Wologai, Kampung adat yang tak tergerus jaman

Sebuah Gerbang yang terbentuk dari akar Beringin
Sebuah pohon beringin besar seolah menjadi saksi bisu tentang kejayaan sebuah kampung yang terletak di desa Wologai Tengah ini. Kampung Wologai, sebuah kampung yang masih memegang teguh adat istiadat yang di tinggalkan nenek moyang meraka. Kampung ini di huni oleh suku Lio, sebuah suku yang banyak mendiami daerah kabupaten Ende dan sebagian kabupaten Sikka.


Kampung ini terletak di sebuah bukit dengan latar belakang sebuah gunung Lepembusu yang Terlihat angkuh siang itu. Memasuki kampung seolah kita merasakan sebuah kekuatan magis  luar biasa yang terpancar dari beberapa elemen kampung. Mulai dari rumah-rumah adatnya, kuburan-kuburan kunonya maupun dari sebuah gerbang yang terbentuk dari akar pohon beringin yang sangat besar di depan kampung.

Welcome to Wologai
Setelah melapor di pos dan mengisi retribusi untuk kampung, saya dan beberapa teman mulai memasuki kampung adat itu. Beberapa sahabat sudah mulai asik dengan foto-foto "konsep" Narcis nya. Saya mulai menebarkan pandangan ke segala penjuru kampung. Terlihat banyak sekali biji kopi dan biji Kemiri yang sedang di keringkan di halaman penduduk.

Sirih pinang sang mama
Siang yang terik itu kampung terlihat sepi. Hanya ada beberapa ibu yang sibuk dengan kegiatan nya masing-masing. Ada yang sedang mencuci peralatan masak semantara di teras rumah terlihat seorang ibu sedang asik menikmati sirih pinang sembari bersendau gurau dengan cucu perempuannya.

Rumah-rumah adat disini tidak lah terlalu banyak, hanya terlihat beberapa saja. Bentukan rumahnya adalah rumah panggung dan beratap dedaunan, sepertinya terbuat dari daun ilalang. Saya tidak melihat sesosok pria pun di kampung ini. Mungkin mereka sedang melaksakan kewajibannya mencari nafkah untuk keluarganya.

Suku Lio yang mendiami kampung Wologai ini masih memegang teguh adat-istiadat yang dtinggalkan oleh para pendahulunya. Hal ini biasa mereka wujudkan dalam sebuah pesta tahunan yang biasanya di gelar pada tanggal 25 agustus hingga 15 september. Pestanya sendiri biasanya bertepatan dengan pesta panen, sehingga orang lebih mengenal pesta tahunan itu dengan pesta panen masyarakat Wologai.

Sebuah Kubur batu dengan latar belakang atap rumah adat Wologai
Wologai juga dikenal dengan Lamba Bupu, yaitu sebuah gendang kecil yang dimainkan setahun sekali dengan pemukul dari daun alang-alang. Konon katanya gendang ini terbuat dari kulit manusia. Alat musik ini biasanya selalu di tempatkan di Keda yang selalu di kawal oleh Anadeo, sebuah patung laki-laki yang di sakralkan oleh masyarakat kampung.

Akses menuju kampung eksotik ini tidaklah susah. Jika kita dari arah desa moni (desa terdekat dengan kawah Kelimutu) nanti akan ada pertigaan Wokonio yang mengarah ke kampung ini sebelum mencapai Detosuko. Hanya berjarak sekitar 2km dari jalan transflores tersebut, kita akan sampai di kampung adat yang menjadi idola beberapa peneliti asing ini.

Memasuki Gerbang alami nya yang terbuat dari akar pohon beringin, kita seolah diajak terbang ke sebuah masa lalu, dimana rumah-rumah masih terlihat sangat alami dan menyatu dengan alam, beberapa kubur batu peninggalan nenek moyang mereka juga terlihat di beberapa tempat.

Saya tidak banyak mendapatkan informasi tentang kampung ini, mungkin karena saya datang disaat yang tidak tepat, dimana kampung terlihat sangat sepi sekali. Akan berbeda jika saya datang pas bertepatan dengan pesta panen tahunan mereka, pasti kampung ini akan terlihat sangat meriah sekali dengan permainan tradisional anak-anak serta beberapa ritual adat yang bias mereka lakukan untuk menghormati leluhur mereka, Semoga saya masih di kasih kesempatan itu sama Allah SWT, Amin

Bermain bersama cucu

Seru nya kami di Wologai

Labels: , ,