Selamat Tinggal pulau Banyak [Pulau Banyak Explore part #5]


Selamat tinggal pulau Banyak, saya pasti kembali
Kapal-kapal nelayan terlihat sibuk merapat ke dermaga-dermaga kecil di samping sebuah pasar tradisional kecil yang hanya buka tiap hari rabu. Beberapa nelayan juga memperlihatkan muka bahagia sambil bersiul kegirangan, sementara di kejauhan tak jarang pula mereka menampak kan buka kurang bahagia, mungkin hasil tangkapan mereka tidak banyak.
Mentari pagi masih berlindung di balik awan. Semburat merahnya memantul dari dalam gumpalan-gumpalan awan di ufuk timur. Karamba-karamba ikan yang berada di depan saya juga terlihat diam membisu. Damai sekali laut singkil pagi itu.
Pagi di pulau Balai
Pagi datang mengiringi derap langkah kehidupan masyarakat di pulau Balai. Semua terlihat mulai mempersiapkan kegiatan rutinitas mereka sehari-hari. Para ibu rumah tangga juga terlihat membersihkan pekarangan rumah-rumah meraka sementara suaminya bersiap untuk beristirahat setelah semalaman mencari ikan di luat. Seperti itulah rutinitas keseharian mereka berada di pulau kecil seperti ini. Namun kedamaian yang tercipta di pulau ini membuat saya iri.
Ini adalah hari terakhir saya berada di pulau Balai. Hari terlihat mulai terang dan saya juga harus bergegas kembali ke penginapan untuk berkemas dan segera menuju dermaga Ferry untuk berlayar menuju daratan singkil. Citra mulai mempercepat langkahnya, sementara saya masih asik menikmati setiap sudut pulau Balai ini.
“foto dulu sini sama bapak”
Bapak pemilik penginapan “putri” yang saya tinggali selama di pulau Balai mengajak saya berfoto bersama di depan penginapan nya. Setelah berfoto bareng saya kembali bergegas menggendong carrier saya berjalan menyusuri jalanan kecil pulau Balai untuk sampai ke pelabuhan Ferry. Tidak jauh sebenarnya jarak tempuh dari penginapan ke pelabuhan, tapi karena siang itu begitu terik rasanya berat sekali kaki ini melangkah ha ha.
Penginapan Putri
KM.TELUK SINGKIL begitulah kira-kira yang saya baca tulisan di lambung kapal ferry ini. Kapal ini melayari Singkil-pulau Balai hanya sekali seminggu. Yaitu berangkat dari Singkil tiap hari rabu dan balik lagi ke Singkil tiap hari kamis. dengan kecepatan rata-rata kapal ini biasanya menempuh rute pulau Balai – Singkil sekitar 4 sampai 5jam perjalanan.
Suasana kapal terlihat ramai sekali. Ada beberapa ruangan yang tersedia buat penumpang. Tersedia juga ruang lesehan selain bangku-bangku yang terhampar untuk tempat duduk penumpang. Klakson kapal sudah berbunyi itu tandanya kapal akan segera di berangkatkan, dan benar sekali ternyata, tidak selang berapa lama kapal mulai melayari rute Pulau Balai – Singkil.
Tempat duduk di kapal
Deru mesin kapal merang di angkasa perairan pulau Banyak. Sementara itu diantara awan berarak terlihat langit biru yang mempesona. Di kejauhan pulau-pulau kecil juga masih memancarkan daya tariknya. Seorang bocah kecil menghampiri saya dan kami pun terlibat dalam sebuah obrolan. Dia ingin ke Singkil karena ingin menemui temannya dan berangkat bersama bapaknya.
Daratan singkil sudah mulai terlihat, pertanda kapal akan segera merapat ke dermaga, Citra masih terlihat lelap dalam tidur nya. Beberapa penumpang sudah mulai bergegas mengemasi barang bawaan nya, bahkan beberapa sudah hilir mudik turun ke lambung kapal agar ketika pintu kapal dibuka mereka bisa segera keluar dari kapal.
Dermaga Ferry Singkil
Sebuah mobil kijang ternyata sudah menunggu kami di dermaga pelabuhan ferry Singkil. Memang sebelum berangkat dari pulau Balai kami sudah memesan travel untuk kembali ke medan, dan jemputan dari pelabuhan ke agen travel ini adalah pelayanan yang termasuk dalam harga tiket yang kami beli.
Setelah memesan bangku dan mengisi perut di sebuah warung di dekat agen travel, saya tertarik dengan semburat merah langit yang ada diatas saya. Saya harus kembali lagi ke dermaga pelabuhan untuk menikmati sunset yang pasti akan terlihat mempesona itu. Namun rasa lelah dan capek ternyata membuat hasrat memotret saya petang itu surut. Saya hanya menikmatinya dari sebuah café kecil di pinggir pantai sambil ditemani kelapa muda. Langit terlihat begitu membara senja itu.
Senja membara di Singkil
Tepat pukul 20:00 travel yang akan membawa saya ke medan mulai berangkat. Pak Sopir terlihat begitu cekatan mengemudikan mobil kijang yang pernah jaya pada masanya dulu ini. Para penumpang sudah mulai larut dalam tidur nya, tak terkecuali Citra, dia terlihat sudah lelap dalam mimpi-mimpi indahnya tentang pulau Banyak mungkin.
Tepat pukul 03:00 saya sampai di Brastagi, karena ada perubahan rencana dan saya ingin menikmati dinginnya Brastagi dan indahnya air terjun sipiso-piso maka saya akan turun di Brastagi dulu. Travel mencarikan saya penginapan yang masih membuka pintunya. Alhasil dapatlah sebuah penginapan yang sudah tertutup pintunya namun lampu-lampunya masih menyala. Kami memberanikan diri mengetuk pintu pagar, hingga seorang petugas keamanan keluar membukakan pintu kepada kami.
Setelah nanya-nanya soal harga ternyata penginapan ini bertarif 250rb permalam. Rasanya sayang banget mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah ruangan yang akan kami gunakan untuk tidur paling lama 2jam, karena saya akan melanjutkan perjalanan menuju ke airterjun sipiso-piso. Selain sebagai tempat tidur tentu sebagai tempat menyimpan barang bawaan kami yang terlihat merepotkan jika harus dibawa ke sipiso-piso.
Bukannya menyambut dengan ramah, si ibu penginapan malah memarahi kami dan katanya kalau kami jadi menginap pun akan ada biaya tambahan karena sudah membangunkan dia pagi dini hari begitu, saya yang shock dengan peraturan penginapan super aneh itu langung berpamitan dan mencari penginapan lain. Alhamdulillah pak supir punya informasi tentang penginapan murah, dan setelah melihat kamar dan harganya kami cocok. 100ribu/malam, dan tidak perlu waktu lama setelah melatakan barang bawaan saya merabahkan diri sembari berucap janji "saya harus kembali lagi ke pulau Banyak" dan langsung terlelap.


Penginapan Putri

Dermaga Ferry Singkil aduhai sekali

Pulau-pulau menebar pesona dilihat dari buritan kapal ferry

Lesehan

Labels: ,