Mampir Ngombe ke Pacitan #LihatIndonesia Part 10

Telengria

Langit ufuk barat masih terlihat keemasan ketika saya dan beberapa sahabat yang sedang bertetirah di jalur selatan jawa ini sedang berada dalam perjalanan menuju ke sebuah kota yang katanya bersejarah buat bangsa Indonesia.

yes Pacita, iring-iringan 3 Taft yang sudah sudah tidak muda lagi ini mulai menyusuri jalur-jalur kering antara Jogja menuju pacitan. Yah memang musim masih bermurah hati membagikan sengat panasnya ke bumi terkasih ini. Bercak-bercak kemarau terlihat jelas di sisa-sisa cahaya petang yang mungkin sebentar lagi akan segera berganti dengan gelap.

“Kita mau kemana dulu nih om Eten?” tanya saya ke om Eten, pria paruh baya yang berbaik hati menemani perjalanan saya dan teman-teman mulai dari Jogja kemarin.

Goa Tabuhan bagian depan
Dari komunikasi lewat radio yang memang kami persiapkan selama perjalanan, akhirnya diambil  kesepakatan kita akan mengarah ke sebuah lokasi wisata yang sudah dikenal banyak orang di Pacitan. Goa Tabuhan, Goa ini dikenal dengan bunyi merdu yang keluar dengan cara menabuh (memukul) stalagtit dan stalagmit yang ada di dalam Goa.  Bagi saya pemuja musik yang keluar dari gamelan Jawa semakin penasaran dengan bunyi-bunyian yang dihasilkan secara ajaib ini, namun sepertinya saya harus bersabar menunggu esok hari menjelang karena ketika sampai di lokasi goa Tabuhan, jam di pergelangan saya sudah menunjukan waktu sekitar pukul 3 dini hari. Alhasil dengan waktu sepagi itu tidak enak juga membangunkan siapapun yang ada disana, meskipun itu penginapan sekalipun.

Alhasil emperan toko ceinderamata yang ada di pasar seni yang letaknya tidak jauh dari Goa Tabuhan menjadi lahan tidur mewah kami, lengkap dengan fasilitas musola dan kamar mandi. Upss bukan seperti sebuah kamar nyaman yang kalian bayangkan ya ha ha, ini hanyalah emperan kios yang kebetulan di depan kamar mandi juga.

Om Eten terlihat sibuk membereskan tikar dan menyusun bantal nya untuk kami tidur rame-rame berhimpitan saling menghangatkan di sunyinya pagi yang masih dini.Tapi ternyata 3 sahabat saya yang lain lebih memilih tidur dalam posisi duduk di atas jok mobil, dan sekali lagi jangan di bayangkan jok mobil kami senyaman mobil-mobil mewah sekarang ya..

Akhirnya saya menemani om Eten meringkuk di dalam sebuah kantung tidur yang memang selalu saya bawa kemana-mana dalam trip ini. Dinginnya pagi itu terasa hingga ke semua struktur tulang dalam tubuh saya, tapi ya inilah seninya dalam perjalanan ini. Sebuah pembelajaran hidup yang tidak akan pernah saya dapatkan dibangku sekolah, hanya disini, di jalan.


Pagi menjelang begitu riang, kokok ayam saling bersahutan. riuh pasar seni yang saya masuk kan dalam mimpi menjadi kamar mewah sebuah hotel dengan banyak bintang pun mulai terasa. celotehan seorang bocah membangunkan saya. ternyata adalah anak dari pemilik kios cindera mata yang teras nya kami “colong” untuk tidur tadi pagi. Akhirnya saya berbasa-basi minta maaf karena sudah menempati lahan nya dengan tidak ijin terlebih dahulu.

“kalau mau nanggap gamelan bisa saya carikan miyogo nya mas”

Tawaran seorang bapak yang tidak mungkin saya lewatkan. akhirnya setelah berembug dengan anggota team lain akhirnya kami menyetujui nanggap gamelan jawa di dalam goa Tabuhan. 6 buah lagu jawa di bawakan dengan apik oleh beberapa orang yang tergabung dalam sebuah grup gamelan goa tabuhan. Lagu pertama yang di lantunkan bercerita tentang goa Tabuhan sendiri, sebuah gua indah yang hanya ada di Pacitan. Lagu demi lagu yang sarat dengan pitutur jawa mengalun syahdu pagi itu dari mulut dua sinden yang duduk manis di sebuah batu.

