cerita usang tentang sebuah perjalanan yang selalu saya tulis.

“Kota mekkah itu di kelilingi oleh gunung batu atau sering juga disebut Jabbal” kalimat manis yang selalu keluar dari mulut kakek jika akan mengawali sebuah cerita tentang keteladanan seorang Nabi yang jadi panutan turun temurun di dalam keluarga kakek.

Begitu Melihat letak geografis kota Malang saya jadi teringat celotehan kakek yang sering di perdengarkan ketika saya hendak beranjak tidur. Kota Malang di kelilingi banyak sekali bukit dan Gunung. Namun yang membedakannya dengan kota Mekkah adalah suhunya. Kota Padang pasir itu terkenal dengan suhu panas nya sedang Malang terkenal dengan kota sejuk yang memikat hati.

                                                                       ***

Prepare for take off

Setidaknya saya sudah mencoba terbang paralayang beberapa kali, pertama adalah di kawasan danau Maninjau Sumatera Barat dan yang beberapa kali saya lakukan adalah di puncak pass Bogor. Adrenalin begitu terpicu ketika take off fan landing, karena 2 hal itu menurut saya adalah yang paling memacu adrenalin kita, setelah-nya meliuk-liuk diudara mah indah sekali, saya bisa menikmati pemandangan dari ketinggian tanpa harus naik pesawat terbang, seolah I’m Flying without wing.

Gunung Banyak, Gunung ini resmi digunakan sebagai  kawasan paralayang pada 20 juni 2000. Dari atas gunung Banyak yang ketinggiannya sekitar 700mdpl ini kita bisa melihat pesona indah  kota Batu dari atas. Hawa sejuk segera menyeruak ketika saya menggapa puncaknya. Pandangan mata kita akan di manjakan dengan pemandangan indah hampir di segala penjuru mata angin.

Om Aan selaku pionir dalam olah raga dirganatara di kota Malang banyak bercerita tentang seluk beluk per-paralayanga-an. Mulai dari persiapan apa aja yang harus di lakukan hingga sedikit harapan kedepannya tentang dunia per-paralayangan di Malang ini akan seperti apa.



Nyantai duluuu

Namun kali ini saya hanya ingin menikmati keindahan pesona alam dari ketinggian seperti ini. Namun ternyata tidak buat mbak Novi, seorang perempuan yang sudah menakluk kan hatinya mas Anto. Mas Anto adalah laki-laki petualang yang banyak membantu perjalanan team Lihat Indonesia selama di Malang dan sekitarnya.

Mbak Novi ingin sekali merasakan sensasi dari sebuah penerbangan dengan menggunakan paralayang. Dan hanya dia sendirilah dari rombongan kami yang terbang siang itu. Namun ada satu hal yang lucu menarik perhatian saya. Mbak Novi yang akan terbang terlihat riang gembira, tapi kenapa mas Anto yang terlihat sedikit cemas ya ha ha, romantisnya mereka, ternyata beliau takut terjadi apa-apa dengan mbak Novi..so sweettttt.



Puncak gunung Banyak

Puncak Gunung Banyak ini ramai di kunjungi oleh para wisatawan biasanya pada musim libur atau akhir pekan. Banyak pasangan muda-mudi yang selelu menghabiskan waktu berdua sambil memandang kota batu di kejauhan yang indah, hmmm sepertinya romantis. Sudah banyak fasilitas pendukung seperti gardu pandang, warung-warung, kamar mandi, jadi gak usah khawatir kalau mau berkunjung ke lokasi ini. Sekedar duduk santai ataupun menikmati pacuan adrenalin dengan ber-paralayang. .



Padepokan Mujur

Dari puncak Gunung banyak, laju putaran roda beberapa Taft Diesel yang membawa saya mengarah ke sebuah lokasi. Nama tempatnya adalah gunung mujur. Gunung ini letaknya ada di lereng gunung Arjuna. vegetasi yang banyak saya temui adalah hutan pinus. Lokasi ini cocok sekali untuk olah raga ekstreme seperti downhill, motocross, treking dan yang di suguhkan kami oleh komunitas keren Taft Diesel Indonesia chapter malang ini adalah fun offroad. Kata-kata “FUN” yang sering saya jumpai di setiap chapter beda skala dengan kami yang berangkat dari ibukota. Seperti di Garut waktu itu, Fun nya hingga membuat salah satu mobil rombongan harus merelakan petangnya terenggut oleh sebuah kecelakaan kecil di tengah hutan. Dengan sedikit cemas dan terus berdoa semoga “FUN” kali ini skalanya sama dengan yang saya ketahui.

Puluhan anak tangga saya daki untuk menuju ke sebuah lokasi yang sering di sebut dengan Padepokan Mujur. Makam Ki Ageng Kerto Raharjo serta satu makam lainnya adalah perhatian utama para pe-ngalap berkah ketika datang ke situs ini. Situs ini ramai di datangi warga biasanya pada malam jumat legi, karena menurut kepercayaan barang siapa yang ngalap berkah di sana tujuh kali berturut-turut niscaya dirinya akan menjadi orang mujur.



Bertemu para crosser Malang

Hujan tiba-tiba saja turun, segera kami berlarian menuju ke sebuah pondokan kecil yang ternyata sebuah warung. Segelas kopi panas membantu saya menghangatkan badan. Di dalam warung ternyata banyak sekali para crosser yang tergabung dalam komunitas pecinta olah raga motor ini sedang menguji adrenalin mereka di gunung Mujur ini.

Setelah hujan sedikit reda, petualangan pun dimulai. Perjalanan di awali dengan membelah hutan pinus melewati jalan seadanya. Trek dari yang hore-hore hingga yang membuat saya sedikit ternganga dan  diakiri dengan main di sirkuit mini yang terletak di samping sebuah perkampungan. Dari pengalaman menikmati trek-trek yang sudah saya dan team lalui dapat disimpulkan bahwa untuk merasakan sebuah sensasi petualangan maha sempurna seperti ini bukan hanya butuh kendaraan dengan jargon “sahabat petualang” saja, tapi lebih membutuhkan sebuah kendaraan yang bisa menjadi “partner petualang sejati”. TAFT




Melanglang di Gunung mujur


Kembali masuk ke kota Malang hari sudah sore, dan rasa lapar yang mendera sudah entah berada di level berapa. Dua mangkok bakso Malang mendarat manis di perut saya, kenikmatan itu tambah sempurna dengan banyolan dan celotehan dari para sahabat baru yang mengenalkan untuk melihat kota malang lebih dekat. Saya cukup bersyukur, selama ini jika kemalang hanya apel-apel dan apel lagi, kali ini saya mendapatkan sebuah pengalaman baru tentang sebuah arti persahabatan dan kebersamaan.

Menikmati malam di alun-alun kota malang hingga bermalam di komplek perumahan bernuansa bali milik mas Anto adalah beberapa kegiatan saya dan team mangakhiri hari di kota Malang, karena roda perjalanan akan di lanjutkan besok menyusuri pesona alam Malang Selatan, ada apa aja disana? ikuti terus kisah perjalanan dari team Lihat Indonesia ya…

*Ngorok...


Terima kasih Malangggg

beratnyooooo

Langsung di interview watawan teve dan suratkabar

Boiben

la la la ye ye ye

Labels: ,