Pulau Seribu, Camping di pulau Hiu

Yapppp Pulau Seribu lagi
Deretan Pulau-pulau kecil di utara Jakarta itu selalu menyihir saya untuk datang menyelami keindahannya. Hembusan angin laut yang menentramkan di timpali oleh riak-riak kecil ombak yang bersahut-sahutan semakin membuat jiwa ini terasa damai. Belum lagi panorama yang terpampang di depan mata, Laut biru, pasir putih dan langit yang terlihat sempurna.


Pagi masih terasa dingin ketika saya menginjak kan kaki di pelabuhan Muara angke. Ternyata para sahabat saya yang berjanji akan bersama-sama berpetualang di pulau seribu belum ada yang terlihat. Sedikit panik ketika seorang bapak berteriak bahwa kapal yang ke pulau Kelapa akan segera berangkat, itu artinya kami akan terlambat dan  ini tidak akan pernah terjadi.

"Tuhan selalu menolong para pejalan" kata-kata itu selalu saya pegang ketika saya dihadapkan oleh sebuah  persoalan yang timbul ketika saya sedang dalam perjalanan.

"Mas tekno udah dimana?" sms dari mas Basit membuyarkan lamunan saya.

"Udah di angke mas, tapi anak-anak belum pada nyampai, kapalnya udah berangkat lagi" sms balasan yang saya kirimkan.

Gak papa mas, ikut kapal dolphin aja, aku udah bilang sama orang kapalnya" jawaban yang menenangkan.

Akhirnya saya mencari keberadaan kapal Dolphin. Sejatinya kapal ini adalah kapal charter yang sudah di sewa oleh beberapa travel agent untuk mengangkut penumpangnya. Dan semua penumpangnya adalah mereka yang sudah mendaftar di beberapa travel agent tersebut.

Satu persatu geng kluyuran saya menampak kan muka nya, hingga akhirnya lengkaplah kami sesuai rencana. Ketika kapal mau berangkat petugas mengecek data penumpang sesuai  daftar penumpang. Masalah timbul ketika mereka bertanya, kami dari travel agent mana.

" Kalau tidak ada di daftar penumpang silahkan turun kapal mas, soalnya kalau di cek sama petugas nanti kapal gak boleh berangkat" kata petugas kapal

Hadeuhhh cobaan apa lagi ini. Susah payah saya telepon mas Basit, karena beliau lah yang menyuruh saya untuk naik kapal ini. Beberapa kali mencoba telepon tapi tidak diangkat sama beliau. Akhirnya setelah sekian panggilan beliau angkat juga. Hingga akhirnya saya kasih ponsel saya ke petugas kapal dan mereka terlihat berbincang agak serius.

Untunglah akhirnya kami di perbolehkan ikut menumpang kapal ini. Mas Basit adalah pemilik kapal yang sering kami sewa di pulau Harapan. Ternyata ketika beliau tahu kami ketinggalan kapal langsung mendaftarkan kami kepada pemilik kapal dolphin. Tapi ternyata petugas kapal yang Muara Angke belum update daftar penumpang. Syukurlah, menjadi pelajaran berharga buat saya.

Empet-empet an
Suasana kapal terlihat penuh sesak. Kami sudah seperti para manusia kapal yang hendak menyeberang ke sebuah negeri mencari suaka. Beberapa penumpang asik dengan bacaan dan music melalui player-player mungil mereka. Deru mesin kapal semakin memekak kan telinga. Akhirnya kami sampai juga di pulau Harapan setelah hampir sekitar 3-4 jam menempuh perjalanan laut dengan kapal kayu yang sering disebut sebagai ojek kapal oleh masyarakat kepulauan seribu.

"Ke pulau Hiu aja mas, pulau nya bagus buat camping"  kata salah satu anak buah mas Basit yang mengantarkan kami. Dalam perjalanan menuju pulau Hiu kami mampir ke pulau Kayu angin bira yang terlihat makin mempesona. Keberadaan bentuk pantai pasir putihnya selalu berubah ketika saya datang. Hal ini dipengaruhi oleh keberadaan musim angin laut.





Pulau Kayu Angin Melintang
Puas bermain-main di pulau indah itu, kapal mengantarkan saya ke beberapa spot snorkling hingga akhirnya sampai di pulau Hiu yang akan menjadi tempat kami bermalam. Pulaunya sendiri lumayan besar, masih terlihat jejak-jejak reptile di pasir putihnya yang lembut. Lokasi kami mendirikan tenda sangat indah sekali, dari satu lokasi tersebut kami bisa menikmati indahnya sunset dan sunrise.

Sunset yang hadir terlihat begitu sempurna. Semburat senja nya seolah menyapa kami dengan senyum indahnya. Pantulan cahaya nya di lautan semakin membuat suasana seperti itu sayang untuk dilewatkan.



Malam mulai hadir, Cumi segar yang tadi kami beli dari nelayan pemancing cumi terlihat begitu menggoda. Menu cumi tumis dan goreng menjadi santapan malam yang lezat ditemani oleh ribuan bintang dan hembusan angin laut. "Nikmat mana lagi yang engkau dustakan kawan".

Cuasa malam begitu indah, rasanya sayang jika harus tidur dalam kungkungan tenda. Akhirnya kami semua tidur di luar tenda. Diatas pasir putih beratapkan ribuan lampu-lampu Tuhan yang terlihat begitu mempesona.

Malam yang Sempurna
Pagi yang damai
Pagi hadir, Damai masih menyelimuti kami pagi itu. Rasanya enggan sekali beranjak dari tempat tidur yang terasa nyaman. Beberapa sahabat sibuk mempersiapkan menu sarapan kami. Nasi goreng, telor dadar, indomi rebus, puding mangga, kopi dan teh, wah menu sarapan yang lengkap sekali ha ha, menikmatinya di sebuah tempat yang terasa begitu damai oleh buaian angin laut yang sepoi-sepoi berhembus.

Siang kembali hadir, dan kami harus segera berkemas, karena kapal yang akan membawa kami pulang ke Muara angke bertolak dari pulau Harapan pukul 13:00. Dalam perjalanan pulang kami sempat mampir ke beberapa pulau kecil. Diantaranya adalah pulau Kayu angin Melintang dan pulau Bulat, di pulau Bulat ini ada sumber air payau yang bisa kami pergunakan untuk membilas badan dari asin nya air laut.

Masih desak-desak an di kapal waktu pulang
Tepat pukul 13:00 kapal Dolphin bertolak meninggalkan pulau Harapan. Para penumpang masih seperti kemarin, desak-desakan berbagi tempat dengan penumpang lain. Seandainya saja ada kapal yang representatif untuk mengangkut penumpang menuju ke kepulauan seribu, pasti potensi wisata yang ada disana benar-benar bisa di maksimalkan demi kesejahteraan masyarakat setempat. Semoga.

Silahkan kontak mas Basit jika ingin mengunjungi keindahan pulau-pulau diatas.
Telp mas Basit : 087883008670

Labels: , ,