Kalianda, Kondangan ke Pantai

Ngerusuhin Pelaminan

Entah sudah keberapa kalinya saya menginjakan kaki di propinsi yang terkenal dengan Gajah dan Tapisnya ini, dan kali ini untuk kesekian kalinya saya kembali menyambanginya.

Semburat merah terlihat di langit barat ketika kapal Fery yang hendak menyeberangkan saya mulai menjauh dari dermaga di pelabuhan penyeberangan Merak, Banten. Seperti menjadi ritual khusus saya ketika berada di atas kapal ferry ini, menjelajah setiap sudut kapal dan menikmati hembusan angin laut dari anjungan maupun buritan kapal. Hembusan angin laut seperti ini lah yang selalu saya rindukan.


Semburat Senja
Kapal melaju membelah dingin dan gelapnya selat sunda malam itu. Saya masih menikmati suasana damai di buritan kapal sambil ditemani secangkir kopi. Lantunan melodi-melodi indah dari Secret Garden membuat saya makin betah menikmati suasana tenang dan damai seperti itu.

Setelah 2.5 jam mengarungi selat sunda akhirnya kapal mulai berlabuh di pelabuhan Bakauheni. Menara siger itu terlihat masih kokoh dan ramah mempersilahkan siapa saja yang hendak memasuki pulau sumatra.

Tujuan kali ini adalah sebuah kota kecil yang bernama Kalianda.  Kota yang terletak di lintas timur Sumatra terlihat sedang berbenah diri setelah mendapat pemekaran sebagai kabupaten baru.

Hotel Kalianda, begitu yang saya baca di sebuah papan nama hotel yang terletak tidak jauh dari gerbang pintu masuk. Menilik dari bangunannya, hotel ini sudah lama dan  menjadi saksi sejarah kota Kalianda.  Tarif yang di patok tidak terlalu mahal,  150 ribu untuk  semalam  dan sudah berfasilitas AC  dan TV.  Terjangkau lah untuk kantong saya (lebih senangnya kali ini ada yang bayarin) ha ha.

Jalanan sudah terlihat Lengang ketika saya mencoba melongok ke luar pagar hotel. Mungkin untuk kota kecil seperti Kalianda ini jam 23.00 adalah sudah terlalu larut untuk beraktifitas. Semua sudah terlelap dalam selimuti dingin nya Gunung Rajabasa yang terlihat berwibawa melindungi kota Kalianda.

Jalanan Kalianda yang lengang
Deburan-deburan ombak membangunkan saya di pagi yang masih sunyi dan dingin. Kalau deburan ombak saja terdengar, artinya hotel tempat saya menumpang tidur ini tidak jauh dari pantai. Merasa penasaran dengan datangnya bunyi deburan ombak tersebut, saya menyusuri jalanan kecil di samping hotel hingga saya melihat pantai pasir hitam, tempat bunyi deburan ombak itu berasal. Namun sayangnya tidak ada akses menuju pantai tersebut, jalanan kecil yang saya lalui itu ternyata adalah jalan untuk menuju ke sebuah rumah di pinggir pantai dan sialnya lagi ternyata portal nya juga dalam keadaan tertutup, ah sudahlah.

Ketika berjalan kembali ke arah hotel perut saya sudah keroncongan. Kebetulan tidak jauh dari lokasi itu ada penjual lontong sayur yang kelihatannya lezat. Tidak perlu berpikir dua kali,  saya duduk manis di warung itu untuk menyantap hidangan pagi yang lezat.

Bisa rapi juga ha ha
Sepiring Lontong sayur sudah mengganjal perut, itu artinya saya harus segera kembali ke Hotel karena harus segera datang ke pesta perkawinan salah satu sahabat saya. Semua teman-teman kerja saya sudah terlihat rapi dengan baju kebesaran masing-masing. Itu artinya mereka sudah siap untuk pergi ke pesta.

Pesta perkawinan ini di helat sesuai dengan adat lampung. Walau terlihat sederhana namun acara ini penuh makna sakral. Lantunan petuah-petuah  terdengar indah mengalun ketika saya sampai di lokasi pesta. Setelah tanya sana-sini akhirnya saya menemukan nama dari celotehan indah itu. Kias namanya, sebuah tradisi kesenian yang berasal dari lampung. Puisi-puisi indah yang berisi petuah dari orang tua kepada anaknya tersusun rapi dan enak di dengar. Walaupun di lafal kan dalam bahasa lampung dan saya tidak tau artinya namun saya sungguh bisa menikmati bait demi bait yang terucap dari mulut seorang pelantun Kias yang terlihat sudah tidak muda lagi.

Iwak peyek sego jagungggg
Prosesi demi prosesi pernikahan adat Lampung terus berjalan. Sementara di sebuah panggung yang tidak terlalu besar terlihat seorang biduanita sedang asik melantukan "iwak peyek" versi koplo, dengan di temani seorang bapak-bapak yang terlihat seolah tersihir dengan goyangan penyanyi muda tersebut. Alhasil goyangan si bapak yang mengusung jenis tarian sepektakuler bombastis dan menakjubkan itu (baca=Alay dan Gokil) menyihir gelak tawa para tamu undangan.

Makan makannnnn
Perut sudah kenyang dengan beberapa menu masakan yang terhidang. Panas sudah mulai terik, itu artinya kami harus segera berpamitan pulang kepada kedua mempelai. Sembari berpamitan kami mengabadikannya dalam sebuah lembar foto untuk kenang-kenangan (baca: Narcis berjamaah)

Setelah kembali ke Hotel untuk beres-beres dan check out, kami melanjutkan perjalan ke lokasi Way Belerang. Bukan saya kalau tidak bisa memprovokasi sahabat-sahabat saya ini untuk jalan-jalan. "mumpung di Lampung lho, mampir yok ke air panas, ke pantai Embe" begitulah kira-kira bentuk provokasi yang keluar dari mulut saya.


