Berendam air panas di puncak Drajat Garut

Berendam  di airpanas dengan view amazing seperti ini
Puncak Gunung Papandayan dan Gunung Cikuray seolah sedang  bercengkrama dengan kabut dan dingin. Namun hal itu tidak berlangsung lama ketika matahari tiba-tiba muncul mengusik kebersamaan mereka. Puncak Darajat pagi itu terasa dingin dan sepi. Para petani sudah mulai beranjak dari selimut hangatnya untuk berangkat ke kebun sayur mereka yang terletak di lereng-lereng gunung Darajat ini.


Kepulan asap putih juga terlihat menguasai rongga-rongga udara di salah satu sudut puncak Darajat. Memang panas bumi yang melimpah disini di manfaatkan oleh sebuah perusahaan seperti PT.Cevron yang beroperasi di lokasi ini.

Panas Bumi
Jumat malam tepat pukul 21:00 kami memulai perjalanan dari area Setiabudi Jakarta. Berlima kami akan mengarungi macetnya tol Cipularang. Tapi untunglah hal yang kami takutkan tidak terjadi. Malah semua larut dalam kegalauan seiring dengan lantunan lagu-lagu galau nya Adele, Afgan dan Agnes monica dari playlist sang empunya mobil ha ha. Karena capek dan ngantuk kami memutuskan untuk beristirahat dulu di rumah kakaknya Echi dikawasan Bandung, baru keesokan paginya baru melanjutkan perjalanan ke Garut. Dari sinilah kami terbagi dua, Echi dan Fitri akan shopping dan memBandung, sementara kami bertiga cowok-cowok kece akan melanjutkan perjalanan ke Garut.

Rasa penat setelah berkendara dari Jakarta serta merta hilang ketika kedua kaki ini mulai terendan di kolam air panas yang ada di salah satu lokasi pemandian air panas di puncak Darajat ini. Puncak Darajat Waterboom, begitu yang saya baca ketika memasuki area wisata ini. Ada beberapa kolam di lokasi wisata tersebut.

Kolam renang anak-anak
Beberapa arena bermain air seperti seluncuran dan ember tumbah lambat laun di padati oleh pengunjung. Memang keberadaan kolam-kolam permainan ini di pisahkan dari kolam dewasa. Kolam dewasa masih terlihat sepi sehingga saya leluasa berenang-renang di air hangat dengan pemandangan yang luar biasa indah.




Waterboom
Puas menikmati pemandian air panas perjalanan berlanjut ke area kawah. Ada beberapa kawah sebenarnya di puncak Darajat ini, namun yang di ijinkan untuk di kunjungi cuma satu. Sebenarnya ada satu lagi cuma karena di kawah tersebut sering mengeluarkan gas berbahaya maka menjadi tempat terlarang untuk pengunjung. Selain itu juga masih ada beberapa kawah yang sudah di kelola oleh perusahaan yang tertutup untuk pengunjung.

Ini lho pintu masuk kawah nya
Memasuki area kawah harus di dampingi oleh guide, saya tidak bertanya kenapa harus ada pendampingan tapi mungkin karena kita harus memasuki kawasan PT.Cevron dan saya belum tahu daerah-daerah terlarang mana yang tidak boleh di kunjungi, maka keberadaan guide yang semuanya penduduk lokal diperlukan.

"Sok atuh mendekat aja ke kawah itu, tidak apa-apa, takut nanti kecewa sudah sampai sini tidak melihat kawahnya" begitulah celoteh si mamang supaya saya mendekat melihat dengan mata kepala sendiri sebuah kawah yang air nya keluar bergolak seperti air sedang mendidih itu. Ternyata dari kawah inilah sumber air panas yang di pakai pemandian di bawah berasal.

Menatap kawah dari jauh
Jarir dan Ifan, dua sahabat saya yang menjadi rekan jalan kali ini semula ragu mendekati kawah, namun setelah saya yakinkan mereka mau juga mendekat, dan kalau semuanya sudah berkumpul, foto-foto pasti jadi agenda mengasikkan ha ha.

Laju Mobil mengarah ke sebuah desa di kaki gunung Cikuray. Sawah-sawah terbentang luas dengan padi yang masih baru ditanam. Hijau menghampar dimana-mana, sejauh mata saya memandang yang terlihat hanya sawah dan gunung. Letak desanya sendiri cihui sekali, terletak di tengah sawah, sehingga mobil harus di parkir jauh di dekat gang masuk ke desa. Jalan di tengah-tengah sawah sambil memperhatikan riang nya anak-anak kecil bermain air di parit-parit yang terlihat jernih terasa mengasikkan. Ingin rasanya saya ikut bermain dalam keriangan mereka.

Jalanan menuju Desa
Dalam perjalanan menuju ke rumah kakaknya Jarir kami mampir untuk membeli sesuatu untuk buah tangan. Bahan-bahan makanan seperti Ikan asin, tempe, cabe yang akan kami masak untuk makan siang dan beberapa barang kebutuhan rumah tangga menjadi list belanjaan kami di pasar tradisional itu. Ibu-ibu penjual terlihat sedang asik mengobrol satu sama lainnya. Saya tidak begitu mengerti apa yang sedang mereka omongkan. Namun yang saya tahu mereka terkadang tertawa terbahak itu artinya mereka sedang bahagia.

