Menyambangi bumi Tasikmalaya, Lihat Indonesia Part #4

-->
Rumah makan sunda di area Batu Gantung
Kabut turun di daerah Batu gantung, sepiring nasi dan ayam goreng panas yang ditemani segelas teh panas menemani menu makan siang kami, team Lihat Indonesia. Satu yang menarik penglihatan saya adalah sepiring Jengkol semur yang di Goreng..hmmm lezat kelihatannya.

Setelah beberapa hari berada di Garut, laju roda dua Sejoli taft yang sudah tidak muda lagi dari team Lihat Indonesia mulai bergerak keluar meninggalkan Kota Garut. Tujuan laju roda ini mengarah semakin ketimur, dan destinasi selanjutnya yang akan kami singgahi adalah kota Tasikmalaya.

Makan siang di tengah cuaca sejuk Batu Gantung
Sebenarnya kalau di tarik garis lurus dari Garut menuju Tasik tidak lah jauh, namun bukan team Lihat Indonesia jika harus memilih  melenggang di jalanan aspal mulus. Dua Sejoli taft yang kami tumpangi harus menjajal rute aduhai di pesisir selatan jawa.

Kabut turun di perjalanan menuju Tasik
Dari Kota garut laju mobil mengarah ke daerah Batu gantung terlebih dahulu untuk sekedar beristirahat sambil mengisi perut. Sebelum sampai Batu gantung hujan mulai turun. Jalanan sempit dan licin ditambah kabut yang datang sedikit menghambat laju kendaraan kami. Kang Yana dan sahabat-sahabat dari TDI Garut mengawal kami sampai perbatasan Garut-Tasik di daerah Pamengpeuk.

Tepat jam 19.00 rombongan sampai di Pamengpeuk, Kang Yana dan temen-temen TDI garut melepas kami di depan sebuah halaman rumah sakit. 2 Taft dari team Lihat Indonesia harus melanjutkan perjalanan menyusuri pesisisr selatan Jawa, sedangkan kang yana dan temen-temen dari TDI Garut harus kembali ke kota Garut lagi. Satu hal yang selalu saya benci dalam setiap perjalanan adalah berpisah dengan orang-orang baik seperti mereka yang sudah tulus menolong kita.

Jalanan mulai bergelombang, lubang-lubang besar menganga sepanjang jalur pesisir  selatan Jawa ini. Belum lagi gulita yang menghadang kami. Dua mobil beriringan perlahan, bahkan beberapa kali kami harus berhenti untuk sekedar melepas penat. Pesona keindahan pantai di sepanjang perjalanan kami tidak bisa dilihat. Hanya Gulita dan jajaran pohon rapat di samping kiri jalanan yang kami lalui.

Tepat hampir tengah malam kami sampai di rest area wanawisata Urug. Sahabat-sahabat baru dari TDI (Taft Diesel Indonesa) Tasik sudah menungu kami. Penat dan kantuk sudah mulai mengampiri, dan tanpa banyak membuang waktu akhirnya kami mulai melanjutkan perjalanan kembali ke kota Tasik.

“inilah Tasik mas, jam segini sudah susah nyari warung makan” Anggit yang menjemput saya dan temen-temen berceloteh ketika kami beristirahat sejenak untuk menikmati makan malam di sebuah angkringan yang sepertinya ramai sekali di datangi oleh anak-anak muda Tasik. Dan setelah perut kenyang kami diajak ke rumah Anggit untuk bermalam sambil melepas penat.

***

Ngoffroad dulu yaaa
Pagi Menjelang dan langit timur sedang memancarkan cahaya merah nya ke seantero penuru dunia. Ada beberapa kegiatan yang akan kami lakukan di Kota Tasik ini. Diantaranya adalah kembali ke wanawisata URUG untuk mencoba trek offroad andalah teman-teman offroader Tasik ini.  Hari sudah menjelang siang ketika kami berkumpul kembali ke rest Area Urug, tempat kami bertemu tadi malam.

