Palambak, urga bagi pemburu pantai sepi [Pulau Banyak Explore part #4]


Palambak
Pagi kembali hadir, dan matahari pagi sudah memecah keheningan pagi yang terjadi di sebuah pulau kecil. Seorang bapak-bapak yang saya taksir usianya sudah sangat renta beringsut mendekati saya. Sejenak saya memperhatikan dari ujung kaki hingga kepalanya. Sedikit curiga menghantui benak saya, namun begitu saya melemparkan senyum beliau membalasnya dengan senyuman yang begitu menentramkan.
“Selamat pagi pak, saya tekno dari Jakarta” sapa saya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat kepada beliau ketika kedua tubuh kami sudah berdekatan.
Sambil berjabat tangan keluar sebuah kalimat yang hingga saat ini jika teringat saya selalu tersenyum.
“itu kawan mu perempuan ya?” kata seorang bapak yang masih mengenakan sarung sambil menunjuk citra yang mengenakan jaket merah di kejauhan.
“Bukan pak itu kawan saya laki-laki” jawab saya sambil memanggil citra untuk mendekat.
Pagi di Palambak
Kami bertiga terlibat dalam sebuah obrolan yang hangat. Bapak ini adalah penjaga pulau Palambak ini. Beliau tinggal di sebuah pondokan yang di bangun dari bahan-bahan seadanya. Bangunan itu terletak di pinggir sebuah rawa yang berair coklat. Sehari-hari beliau tinggal di pulau ini berteman sepi dan dinginya angin laut. Sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa. Namun bagi saya beliau beruntung, tidak pernah mengalami kemacetan, kebisingan kota bahkan polusi yang membuat umur kita semakin berkurang.
“apak ke pondok dulu yo” pamit beliau dengan bahasa minang yang fasih.
Kami pun kembali berjabat tangan dan membiarkan sosok renta dengan kain sarung lusuhnya itu menghilang ke dalam sebuah pondok sederhana di pinggir telaga. Asap terlihat mengepul keluar dari atap pondoknya yang terbuat dari daun ilalang. Saya kembali meneruskan menikmati indahnya pagi di pulau Palambak. Sementara citra berpamitan untuk berkeliling pulau.
Rawa di samping pondokan si bapak penjaga pulau
Pulau ini dulunya ramai sekali. Menurut kabar banyak sekali turis mancanegara singgah dan tinggal di pulau ini. Namun karena konfilk Aceh dan bencana Tsunami mengakibatkan kunjungan wisatawan berkurang drastis. Akibatnya beberapa penginapan/cottage yang di bangun oleh BRR di ujung pulau terlihat lapuk tak terawat. Hanya Lylla cottage ini saja yang masih bertahan. Itu pun kabarnya akan segera di jual oleh sang pemilik lyla bungalow, Bang Erwin.
Pagi sudah beranjak, matahari mulai meninggi. Pucuk-pucuk kelapa terlihat seperti sedang bersendau gurau tertiup angin. Langit juga terlihat sedang bercengkrama dengan awan. Sementara air laut tidak mau kalah, riak-riak ombak kecil di kirimkan untuk mencumbu bibir pantai yang bersih. Sebuah pemandangan pagi yang indah dan menyatu dalam sebuah bentang cakrawala yang indah.
Di depan tenda
Saya kembali ke tenda, menyiapkan menu sarapan. Pagi ini adalah pagi terakhir kami di perairan pulau banyak. Sementara perbekalan camping masih melimpah. Masih ada beberapa bungkus mie instan dan 2 kaleng kecil ikan sarden. Saatnya berpesta. Semua makanan sisa kami masak. Setelah semua matang kami agak kuwalahan menghabiskan semua makanan itu. Citra terlihat begitu lahap menyantap menu pagi seadanya itu. Secangkir milo panas melengkapi menu sarapan di pagi yang indah itu.
Menu sarapan pagi
