Cooking Experience with Chef Bara, #Keasinan


Foto Bersama. Photo by @indomielover
Masak…
Sebagai seorang pejalan dan anak bungsu laki-laki maka hal itu bukan sesuatu yang asing. Hampir setiap hari dulu saya harus membatu ibu di dapur karena kasihan melihat beliau sibuk sendirian di dapur. Secara tidaks engaja saya juga belajar berbagai hal tentang memasak dari beliau.
Pernah pada suatu saat dalam sebuah perjalanan saya harus berada di sebuah kampung adat yang notabene seluruh kampung mengkonsumsi Babi. Sementara di ajaran agama saya daging mahluk itu di haramkan. Mau tidak mau saya harus mempersiapkan makanan sendiri. Dengan bantuan trangia set yang biasanya saya bawa, masakan ala pejalan pun tersaji.
Menu olahan sendiri. Photo by @indomielover


Mendapat tawaran untuk ikut ke sebuah acara cooking experience with Bara dari seorang sahabat, hal pertama yang saya rasakan adalah bingung. Kenapa musti saya yang mendapat kesempatan itu. Dan bayangan saya langsung dibawa ke acara-acara memasak di televisi yang sebagian besar penggemarnya adalah ibu-ibu dan kaum wanita.
“peserta laki-lakinya gak saya aja kan?”
sebuah pesan singkat terkirim buat Sahabat yang mengundang saya ke acara tersebut.
“gak lah lang, banyak kok yang laen”
Jawaban singkat yang menenangkan.
Sebuah drama kecil terjadi pada sebuah pagi ketika saya hendak menuju ke lokasi acara. Menurut mbah Google maps lokasi acara itu ada di samping pasar raya grande blok M. sementara yang tertulis di email itu tidak jauh dari slipi petamburan. Gak tau kenapa saya lebih percaya ke google maps, alasan saya ini cukup beralasan, waktu saya tanya direction ke lokasi acara salah satu panitian juga tidak tau.
Setelah sampai di blok M saya kembali bertanya ke salah satu sahabat yang saya selalu percaya tentang peta Jakarta kepada dia. Bagi saya dia adalah peta online yang sangat efektif.  Alhasil saya harus kembali ke slipi petamburan lagi dan kemudian memakai jasa ojek karena waktu sudah melewati batas mulai acara.
Rupanya lokasi acara kece yang di helat oleh @Indomielovers dengan sandi acara #AsliCabeIjo ini tidak lah jauh dari lokasi pangkalan ojek, terdapat Rukan Permata Senayan Blok A/29. Jl. Tentara Pelajar – Patal Senayan. Bagitu sampai di lokasi acara sudah berlangsung. Saya langsung di tunjuk kan meja dimasa semua perlengkapan dan bahan-bahan masakan sudah siap. 
Suasana Masak bareng

Bingung pertama yang saya rasakan, ini kok seperti sebuah acara lomba masak di televisi. Untunglah Irene yang jadi partner masak saya memberitahu saya sesuatu setelah secara berbisik saya bertanya
“kita disuruh ngapain neh?”
Bara Pattirajawane yang biasa hanya bisa saya lihat di televisi sedang menjelaskan segala sesuatu tentang langkah-langkah dan tips memasak. Mulai dari cara mengetahui minyak dalam penggorengan sudah panas atau belum, cara mencicip yang benar agar terbentuk sebuah kombinasi rasa yang bisa membuat lidah menari ha ha ha.
Tibalah saaat yang di tungu-tunggu, yakni mulai memasak. Ketentuan dari panitia adalah satu orang memasak dan satu lagi ngetweet tentang acara tersebut. Seharusnya yang kebagian jatah live twitting adalah saya, namun karena dua handphone saya sudah terkuras energi nya untuk mengakses live google maps sewaktu menuju kelokasi tadi dan sinyal di lokasi tidak karuan juga akhirnya saya putuskan ngetweet nya ntar aja deh, sekarang fokus bantuin Irene yangs sedang masak sekerat ikan kakap.
Eva sedang berkeliling ke meja peserta
Ikan dimasak dengan cara di goreng dan di lumuri tepung dulu sebelumnya sehingga tercipta sebuah kerenyahan yang asik. Sangat cocok dengan lidah masyarakat Indonesia. Saus juga di siapkan.  Saus ijo yang terdiri dari beberapa racikan di campur dengan santan membuat saus ini beraroma dengan teksture rasa yang asik.  Nama menu yang tertera di resep adalah kakap goreng kuah santan cabe ijo. Namun kami di haruskan menamai masakan kami sendiri, alhasil terciptalah nama masakan kami yang kece ini dengan Kakap goreng dabu-dabu meleleh. Mengapa pakai nama dabu-dabu, karena dalam penyajian kakap goreng ini di kombinasikan dengan sambal dabu-dabu. Rasa yang renyah dari ikan kakap goreng di padu dengan rasa saus yang asik  dan makin terasa nikmat setelah disajikan dengan sambal dabu-dabu yang segar.
Kakap Dabu-dabu Meleleh ala chef Bolang dan Irene
Tibalah pada saat penyajian. Sementara Irene mempersiapkan penyajian saya sibuk membersihkan meja, karena item kebersihan jadi salah satu penilaian tersendiri. Bagitu waktu yang di berikan sudah habis tibalah saatnya penjurian. Chef Bara  berkeliling menicicipi semua masakan peserta. Begitu sendoknya mencicipi saus buatan kami dengan muka sedikit aneh keluarlah kata-kata manisnya.
“siapa yang mau kawin disini”
Jeng jengggggg, bagaikan petir disiang bolong kami dapat komen seperti, eh enggak ding biasa ajalah, kami cuma nyegir kuda doang dan penasaran apakah beneran keasinan masakan nya. Setelah nyicip sendiri ternyata gak asin-asin amat kok ha ha. Tapi yang di cari juri adalah kombinasi rasa yang pas, mulai dari asin, manis, asam nya. So mungkin memang masakan kami enak tapi kurang pas kombinasi rasanya itu tadi.

Pandan Pannacotta ala chef Bara
 Acara di tutup dengan sebuah puding lezat karya chef Bara. Pandan Panncotta, begitu puding ijo itu di sebut. Rasanya lezatttt sekali. Beneran lho sob, saya aja sampe nambah kok, *ilangin urat malu dulu kalau nemu yang enak-enak gini ha ha.
Sebuah acara masak yang biasanya saya lihat boring ternyata asik juga kalau di kemas dalam sebuah acara yang menarik. Saya mendapatkan sebuah pengalaman yang berbeda dari sekedar masak di dapur untuk menghasilkan menu tertentu. Banyak sekali tips yang di bagikan oleh chef Bara kepada semua peserta.
Masak yukkkkk!!!
Irene partner saya masak kakap meleleh ini. Photo by @indomielover

Lelehannya dahsyat

Ada +Dina Rosita VagabondQuest 
 

Labels: