Gak pernah bosan ke Jogja

Kereta Ekonomi Gajah Wong yang lumayan Nyaman
"Pak kalau kereta Gajah Wong yang ke Jogja di Jalur berapa ya?" beberapa kata yang keluar dari mulut saya itu seolah mengusik keasikan petugas keamanan stasiun senen pagi itu.

"Di jalur selatan pak, bapak salah masuk ini, pindah ke Jalur Selatan terus nanti tunggu aja keretanya datang" dengan ramah petugas keamanan stasiun itu menjawab beberapa pertanyaan yang ada di otak saya.


Bergegas saya menuju pintu sebelah yang bertuliskan JALUR SELATAN. Melalui sebuah terowongan kecil  akhirnya saya mulai berdesak-desakkan dengan beberapa penumpang lain yang juga menunggu kedatangan kereta api ekonomi AC GajahWong ini.

Tidak selang berapa lama kereta yang di tunggu-tunggu pun datang. Teriakan petugas di suara pengeras bertalu-talu mengabarkan bahwa kereta api GajahWong jurusan Jogja sudah masuk ke jalur selatan.

Kebiasaan orang Indonesia tercinta ini, pintu aja belum dibuka sudah dorong-dorongan untuk masuk kedalam kereta. Padahal tiket kereta ini di jual hanya untuk penumpang duduk saja, itu artinya semua bakal kebagian tempat duduk, tapi kenapa harus desak-desak kan seperti itu ya. Hal sama juga saya sering jumpai di perjalanan dengan menggunaan pesawat udara. Begitu roda pesawat Menyentuh Runway semua penumpang sibuk berdiri dan berdesak-desak kan di dalam kabin. Padahal pesawat aja belum berhenti dengan sempurna, tapi ya itulah keberagaman Indonesia he he.

Saya bersebelahan dengan seorang wanita berkerudung. Sementara di depan saya seorang lelaki paruh baya bersebelahan dengan seorang wanita yang sekilas mirip sekali dengan mabk Nunung OVJ. Semula saya berfikir mereka suami istri, namun ternyata setelah obrolan mengalir ternyata kami berempat tidak ada yang kenal satu sama lain sebelumnya. Tapi gak sampai berapa lama perjalanan semua sudah terlihat begitu akrab satu sama lainnya. Bermacam ragam jenis candaan muncul diantara kami.

Kereta GajahWong ini lumayan nyaman, Kondisi gerbongnya yang bersih. Toilet nya bersih serta pastinya dingin karena ber-AC. Berbagai upaya PT. KAI patut diacungi jempol. Seperti hadirnya kereta ekonomi AC ini yang banyak menjadi alternatif moda transportasi bagi kalangan menengah kebawah. Selain itu untuk mendapatkan tiketnya pun sekarang makin dipermudah. Bisa memesan di call center kemudian membayarnya di ATM, dan yang paling baru dan paling simple sekarang adalah memesannya di gerai-gerai Swalayan seperti Indomaret dan Alfamart.

Kereta terus melaju, Hijaunya persawahan menghiasi sepanjang perjalanan. Beberapa kali saya melihat seorang petani sedang sibuk membajak sawah nya dengan mesin pembajak. Rasanya tehnologi pertanian sudah bisa mereka manfaatkan. Padahal saya rindu sekali melihat petani membajak sawahnya dengan bantuan tenaga sapi maupun kerbau. Sementara di beberapa tempat juga terlihat para petani sedang memanen hasil sawah mereka. Semua terlihat begitu gembira menjalan kan peran nya sebagai petani yang menjadi tulang punggung per-beras an nasiona.

Rasa kantuk mendera karena memang saya belum tidur semalaman. Tiga sahabat saya juga sudah terlihat lelap dalam tidurnya. Meski mencoba untuk ikut terlelap tapi tidak tau kenapa saya susah memejamkan mata. "Menyusuri koridor gerbong demi gerbong kayaknya seru neh" benak saya berfikir. Tidak perlu menunggu lama saya sudah hinggap dari satu gerbong ke gerbong lainnya, hingga akhirnya mendarat di gerbong restorasi. Semangkok soto hangat dan secangkir kopi menemani perjalanan kali ini. Asik juga ternyata menyantap makanan di gerbong resorasi ini. Hamparan keindahan bisa saya nikmati sembari menyantap menu makan siang saya. Semua tersaji begitu indah.

Jogjaaaaaaa
Tepat pukul 16:00 kereta memasuki stasiun Tugu yang merupaka pemberhentian terakhir kereta ini. Menurut keterangan dari petugas restorasi kereta ini berangkat dari stasiun Lempuyangan namun jika dari Jakarta pemberhentian terakhir adalah stasiun Tugu.

Saya berpisah dengan sahabat-sahabat baru saya di stasiun ini. Jalan Dagen adalah tujuan saya, berharap menemukan penginapan murah disana. Namun ternyata di luar dugaan. Saya baru sadar ketika itu bahwa saya sedang berada di musim liburan sekolah. Sehingga susah sekali mendapatkan penginapan. Setelah dari ujung ke ujung Dagen saya tidak menemukannya, saya berpindah ke jalan Sosrowijayan. Semua juga penuh, tapi untunglah ada hotel yang masih kosong. Meski harganya sedikit mahal buat saya saat itu, tapi kantuk sudah mendera dan saya harus segera memejamkan mata barang sesaat supaya segar kembali.

Penat masih belum hilang ketika pintu kamar di ketuk sesorang. "Mas tukang pijat pesanan nya dah ada neh" Kata mas hendra petugas hotel. Yess setelah kecapekan dan ngantuk, akhirnya saya bisa merebahkan diri sambil di pijat lagi, "nikmat dunia mana lagi yang bisa kamu dustakan sodara-sodara" he he.

Akhirnya setelah melaksanakan tugas nya, pak Gino berpamitan dan saya kembali menikmati merebahkan diri di kasur yang empuk dan dingin hingga akhirnya terlelap. Begitu tersadar sudah malam, sekitar jam 21.00 kalau tidak salah.

"kami lagi di angkringan KR neh mas, nyusul ksini aja" sebuah pesan di ponsel saya itu akhirnya membimbing saya bertemu dengan para kreator di balik sebuah situs majalah onlain Travelistmagz. Karena saya juga belum pernah bertemu dengan mereka, maka agak seikit kesulitan menemukan meraka di keramaian angkringan di emperan kantor harian Kedaulatan Rakyat itu, hingga akhirnya seorang wanita mungil menghampiri saya "mas Bolang ya?" tanya nya.

Malam makin larut hingga akhirnya saya harus berpamitan untuk pulang kepada mereka.  Namun sebelum pulang saya menyempatkan diri menilik keramaian di jalan maliboro. "Masih seperti dulu, setiap sudut menyapamu bersahaja" Lirik lagu Yogjakarta itu kembali saya rasakan ketika berjalan di emperan toko-toko yang berjajar rapi di sepanjang jalan malioboro ini, hingga akhirnya kantuk mulai menyerang dan saya harus kembali ke kamar untuk berisitirahat.





Labels: ,