Setelah sarapan saya kembali mengitari pulau. Awan-awan putih terlihat berarak. Laut terlihat begitu berkilau memantulkan cahaya matahari. Ombak-ombak kecil seolah berlari menuju bibir pantai melewati pantai dangkal yang berair jernih. Pohon-pohon kelapa menjulang tinggi diangkasa seolah sedang menikmati hangatnya matahari pagi.
“Bang saya keliling pulau dulu ya”
Citra kembali berpamitan untuk berkeliling pulau. berbekal snorkle  set saja, dalam hitungan menit dia sudah menghilang di balik pohon-pohon kelapa di pantai ini.
Palambak indah di setiap sudutnya
Saya kembali menyusuri keindahan-keindahan itu seorang diri. Setelah puas berkeliling menikmati indahnya pulau saya kembali ke tenda. Ternyata Citra belum ada disana. Saya menunggunya sambil merebahkan diri kedalam hamock, dan tertidur. Begitu terbangun saya melirik jam di ponsel saya ternyata saya sudah tertidur hampir 2 jam. Dan saya lihat sekeliling ternyata sepi. Tidak tampak siapapun disana, tak terkecuali citra. Nah dimana ini anak ya, apakah dia sedang tersesat atau mengalami suatu hal yang tidak diinginkan di laut sana.
Benak saya mulai khawatir, mau menyusul takut kami berlawanan arah, dan Palambak besar bukanlah pulau yang kecil bisa di kelilingi dalam waktu satu jam an saja. Saya mencoba mencarinya hingga pondokan si bapak penjaga pulau, namun saya ragu takut kami berselisih jalan karena Citra memutari pulau, akhirnya saya kembali ke tenda menunggu citra disana sambil berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengannya. Alhamdulillah Citra akhirnya muncul dengan senyum culasnya ha ha.
Perahu Bang Sam
Bunyi musik dangdut melayu kembali meraung-raung di udara, itu tandanya bang Sam akan segera tiba di pulau ini. Saya kembali menyiapkan segala hal untuk dikemas. Semua barang-barang saya kemasi dalam waktu singkat. Tak selang berapa lama bang Sam sudah mendarat ke pulau Palambak besar tetap dengan musik aduahainya, namun kali ini beliau tidak sendiri. Seorang bocah menemaninya.
Setelah semuanya terangkut kedalam perahu mungil itu, kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Pulau Palambak seolah enggan kami tinggalkan. Saya sengaja meminta bang Sam untuk sedikit memutar pulau, dan beliau menyetujui pinangan saya. Perahu odong-odong bang Sam masih meraung-raung di hamparan pantai dangkal pulau palambak besar.
Palambak Kecil
Pulau Palambak kecil menjadi tujuan haluan perahu bang Sam. Pulau nya sendiri tidak sebesar dan seindah pulau palambak besar. Kami tidak singgah ke pulau itu karena saya pikir akan eksplore pulau-pulau indah lainnya. Perahu bang Sam hanya mendekat kearah pulau saja, namun tidak merapat.
Perjalanan kembali melewati pulau Rangit, kebetulan air sedang surut dan pantai-pantainya berkontur bebatuan maka perahu bang Sam tidak berani merapat, takut lambung perahu mengantuk salah satu bebatuan tajam disana dan bocor. Saya hanya bisa menikmati keindahan pulau rangit dari atas perahu.
Pulau Rangit
Namun penantian saya akhirnya berujung bahagia, setelah melewatkan dua pulau yang tidak kami singahi, akhirnya saya menemukan sebuah surga kecil terletak tidak jauh dari pulang Rangit. Surga kecil itu adalah pulau Malelo. Setidaknya begitulah yang saya dengar dari mulut bang Sam. Dulu pulau ini di tumbuhi oleh pepohonan hijau, namun gempa nias pada tahun 2005 silam sudah menegelamkan pulau ini. Jika pasang pulau kecil pasir putih ini tertutup air laut, sedangkat jika surut terlihat betul keindahan pulaunya.
Saya meminta bang Sam untuk memutari pulau sekali lagi. Saya benar-benar di buat takjub denga keindahan maha sempurna di hadapan saya ini. Sebuah pulau kecil yang tandus, berpasir putih dan berair sebening kristal terhampar di hadapan saya. Sebuah pesona alam yang jarang saya temukan.
