Jogja, Dari Wedangan hingga Lava Tour, Lihat Indonesia Part #8

-->
Lava Tour Trek di mulai
Jogja ternyata memang sebuah kota yang tidak akan pernah bosan untuk di datangi dan di jelajahi, setidaknya bagi saya yang selalu memasukan Jogja sebagai salah satu destinasi favourite untuk di datangi.

Selain karena pesona budayanya yang adiluhung, saya juga terpesona dengan pesona alam dan masyarakatnya sendiri. Bukan berarti karena saya berasal dari klan Jawa terus saya cinta Jogja, bukan. Jogya memang kota segala umat. Jogja tidak memandang siapa dan apa bagi para pejalan yang ingin singgah dalam damainya kota budaya ini.

Team Lihat Indonesia
Ngomongin masyarakat Jogja yang asik saya tadi teringat kisah perjalanan saya bersama beberapa sahabat dalam event gila nan asik bertajuk #LihatIndonesia beberapa bulan yang lalu. yah kalau dibilang basi ini adalah cerita beberapa bulan lalu tepatnya sekitar bulan-bulan akhir 2013, dimana Jogja juga tidak secerah biasanya. Hujan dan mendung menghiasi perjalanan kami.

Di Jogja saya mendapat jamuan dari sahabat-sahabat baru yang tergabung dalam sebuah komunitas keren bernama Taft Diesel Indonesia Chapter Jogja. Mulai dari wedangan di selasar rumahnya om Agus didaerah Bantul yang konon katanya di desa om Agus ini setiap RT punya area pemakaman sendiri. Pantas lah ketika saya yang datang kesini tengah malam sedikit heran kenapa jalan menuju rumah om Agus banyak sekali kuburannya.

Jogjaaaaaaaa!!!
Tidak hanya wedangan yang nikmat, suguhan mi lethek khas bantul juga di hadirkan om Agus ke teras rumahnya, oh ya yang sedikit menggelitik adalah bukan mi lethek bungkus ya, tapi sak gerobak penjualnya ada disana, jadi ya seperti warung yang pindah.

Yang saya sangat tertarik disini adalah konsep wedangan yang mereka usung. Konsep sederhana yang sangat njawani banget. beda dengan istilah meeting atau sekedar rapat. Saya jadi ingat dulu di kampung saya di Pati yang letaknya masih menempuh sekitar 5 jam perjalanan dari wilayah Jogja ini juga punya acara serupa yang kami namai kumpulan. Jadi wedangan dan kumpulan adalah dua istilah yang sangat njawani dan tidak terkesan kaku.

Suasana Wedangan di Kaliurang
Wedangan atau kumpulan sendiri adalah sebuah acara bertemu dari beberapa orang untuk membahas sesuatu ato sekedar minum wedang bareng. biasanya berisi obrolan-obrolan ringan khas warung kopi. Tapi tidak jarang juga justru wedangan ini membahas acara-acara serius seperti persiapan kegiatan offroad ataupun bakti sosial yang sering di helat dalam komunitas mobil lawas yang konon katanya sudah tidak diakui sebagai anak dari pabrikan raksasa yang hadir di Indonesia, Daihatsu. Ironi!

Selamat Ulang Tahun TDI chapter Jogja
Seperti petang itu, Jogja rasanya basah sekali. Dingin begitu mencekat hingga merangsang bulu kuduk terkadang berdiri. di sebuah bangunan yang sepertinya peninggalan penjajah kolonial di wilayah Kaliurang, sebuah acara besar sedang berlangsung. Malam itu adalah perayaan ulang tahun berdirinya komunitas yang jaringannya tersebar ke beberapa kota di bebererapa pulau seperti Sumatra, Jawa, Bali, Lombok dan sebagian Sumbawa ini. Komunitas Taft Diesel Indonesia sedang berulang tahun kawan. Seonggok tumpeng lengkap dengan hiasan indahnya terduduk rapi di tengang ruangan. sementara aula yang tidak terlalu besar itu di gelari beberapa tikar untuk kami duduk lesehan sambil minum wedang panas yang sudah di sediakan. Sebuah angkringan juga di hadirkan di depan aula itu, ah sungguh asik sekali suasana malam itu.