Ada kisah lucu ketika kami sedang membeli tempe. Ketika Jarir menanyakan perihal harga sebongkah tempe di hadapan kami, sang ibu dengan santai menjawab "delapan". Saya dan Jarir hanya bisa berpandangan, seolah kaget. Mungkin kalau hati kami bisa bicara bilangnya serempak begini "mahal amat depalan ribu tempe segitu" tapi untunglah si ibu kembali berkata "delapan ratus jang" dan kami berdua terbahak akhirnya.

Menu makan sianggg
Seekor ikan mas besar  di tangkap dari kolam belakang rumah untuk menu makan siang kami. Saya suka berada di dapur milik kakaknya Jarir ini. Karena terbiasa masak pakai kayu bakar jadi beberapa bagian dapur terlihat menghitam. Saya jadi ingat selalu suka bermain di dapurnya alm ibu saya ketika masih kecil dulu. Saya selalu jadi tukang tunggu perapian, sementara ibu mempersiapkan bahan-bahan yang akan dimasak. Ketika api sudah mulai keluar dari pawon (tungku yang dibuat dari tanah liat) saya harus memasukkan  kembali kayunya supaya api tetap berada di tengah tungku.

Sembari menunggu makanan dimasak, saya diajak sang tuan rumah menuju ke sebuah kebun jeruk. "ini namanya jeruk konde om" Jarir berusaha menerangkan kepada saya. Memang sekilas bentuknya mirik dengan konde yang sering di pakai ibu-ibu. Setelah mencicipi rasanya saya dibuat ketagihan. Jeruk yang masih segar baru metik dari pohon ini terasa begitu manis. Karena belum musim panen maka kami hanya dapat beberapa jeruk yang sudah layak untuk di konsumsi. Namun begitu saya puas dengan suasana yang tersaji disana. Dibagian luar kebun terlihat hamparan sawah menghijau. Kami kembali kerumah lewat pamatang sawah.

Jeruk Konde
Sebuah pohon jambu batu yang kami lewati tidak luput dari incaran. Jambu-jambu itu juga masuk sukses ke dalam perut saya. Sesampainya di rumah makanan sudah terhidang. Sambel, timun sebagai lalapan, dan beberapa bongkah daging ikan emas segar yang sudah di goreng tersaji di lantai dapur, eh ternyata ada juga sepiring telur ikan goreng. Ikan yang di tangkap tadi kayaknya sedang bertelur, pantes aja perutnya terlihat menggelembung seperti perut saya ketika masuk angin ha ha.

Masak

Makannnn
Kekenyangan makan siang kami bertiga langsung mencari posisi yang enak buat rebahan. Di lantai yang dialasi karpet di ruang depan ternyata nyaman sekali buat tidur siang. Cuaca di desa ini masih dingin, sehingga kami merasa nyaman tidur dalam cuaca seperti itu. Tidak perlu lama kami semua sudah terlelap dalam mimpi-mimpi indah bersama  keindahan kampung ini.

Ketika terbangun hari sudah menjelang sore, itu artinya kami harus berpamitan untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya ke kota Garut, rumah si Mang Jarir. tidak banyak yang saya eksplore di Garut, hanya mampir ke rumah nya Jarir sebentar sambil melepas penat, karena ifan dan saya akan melanjutkan perjalan ke Bandung, sementara Jarir bermalam di Garut. Bersilahturahmi dengan beberapa anggota keluarga menjadi agenda kami di rumah itu. Ketika menyaksikan pertemuan Jarir dengan sang mama, hati saya merasa bahagia sekali. Saya selalu melihat sosok ibu saya  di dalam raga ibu nya sahabat-sahabat saya.

Saatnya Pulang
Sore hendak beranjak malam ketika saya dan ifan diantar sang tuan rumah si mang Jarir ke terminal Garut. Dari terminal tersebut saya dan Ifan akan melanjutkan perjalanan menuju bandung. Menurut rencana ifan akan stay bermalam di Bandung dan saya akan melanjutkan perjalan pulang ke Tangerang, karena keesokan harinya harus kembali bekerja.

Setelah beberapa kali berhenti "ngetem" dan sempat membuat Ifan sedikit dongkol, akhirnya kami sampai di terminal Leuwipanjang Bandung. Menurut rencana  kami akan berpisah disana. Ifan mengantar saya mencari bis yang menuju arah Tangerang, dia takut saya di culik kayaknya ha ha ha piss fan, dan tak selang berapa lama Bis Primajasa yang saya tumpangi ini mulai merangkak meninggalkan terminal yang konon katanya menjadi tempat mengikat janji ini. Sembari memandangi hujan di luar jendela saya berusaha terlelap. Walaupun sebentar tapi kembali saya menorehkan sebuah kenangan indah dalam buku besar hidup saya.

Labels: ,