Malelo yang menawan
Perahu merapat ke salah satu sisi pulau kecil itu. Mungkin tidak tepat jika di sebut pulau, karena hanya gundukan pasir yang akan tenggelam jika laut sedang pasang. Beberapa bangkai pohon terlihat meranggas masih berdiri tegak diatas pasir pulau. Deburan ombak kecil sesekali menghiasi pasir putihnya yang bersih. Sementara itu langit juga terlihat begitu cerah di hiasi dengan arak-arakan awan. Matahari bersinar begitu teriknya siang itu. Bentang cakrawala keindahan yang terbentuk terlihat begitu manakjubkan.
Berjemur katanya
Citra bergegas menceburkan dirinya ke laut dangkal. Sekedar berenang-renang terlihat dia sangat menikmati sekali keindahan pulau itu. Sementara bang Sam seperti biasa setelah menurunkan kami dipulau beliau parkir perahunya agak ketengah laut, kelihatannya sembari memancing ikan. Saya sendiri sibuk dengan angle-angle indah fotografi saya. Dari sudut manapaun saya rekam pulau kecil ini kedalam lensa kamera saya, semua terlihat begitu memepsona.
Puanas tapi bagus
Panas terik rupanya satu hal yang mengusir saya dari pulau kecil nan indah itu. Bayangkan saja berada di sebuah pulau kecil di tengah laut tanpa ada pohon tempat berteduh satu pun. Rasanya seperti terpanggang di bawah sinar matahari langsung. Sudah cukup lama rasanya kami berada di pulau itu. Sinar matahari yang menyengat juga sudah puas membakar kulit kami yang sudah mulai menghitam. Dan kami pun harus melanjutkan perjalanan.
Perahu odong-odong bang Sam kembali mengarungi perairan pulau banyak. Pulau Panjang ada di hadapan kami. Pulau ini juga masih berupa kebun kelapa. Mengapa di sebut pulau Panjang karena bentuknya memanjang. Perahu merapat ke salah satu sisi pulau. Sangat kontras sekali dengan pulau Malelo yang barusan saya datangi. Di pulau panjang ini terasa rindang sekali karena banyak pohon kelapa disana. Kami menggelar menu makan siang yang di bawakan bang Sam tadi. Tetap dengan menu nasi putih sayur dan beberapa kerat ikan asin balado.
Pulau panjang
Kali ini saya yang terlihat lahap sekali melumat makanan itu masuk ke dalam perut. Rasa lapar begitu mendera, ditambah lagi dengan pemandangan yang super indah dihadapan saya, nafsu makan makin meningkat. Walau cuma berlauk beberapa kerat ikan asin, makan siang di pulau panjang ini terasa begitu nikmat.
Pantai-pantai yang ada di pulau panjang ini betul-betul indah, dan panjang. Rasanya mnarik sekali untuk di jelajahi. Saya dan citra mulai berjalan menyusuri pantai, sementara perahu bang Sam sudah terlebih dahulu berada di depan kami. Setelah capek dan cuaca juga sudah mulai terik, maka kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan. Pulau di depan pulau panjang ini juga terlihat begitu mempesona untuk di jelajahi. Saya memberi komando kepada bang Sam untuk membawa perahu ke arah pulau Tapus-tapus. Bentuknya hampir menyerupai pulau panjang. Jajaran pohon kelapa terlihat begitu rapat disana. Pantai-pantai yang terbentuk oleh alam juga terlihat begitu indah. Semua pantai-pantai pasir putih yang ada dipulau Banyak ini bersih dan putih. Bagi saya pecinta pantai sepi, ini adalah surga tempat saya bertetirah.
Pulau Rangit
