Cerita akhir sebuah perjalanan di Wakatobi

Selamat Tinggal Kaledupa
Kaledupa masih terlelap, . Jalanan di depan penginapan masih terihat sepi. Bunyi langkah manusia di lantai rumah panggung ini juga masih belum terdengar. Namun saya sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatu di pagi buta seperti ini. Beberapa teman seperjalanan saya juga masih terlelap, mungkin mereka lupa bahwa kita akan berangkat meninggalkan pulau Kaledupa ini di pagi hari.
Ola sudah siap di depan penginapan bersama pick up kesayangannya. Pagi ini dia akan mengantarkan kami ke pelabuhan kapal cepat untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Wanci. Pelabuhan kapal cepat ini beda dengan pelabuhan kapal kayu tempat saya berlabuh sewaktu tiba di Kaledupa. Jaraknya dari penginapan agak lumayan jauh, dan matahari sudah menampak kan sinarnya. Pak supir terlihat tergesa-gesa mengemudikan mobilnya, Mungkin dia takut saya dan teman-teman ketinggalan kapal.

Sampai di pelabuhan, suasana terlihat begitu ramai, semua penumpang sudah mulai masuk ke dalam kapal cepat. Para pengantar juga ikut memadati area pelabuhan tersebut. Saya harus bergegas untuk membeli tiket supaya bisa langsung masuk ke dalam kapal yang ternyata menyediakan beberapa kelas yang berbeda.

Kapal Cepatnya kerenn
Saya memilih kelas AC karena ingin melanjutkan tidur selama perjalanan ke Wanci. Tapi ternyata saya malah gak bisa tidur. Seorang bapak yang saya termui sedang asik duduk di buritan kapal bercerita kepada saya. “ wah biasanya banyak lumba-lumba kita lihat pas mau ke wanci mas”, alasan inilah yang membuat saya merelakan tidak duduk manis di ruangan kapal berAC, dan rela duduk di buritan kapal berpanas-panasan bersama beberapa warga lokal.

Dan ternyata benar, sesaat sebelum kapal merapat di Wanci, banyak sekali rombongan lumba-lumba asik berenang dalam koloni besar. Mereka seolah riang tidak ada yang mengganggunya seperti di Lovina maupun teluk kiluan. Atraksi lumba-lumba di daerah tersebut sudah menjadi sebuah komoditi untuk industri pariwisata. Di laut Wakatobi ini mereka bebas berenang kemana saja, tanpa takut ada perahu-perahu yang mengejar mereka.

Jalan masuk ke bandara Matahora
Wanci hanyalah tempat saya singgah, sebelum melanjutkan perjalanan pulang menuju ke Jakarta esok harinya. Malam di wanci hanya saya habiskan bersama sahabat-sahabat baru saya di dive center. Mereka berceloteh banyak sekali tentang hal-hal lucu. Mulai dari bahagianya mereka ketika harus jadi dive buddy dari turis penyelam cewek yang cantik hingga spot-spot diving keren yang ada di periaran Wakatobi, ah semoga suatu saat saya bisa kembali kesini khusus untuk menyelam.

Pagi kembali hadir, semua sudah berkemas untuk meninggalkan Wakatobi. Sebuah detinasi wisata di Sulawesi tenggara yang seolah tidak akan pernah habis untuk di explore. Setibanya di Bandara Matahora sudah terlihat begitu ramai. Memang jumlah penerbangan dari dan menuju Wakatobi terbatas, hanya sekitar 2-3 kali seminggu. Karena itulah bandara ini hanya ramai di hari-hari tertentu saja. Setelah selesai chek in, saya tertarik dengan kios cinderamata yang ada di pojok ruangan bandara yang hampir mirip seperti rumah tinggal itu. Sebuah sarung tenun khas Wakatobi berhasil saya beli untuk melengkapi koleksi kain dari berbagai daerah di negeri ini.

And here we are..
Sejatinya perjalanan ini adalah perjalanan gratis dalam rangka event Indonesia Traveller, sebuah event yang kebetulan saya di tunjuk ikut serta sebagai panitia dan media partner. Kami berenam dikirim ke Wakatobi untuk mendokumentasikan segala keindahan dan kearifan lokal masyarakatnya. Sebuah video dukumenter harus kami bawa pulang untuk di perlihatkan kepada seluruh masyarakat dunia bahwa Indonesia itu tidak hanya Jakarta dan Bali saja. Kita punya banyak sekali keindahan lain, salah satunya di Kepulauan Wakatobi ini.

Ruang Tunggu bandara Matahora bersama Wira, Syraz dan sahabat baru Tati, Bunda Elis dan Asrul
Sedang asik-asik memilih kain, ternyata saya bertemu dengan sabahat-sahabat baru yang saya temui di Wakatobi. Tanpa bantuan mereka saya tidak mungkin bisa bercerita banyak tentang petualangan saya di pulau yang dulu namanya Tukang besi ini. Tati dan bunda Elis lah yang menyarankan saya harus menyeberang ke Tomia, sementara Event Organizer di Jakarta yang di tunjuk bertanggung jawab ternyata tidak bertanggung jawab, hingga akhirnya bunda Elis lah yang mengenalkan saya pada sosok pak Armin di pulau Tomia. Tati, Wanita yang bekerja jadi relawan di beberapa project berbasis masyarakat di Wakatobi ini juga lah yang berbaik hati mengantarkan saya berkeliling Liya Togo ketika saya baru mendarat di Wanci. Diantara mereka juga ada bang Asrul, Dive master yang menemani saya menyelami laut wakatobi waktu itu. Sedih rasanya harus mengakhiri Cerita perjalanan ini, tapi bukankah ada pertemuan pasti ada perpisahan?

Selamat Tinggal Wakatobi, Selamat tinggal kampung bajo, selamat tinggal taman laut yg indah. Undang saya untuk segera kembali memeluk keindahanmu, untuk segera menyelami titik-titik penyemalan terindah mu. Semoga.

DAN INILAH VIDEO YANG KAMI BAWA PULANG DARI WAKATOBI





Labels: ,