Jogja, Dari Jazz hingga Mangut

Matahari pagi seolah masih enggan berbagi sinarnya pagi itu. Derap kaki kuda terdengar begitu mempesona. Bunyi-bunyian bel becak juga terdengar bersahut-sahutan seolah mereka sedang bahagia menyambut pagi.

Di sebuah kamar penginapan saya masih meringkuk di bawah selimut tebal. Pagi itu terasa begitu dingin. Capek masih menjalar di sendi-sendi kaki dan betis saya. Setelah kemarin seharian bermotor ria menikmati indahnya pantai Indrayanti, di tambah lagi malamnya berjalan kaki menyusuri trotoar kota Jogja dari Bentara Budaya Yogyakarta hingga jalan Dagen dimana saya menginap.




Jazz Mben Senen
Bukan tanpa alasan saya berjalan-jalan malam hari menyusuri trotoar di kota Jogja ini. Alasan utamanya adalah menyaksikan perhelatan Jazz yang bertajuk Jazz Mben Senen. Pertunjukan music Jazz yang di helat setiap hari senin malam ini di selenggarakan di Bentara Budaya Yogyakarta. Kesan bahwa music Jazz hanya bisa di nikmati oleh kalangan atas di sebuah venue yang megah terpatahkan dengan acara ini. Music Jazz dikemas dalam sebuah konsep yang merakyat. Di gelar di salah satu sudut komplek Bentara Budaya Yogyakarta, dibawah tenda biru, para penonton duduk di kursi lipat bahkan di bagian depan terlihat asik lesehan di tikar. Tanpa mengurangi keasikan menikmati music Jazz saya mengacungkan jempol untuk perhelatan ini. Semua terlihat begitu gembira dan antusias menikmati acara hingga selesai. Hentakan-hentakan drum, petikan-petikan gitar hingga lolongan saxophone menyihir siapapun yang hadir saat itu, bahkan para penikmat yang tidak kebagian tempat duduk rela berdiri di luar pagar. Jogja terasa begitu damai malam itu.

"Mas aku dah di stasiun neh, mau ke tempat Ratih jam berapa?"

Sms dari Putri sahabat saya mengagetkan saya di pagi yang dingin itu. Bergegas saya menguyur badan di kamar mandi. Dingin rasanya membekukan saya di dalam kamar mandi sederhana itu. Kami memang ada janji untuk menghadiri pameran foto yang di gelar sebagai prosesi dari tugas akhir salah satu sahabat. Ratih namanya, sosok wanita kurus ini adalah salah satu travelmate saya selama di Sumba dulu. Dulu pernah janji untuk datang keacara pameran foto nya. Ratih, Putri dan saya adalah travelmate yang ketemu dalam perhelatan pasola di Sumba.

Sebelum berangkat ke kampus nya Ratih di ISI jogja, saya dan putri menyempatkan diri berjalan-jalan sejenak menikmati keriuhan Malioboro hingga tersesat di toko bathik terkenal MIROTA. Suasana MIROTA begitu riuh, mungkin masih musim liburan sekolah jadinya banyak sekali pengunjung yang memadati toko yang menyediakan berbagai jenis souvenir oleh-oleh khas Jogja ini.

Tidak nyaman dengan keriuhan itu akhirnya kami keluar dari toko dan kembali menyusuri lorong-lorong Malioboro. Segarnya sayuran hijau yang terhidang di salah satu sudut malioboro menyita perhatian saya. Ditambah lagi onggokan burung dara goreng yang terlihat begitu menawan hati. Tidak butuh waktu lama buat saya untuk melewatkan momen tersebut, hingga akhirnya kami sudah duduk manis mengunyah pecel dan burung dara goreng di temani canda tawa ibu-ibu pedangang yang lucu.

Jalanan  menuju kampus ISI terasa begitu panas sekali. Terik matahari menyengat dengan ganas siang itu. Tidak terlalu sulit mencari salah satu kampus seni besar di Yogjakarta ini. Namun begitu masuk gerbang nya, kami kebingungan mencari tempat dimana Ratih menggelar pamerannya. Setelah tanya ke dua orang yang berbeda ternyata kami belum berhasil juga menemukan lokasi itu. Hingga akhirnya mendapat rekomendai dari seorang sahabat untuk mencicipi mangut lele Mbah Marto yang terletak tidak jauh dari kampus ini.

