Tenun Sutera di Tengah Sawah, Lihat Indonesia Part2


Tenun Sutera Garut
Langit timur masih terlihat kemerahan, pagi terlihat masih berlumur embun. Sementara mentari  mulai membangunkan seluruh kehidupan di muka bumi ini. Garut pagi juga mulai menampak kan keriuhannya.

Sebuah bangunan tua yang menurut ceritanya di uri-uri sebagai cagar budaya menyambut kedatangan kami. Seorang pejabat dinas parisiwata menyambut kami di ruangannya. Sebentar diskusi dan mengutarakan niat kedatangan saya dan team kesini. Diskusi berlangsung cukup seru antara kami team Lihat Indonesia, Komunitas Taft Diesel Indonesia Chapter Garut dan Dinas Pariwisata dan kebudayaan Garut. Dari hasil diskusi ternyata banyak sekali objek-objek menarik yang masih belum terlalu banyak diketahui orang tersebar di seantero garut.

Bersama Dinas Pariwisata Garut dan Komunitas Taft Diesel Garut
Deretan larik-larik padi di sawah terlihat begitu hijau dan rapi. Kolam-kolam ikan juga tertata rapi berjajar di bawah rumah-rumah penduduk yang sengaja di buat semi panggung. Sebuah sanggar seni berdiri di tengah sawah. Terlihat sederhana namun karya-karya seni yang dihasilkan begitu membanggakan.

Bareng kang Endar
Kang Endar, sang pelopor tenun sutera Garut mengajak kami berkeliling workshop. "Tenun ini dulu adalah warisan keluarga". Kang Endar menjelaskan asal usul tenun garut ini. Yang membedakan tenun garut dan tenun-tenun yang tersebar di seantero negeri ini adalah motif dan bahannya. Tenun garut terbuat dari sutera. Dan motif-motif nya kebanyak unsur flora seperti bunga-bungaan dan jenis-jenis flora lainnya.

Galery dan workshop Tenun Garut
Sebuah ruang pamer juga menjadi sarana untuk memamerkan hasil-hasil kerajinan para pengrajin disini. Ada beberapa kelompok sebenarnya di desa Panawuhan ini. Kang Endar lah koordinator dari kelompok-kelompok tenun ini.

Banyak sudah desainer lokal yang datang ke workshop dan ruang pamernya kang Endar. Puluhan bahkan ratusan busana kelas atas juga sudah melenggang manis di berbagai peragaan busana di dalam dan luar negeri. Saatnya hasil karya anak negeri menjadi tuan rumah di negeri sendiri.


Labels: ,