Sembari pulang menuju pulau Balai perahu melipir ke pulau Baguk. Pulau ini sangat berdekatan sekali dengan pulau Balai. Kami mengelilingi pulau ini. Diujung pulau terlihat ada mercusuar kecil yang memandu kapal-kapal yang hendak berlabuh ke dermaga pulau Balai. Selain kapal Ferry setiap hari rabu dan jumat, banyak sekali kapal-kapal ikan besar yang berlabuh disini. Terlihat dermaga pulau Balai ini juga sedang di bangun, mungkin di perbesar supaya lalu lintas kapal berjalan lancar. KMP Teluk Singkil yang akan membawa saya menuju singkil besok pagi  terlihat sudah merapat di dermaga.
Barang bawaan sudah turun semua dari perahu. Bang Sam berpamitan kepada kami. Berkat jasa beliau dengan perahu odong-odongnya saya bisa menikmati indahnya pulau-pulau kecil di perairan pulau banyak. Setelah berjanji jika ke Pulau Balai lagi akan menghubungi beliau untuk meminangnya menjadi discjokie lagi di perahunya, tapi dengan lagu-lagu yang sudah saya siapkan terlebih dahulu di sebuah media pemutar lagu tentunya. Terima kasih bang Sam atas bantuannya. Beliau melambaikan tangannya sembari mengemudikan perahunya menjauhi saya.
Kembali ke Pulau Balai
Sore masih terasa terik, para pekerja pembangunan pelabuhan masih terlihat bercucuran keringat. Tuntutan kebutuhan hidup menjadi penyemangat mereka melakukan perkerjaan ini. Saya dan Citra berjalan beriringan menuju ke penginapan putri yang terletak tidak jauh dari dermaga, namun dengan barang bawaan banyak dan berjalan di tengah terik matahari terasa lumayan juga perjalanan ini.
Setelah meletak kan semua barang bawaan di kamar, saya bergegas keluar penginapan kembali untuk berburu spot menikmati matahari tenggelam. Melompat dari satu batu ke batu lain mulai dari dekat dermaga hingga akhirnya saya menemukan spot paling yahud di dekat bangunan-bangunan sekolah yang sudah terbengkalai. Dari sana saya bisa menikmati indahnya matahari tenggelam pulau Balai dengan jelas. Bangkai pohon-pohon kelapa yang meranggas terlihat begitu cantik dibalut dengan rona senja yang terlihat membara petang itu.
Senja di pulau Balai
Senja cepat sekali berlalu, dan malam kembali hadir memeluk setiap insan penghuni pulau. Saya dan citra meraba-raba mencari jalan pulang, karena kami kemalaman berada di spot sunset itu dan parahnya lagi tidak membawa penerangan sama sekali. Tapi dari sisi petualangan, ini lah yang kami cari ha ha.
Sampai di penginapan saya menyantap makan malam yang disiapkan oleh penginapan. Makan malam dengan ikan kuah sungguh menggugah selera sekali. Kami berdua terlihat begitu lahap menyantap hidangan yang ada dimeja makan. Pak Putri pemilik penginapan hanya tersenyum melihat tingkah polah kami makan seperti sudah tidak makan selama beberapa hari saja. Setelah kenyang tiba-tiba kantuk mendera. Kembali ke kamar dan tidur adalah pilihan yang bijaksana. Dan terlelaplah kami, mengenang kembali hari-hari yang sudah kami lalui di sebuah daerah yang terletak diujung pulau sumatra ini.
masih senja di pulau Balai
Daerah yang seharusnya menjadi destinasi wisata menarik bagi para pejalan yang mendambakan pantai-pantai bersih yang sepi. Daerah yang seharusnya bisa membantu masyarakatnya menikmati  hasil dari pariwisatanya, bukan hanya sebagai penonton di rumahnya sendiri. Ah angan saya mungkin terlalu tinggi, tapi semoga Tuhan memeluk angan dan harapan saya. Pulau banyak terlalu sempurna untuk tidak di jelajahi.

Tenda di teras bungalow

Lylla Bungalow

Amazing Palambak











Pulau Panjang

Pulau Panjang


Lylla Bungalow Palambak

Palambak lagi


Palambak

Pulau Panjang

Pulau Panjang

Pulau Panjang
Karena ini blog pribadi saya boleh dong narcis dikit ha ha


Labels: ,