Setelah melapor ke peutugas di Wanawisata ini rombongan mulai memasuki hutan urug, trek yang akan kami lalui. Pertama medan nya lumayan asik, pemandangan di sekitar juga hijau. Namun kondisi ini berubah ketika harus ada rintangan yang kami lalui, yakni sebuah kubangan lumpur yang di sambut dengan tanjakan terjal. Semua kisah berawal dari spot ini.

si "kebo" binal nya Anggit yang mengalami cedera :)
Mobil pertama yang notabene adalah pengurus dari area ini lancar masuk, mobil kedua masuk trek lancar, mobil ketiga masuk sudah harus ditarik dan yang paling yahud adalah mobil Anggit. Kerika harus melalui rintangan itu mobil agak kuwalahan untuk keluar dari kubangan lumpur. Alhasil arm powerstering nya patah dan mobil harus terseok-seok ketika di tarik melalui Tanjakan curam.

Ternyata tidak hanya sampai disitu petualangan yang kami harus hadapi. Karena arm powerstering nya patah sehingga setir sudah tidak bisa di control, alhasil walaupun ditarik juga kesusahan untuk membelok kan sang mobil mengkuti jalur yang harus di lalui.

Gelap Mulai Hadir
Gelap sudah hadir, sementara kami masih berusaha memperbaiki mobil supaya bisa di tarik menuju jalan raya. Akhirnya di putuskan di bongkar di area hutan dan dibawa keluar untuk di perbaiki di bengkel. Saya dan beberpaa teman yang ikut dalam trek itu menunggu di titik awal perjalanan tadi. Dan kira-kira sudah hampir tengah malam juga mobil berhasil di bawa keluar dan kami pulang menuju ke kota Tasikmalaya kembali. Benar-benar petualangan yang seru. Satu yang bisa saya tarik dari pelajaran hari itu adalah kebersamaan mereka dalam memecahkan masalah.

Pintu masuk Goanya masih Alami
Hari berikutnya Urug masih menjadi tujuan kami. Memang Wana wisata ini banyak sekali menyimpan potensi pariwisata yang belum terungkap. Alhasil sebuah informasi tentang goa yang ada di daerah itu membuat rasa penasaran kami mulai bergelora. Dengan di temani om Teguh dan seorang pengelola dari wana wisata urug ini, kami menjelajah memasuki goa yang terlihat jarang sekali di jamah manusia. Kami masuk kedalam goa dengan sudut kemiringan hampir 70 derajat, dan itu melewati rumpun bamboo yang tumbuh di mulut goa. Bagitu sampai di dalam goa banyak sekali kelelawar yang bergantungan disana, dan secara spontan indra penciuman saya langsung menangkap bau anyir yang keluar dari dalam Goa.

“kalau ada kelelawar dalam Goa itu artinya tidak akan ada ular disana mas”

ucapan yang keluar dari bapak yang mamandu kami adalah satu hal yang membuat saya tenang saat itu. Lumpur yang lumayan dalam harus kami lalui. PerjalanaN terus dilanjutkan hingga kami harus merunduk karena memasuki sebuah area yang sempit sekali, hingga kami harus berhenti di satu titik karena oksigen yang ada di dalam goa itu Semakin menipis.

jalur yang harus di lalui
Setelah memotret kondisi dalam goa itu kami pun bergegas kembali melalui jalur masuk tadi. Dan ketika sampai di titik awal rasanya plong sekali, tapi satu hal yang membuat saya penasaran adalah tentang beredarnya mitos bahwa di mulut goa itu setiap jam 11 siang sering terlihat seorang gadis cantik berseragam ala Jawa warna hijau…hmmmm.

Foto keluarga di dalam Goa
Tasikmalaya menyimpan banyak sekali potensi wisata dan budaya yang sudah selayaknya kita jaga. Kareba bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budaya nya bukan..

Perjalanan masih harus di lanjutkan. Tujuan dari laju roda team Lihat Indonesia selanjutnya adalah JOGJA.

SUGENG RAWUH WONTEN JOGJA..


Labels: ,