Upsss!! ternyata ada yang lebih asik sedulur. Seorang gadis muda berparas jelita yang ternyata juga seorang biduanita bersuara merdu hadir ditengah kami. Om Agus sang ketua ternyata memiliki selera yang asik untuk memilih pengisi acara malam itu. Sebelum acara goyang "buka thithik Joss" berlangsung, acara inti di gelar dulu. Dimulai dai kesan dan pesan beberapa punggawa komunitas, dan wejangan-wejangan dari para sesepuh hingga kesan dan pesan dari komunitas chapter lain seperti TDI SOLO Raya yang sempat merapat malam itu, diakhiri dengan ritual potong tumpeng sebagai tanda syukur atas berkat selama ini.

Tumpeng Ulang Tahun
Hingar bingar music dangdut malam itu membuat semua tertawa. Dari mulai candaan hingga bully-an mengalir begitu saja seiring dengan suara merdu mbak biduanita. semua larut dalam kegembiraan hingga  semua lelah dan tertidur.

eh tapi tunggu dulu, Api unggun di depan halaman kembali di nyalakan, dan sejenak saya ikut menghangatkan diri di perapiannya, sebelum kemudian juga ikut tertidur.

***

Lava Tour
Pagi masih belum juga cerah, mendung masih menggelayut di atas bumi Kaliurang. Sementara hari ini kami team dari #LihatIndonesia akan di jamu dengan menjoba trek jalur lava letusan merapi dulu hingga ke bungker di Kaliadem. Bukan komunitas Taft Diesel kalo terhalang mendung aja menggagalkan acara.

"Medannya Fun kok mas, aman terkendali"

Om Tono yang melihat kecemasan kami akhirnya menenagkan, akhirnya sekitar jam 10:00 teng, iring-iringan taft dari beberapa anggota komunitas mulai berangkat menuju trek. Benar saja kata om Tono, treknya lumayan aman untuk tahap pertama. Upss jangan senang dulu,  trek batuan terjal hingga melewati kubangan air yang mengakibatkan kamera Gopro yang menempel terjatuh dalam air, namun utungnya ketemu lagi tersusun rapi di depan mata. Jalanan mulai menyempit. Namun yang membuat saya terperangah adalah pemandangan di sekitar situ. Kabut tipis yang memeluk merapi membuat Gunung itu terlihat angkuh dan menyiratkan banyak sekali duka dan tawa.

Bangker
Suasana di dalam Bangker
Trek berakhir di Kaliadem, dimana terdapat sebuah bungker yang konon dulu dipakai berlindung oleh beberapa korban letusan gunung Merapi, namun ternyata juga tidak aman berlindung disana. Memasuki pintu gerbang bungker nya saya seolah merasakan aura penderitaan yang begitu dahsyat. yang saya lihat hanya gulita di dalam ruangan bungker ini. Jeritan-jeritan magis dari Kenteng dan Sarjono yang menghuni di dalam bungker ini saat kejadian letusan Gunung Merapi tahun 2006 dulu seolah terdengar kembali. 2 korban merapi tewas terpanggang di dalam bungker yang konon katanya bersuhu hingga 400 derajat celcius ketika pintu bungker tersebut dibuka. Semoga mereka damai dalam pelukan Merapi.

Trek Pulang
Saatnya pulang, Trek yang di lalui juga lumayan menantang, karena berbeda dengan trek berangkatnya tadi. Yang menyita perhatian saya adalah ketika mampir di sebuah museum mini milik warga yang menyimpan segala bentuk cerita pedih akan dahsyatnya bencana Merapi. Dan dari sana hendaknya saya masih bisa bersyukur atas nikmat yang saya terima saat ini. Semoga para korban merapi itu Damai dalam pelukan Merapi.

***

Pamit
Ungkapan terima kasih juga tak luput saya ucapkan buat sedulur-sedulur komunitas Taft Diesel Indonesia chapter Jogja dan beberapa komunitas Travel yang sudah menemani saya dan kawan-kawan selama di Jogja. Semoga tradisi wedangan ini tetep ada, dan Jogja tetap menjadi destinasi menarik bagi siapapun.

Ditunggu undangan wedangan selanjutnya ya sedulur Jogja..

…dan roda perjalanan team LihatIndonesia terus berputar.

Labels: ,