Way Belerang
Way belerang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 4km dari hotel tempat saya menginap. Sebuah pemandian air panas yang berada di kaki gunung Rajabasa. Sumber air panas yang muncul di kelola oleh masyarakat setempat dengan membangun sebuah bangunan pemandian seperti kolam renang, bedanya dengan pemandian-pemandian air panas yang lain, kalau di tempat lain biasanya air panas yang keluar di tampung dan dialirkan ke berbagai kolam pemandian, nah di sini justru sumber air panas itu berada di dalam kolam, sehingga jangan heran jika di tengah-tengah kolam banyak gelembung air yang muncul. Enaknya lagi sumber air panas yang keluar tidak terlalu panas, jadi nyaman sekali untuk berendam. Jangan takut terserang dehidrasi, karena beberapa butir kelapa mudai siap santap juga tersedia tidak jauh dari situ. Sungguh sensasi yang luar biasa menikmati sejuknya air kelapa muda sambil merendam kaki di air panas Way belerang ini.

Kelapa Muda sambil ngerendem kaki
Setalah puas menikmati sensasi air panas, perjalanan pun berlanjut. Belum ke Lampung jika belum menyambangi pantai-pantai indahnya. Laju mobil kali ini mengarah ke deretan pantai-pantai indah di area Krakatoa resort. Letaknya berada di tidak jauh dari lintas timur Sumatra. hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit dari pelabuhan Bakauheni, kita sudah bisa menjumpai sebuah atmosfir baru yang menenangkan. Sebuah deretan pantai-pantai indah yang bersih dan damai.

Pantai Bagus
Setelah membayar retribusi tiket masuk sebesar 10 ribu untuk mobil dan 5 ribu per orang, saya sudah bisa menikmati indahnya pantai Bagus. Pantai ini terlihat seperti teluk kecil yang damai. Namun sore itu terlihat beberapa anggota pramuka sedang mengadakan Camping di area tersebut. Terlihat bocah-bocah Penggalang itu riuh dengan kegembiraan mereka. Ada yang sedang bermain ayunan, sekedar bergerombol namun terlihat serius seperti sedang membicarakan sesuatu, ataupun sekedar bermain air di pantai yang landai.

Tidak lama saya berada di lokasi pantai itu. Keriuhan suasana disana membuat saya harus segera meninggalkan lokasi tersebut. Memang tujuan perjalanan kali ini adalah pantai Merak Belantung yang sudah tersohor itu.


Pantai eMBe
Begitu memasuki area pantainya, saya langsung dibuat terpesona. Hamparan pasir putih dan riak-riak ombak kecil membuai indera penglihatan saya. Pohon-pohon waru terlihat berjejer rapi memberikan keteduhan bagi siapapun yang hendak menikmati suasana pantai ini. Dan lebih yahudnya lagi, pantai ini sepi sekali. Hanya terlihat beberapa orang pengunjung yang sedang menikmati hening dan indahnya pantai ini.

Beberapa fasilitas juga melengkapi keindahan pantai ini. Berada si sebuah teluk yang damai bernama Belantung, maka pantai ini dikenal dengan nama pantai Merak Belantung. Namun baru-baru ini pemerintah setempat membuat tagline baru pantai ini menjadi pantai eMBe, yang di ambil dari singkatan kedua kata Merak Belantung.

Ceriaaaaaa
Di ujung salah satu pantai terlihat sebuah bangunan terbuka yakni tempat bilas dan ruang ganti. Sementara tidak jauh dari pantai terlihat ada persewaan ban dalam mobil yang siap menemani petualangan para pengunjung merasakan sensasi menaiki ombak pantai Embe. Semua terlihat begitu bahagia menikmati keindahan yang tersaji.

Gunung Rajabasa terlihat jelas dari pantai ini. Langit biru yang di tingkahi oleh awan berarak juga semakin melengkapi keindahan sore itu. Semua sudah terlihat capek bermain di pantai yang damai ini. Sepertinya bukan lah sebuah keputusan yang bijak jika saya tetap memaksakan kehendak untuk tetap berlama-lama di pantai ini.

Krakatoa resort di kejauhan
Sebuah dermaga kecil di ujung teluk terlihat kokoh dan angkuh walaupun setiap saat di hempas oleh ombak. Krakatoa resort juga terlihat di ujung lain teluk Belantung ini. Pantai masih sepi seperti ketika saya datang tadi. Deburan-deburan ombak mengantarkan kepulangan saya saat itu. Belum begitu jauh rasanya roda mobil ini meninggalkan pantai, terbersit dalam benak untuk camping di lokasi tersebut, Yess Suatu saat saya harus menuruti pesan yang terlintas di benak itu.

Jalanan lintas timur Sumatera ramai lancar seperti biasa. Bangunan-bangunan rumah yang sebagian besar beratap genteng tanah liat masih mendominasi di sepanjang perjalanan. Sawah dan kebun tebu juga seolah berdampingan memperlihatkan kesuburan tanah Lampung. Mobil terus melaju menuju ke pelabuhan Bakauheni untuk kembali menyeberang ke pulau Jawa. Walaupun singkat perjalanan kali ini sungguh sangat berkesan. Tidak terlalu jauh dari ibu kota Jakarta yang sarat dengan kemacetan dan kesibukan warganya, kita bisa menemukan sebuah atmosfir baru yang begitu hening,  indah dan mempesona.
***

Narcis berjamaah

Kayaknya seru buat pementasan

Sok Cooolll

Indahnya eMBe

Pop Mie buat ngganjel perut di kapal


Labels: , ,