Warung Mangut Mbah Marto yang berada di rumah
Ternyata mencari lokasi warung makan Mangut mbah Marto ini lebih sulit lagi. Bolak-balik kami mengitari lokasi yang sama. Jawaban dari penduduk setempat juga terasa membingungkan. Bayangan saya adalah sebuah warung makan besar yang ramai dengan banyaknya mobil parkir. Ternyata saya salah. Warung Mangut mbah Marto ini memang sudah terkenal sekali. Lezatnya mangut lele ala mbah Marto beredar dari mulut ke mulut. Dan warungnya sendiri adalah sebuah rumah yang sekaligus menjadi tempat tinggal mbah Marto. Setelah beberapa kali bertanya akhirnya kami menemukan warung Mangut yang tidak mempunyai cabang dimanapun itu.

Menu warung mbah Marto
Memasuki warungnya terasa nyaman seperti sedang berada di rumah sendiri. Para pembeli menikmati mangut lezat itu bisa di meja teras rumah, bisa di ruang tamu bahkan kalau mau bisa juga di dapur dimana dagangan mangut lezat nya mbah marto di gelar.

" Mbah Marto nipun seng pundi niki nggih?" pertanyaan yang saya lontarkan di dapur mbah Marto.

"Kulo mas, mbahnya nembe mangan, ngelih mas ha ha ha" jawaban dari seorang wanita renta yang terlihat begitu bersahaja. Beliaulah Mbah Marto sosok yang berada di balik lezatnya Mangut lele ini.

"Monggo mundhut kiyambak mas" kalimat yang keluar dari mulut mbah Marto ketika melihat saya kebingungan berada di dapur itu. Memang di warung ini semua tamu di persilahkan mengambil makan nya sendiri. Banyak menu yang terhidang di sebuah amben (tempat tidur kayu khas jawa) kecil. Garang asem, semur, sayur dan yang paling fenomenal adalah lele mangut yang terlihat begitu lezat.

SImbah takut di foto
Sebelum makan saya sempat berbincang sebentar dengan simbah. Sosok wanita renta dengan usia hampir mencapai 90 tahun itu terlihat begitu sehat. Celotehan-celotehan lucu dari mulut beliau juga membuat saya tergelak hingga perut saya terasa sakit. Namun begitu saya memohon ijin untuk berfoto bersama beliau, beliau terlihat takut. Saya sempat bingung hingga akhirnya simbah bercerita kalau beliau takut dengan cahaya Flash yang keluar dari kamera.


Mangutnya Sadis dan Lezatttt
Puas menikmati nikmatnya mangut lele terenak sedunia, ada kabar dari Ratih bahwa dia sudah berada di jalan menuju kampus ISI. Saya dan putri segera bergegas  dan pamitan kepada mbah Marto. Ternyata setelah perut kenyang tidak terlalu susah mencari keberadaan gedung Fakultas fotografi dan media rekam. Tidak selang berapa lama saya berada di sebuah ruang pameran Ratih datang dan menjelaskan sedikit tentang pamerannya. Memang ini adalah hari terakhir foto-foto spektakulernya terpampang di ruang pameran tersebut. Dari foto-foto bagus tentang Sumba yang terpampang saya begitu rindu ingin kembali menikmati pesona keindahan di Sumba.



Pameran Fotonya Ratih

Hari sudah menjelang sore, dan putri harus bergegas ke terminal untuk menumpang bis kembali ke Surabaya. Sementara saya masih harus menunggu pukul 19:00 untuk menumpang kereta ekonomi AC menuju Jakarta. Sebuah petualangan singkat yang seru dan akan indah untuk dikenang suatu saat nanti.

Simbahnya Lucu

Dagangan mbah Marto

Putri nyamar jadi anaknya mbah Marto he he he

Makannya di Teras

Trio Pasola

Suasana Pameran

Labels: ,