Gending Jawa di dalam goa Tabuhan

eh Tapi tunggu dulu, mana gamelan nya ya yang menghasilkan suara merdu mengiri dua sinden itu nembang? ternyata bunyi-bunyian indah itu berasal dari stalagtit dan stalagmit yang di pukul-pukul sesuai irama. harmonisasi alam yang keluar dari nada-nada indah ini terdengar luar biasa, ditambah lagi hal ini saya nikmati di sebuah gua yang konon katanya sudah ada sejak lima puluh ribu tahun yang lalu. Cukup membayar dengan beberapa lembar uang lima puluh ribuan kita sudah bisa menikmati pertunjukan yang spektakuler ini. Epic.

Selain terkenal dengan Gua nya, kawasan ini juga terkenal dengan batu mulia nya. Batuan indah berwarna-warna juga di temukan tersebar di pelosok-pelosok kampung.Batu-batu itu di jual dalam beberapa bentuk cindera mata. Tapi yang paling lazim adalah dalam bentuk akik. Namun sekarang yang juga sedang tren disini adalah seni merakit kawat dan batu menjadi sebuah perhiasan yang sangat indah.

Rasanya masih ingin berlama-lama di lokasi ini, namun perjalanan harus dilanjutkan. Tujuan team LihatIndonesia selanjutnya adalah pantai Telengria, pantai ini letaknya tidak jauhd ari pusat kota Pacitan, hanya sekitar 3-4km saja. jadi mengingat mudahnya akses ke pantai, lokasi wisata ini banyak di kunjungi warga terlebih saat libur akhir pekan tiba.


Menuju ke Pantai Telengria kami sempat berputar-putar terlebih dahulu di sekitaran kota pacitan. Saya tidak menemukan masyarakat kurus kering busung lapar seperti yang saya dengar-dengar dari celotehan orang-orang yang menganggap Pacitan adalah daerah kekurangan pangan. Tapi memang kemajuan pembangunan di kota ini terlihat begitu pesat sekali, mungkin seiring dengan terpilihnya putra daerah ini menjadi orang nomer satu di negeri ini.

Pantai Telengria

Sebutir kelapa muda meredakan dahaga di tengah teriknya matahari siang yang seolah membakar bumi Telengria. pasir pantainya sendiri berwarna cokelat, namun pantainya terlihat begitu luas sekali. namun teriknya matahari memang terasa begitu menyengat. Saya hanya menikmatinya dengan duduk-duduk di bawah pohon waru yang menjadi peneduh di siang yang membakar itu. Beberapa pohon cemara yang sengaja di tanam mulai tumbuh besar, semoga pohon-pohon ini nantinya memberikan kesejukan dan keindahan pantai teleng ria ini.


Tidak jauh dari pantai Telengria terdapat spot asik yang biasanya ketika petang tiba di gunakan para peselancar menunaikan hasratnya. Pantai ini memiliki sebuah muara sungai yang airnya terlihat hijau. Namun muara itu tenang sekali, sesekali riak kecil muncul karena lemparan kail dari beberapa pemancing yang mengerubuti pinggir sungai itu.

Pantai Pancer namanya, karena letanya berada di sebelah barat dari pantai Telengria makan ini adalah spot sunset yang asik. Siluet para peselancar di dalam sebuah petang yang menggelora adalah objek bagus untuk di foto. Ada beberapa menara pandang yangdigunakan untuk mengamati keselamatan para peselancar yang sedang asik mahsyuk bercengkrama dengan ombak.

Di pinggir kali pantai Pancer

Perjalanan roda team LihatIndonesia juga harus segera berlanjut. Semakin hari perjalanan ini semakin jauh dari rumah dan semakin ke timur. Segala penat yang muncul seolah terbayar dengan keindahan dan pelajaran berharga yang senantiasa hanya bisa saya dapatkan di jalanan.  Berputar...

Trio LihatIndonesia di Telengria

Photo Barengg

Dilarang mandi, Asikkkk

dulunya gazebo kali yak ini.

Labels: ,