Sepenggal Cerita diatas km Wilis

km Wilis
"Km Wilis kapal ini buatan Indonesia mas,  dulu pernah di pakai sama orang Senegal, hanya 2 tahun di Senegal terus di bawa kembali ke Indonesia. Jadi kapal wilis karya anak bangsa".  tutur bung Rian seorang pemuda calon perwira kapal asal Palembang yang sedang istirahat di bangku disamping saya.

Daratan Sumba sudah terlihat samar-samar di pandangan. Bukit-bukit indahnya kini sudah di tutup oleh tirai jarak yang sudah saya tinggalkan, yang terhampar hanya sebuah lautan biru yang maha luas.


Deru mesin km Wilis masih menderu di bagian lambung kapal. Dengan tenaga nya jualah kapal sebesar ini bisa bergerak melayari lautan nusantara yang maha luas ini. Saya masih asik berbincang dengan dua sahabat baru saya calon perwira kapal yang sedang melaksanakan kewajiban Prola nya di kapal ini. Prola adalah sebuah ritual magang seorang calon pelaut di akhir masa sekolahnya. Biasanya dilaksanakan hampir satu tahun.

Rian dan Calvin sang calon Perwira Kapal
Rian dan Calvin, berbincang dengannya seolah saya dibawa kembali ke sebuh cita-cita besar saya sejak jaman sekolah di bangku STM negeri di kabupaten Pati dulu. Menjadi Pelaut adalah impian saya sejak dulu yang tidak pernah kesampaian. Tidak tau kenapa ketika saya harus memandang lautan akan timbul damai yang merasuk dalam aliran darah. Lautan adalah jiwa saya, disana seolah saya bisa berbincang dengan orang-orang  saya sayangi dan kebetulan sudah berada di alam lain. Saya bisa menumpahkan segala asa kepada mereka dalam sebuah perbincangan yang halus. Di laut juga saya menemukan sebuah kebebasan. itulah alasan kenapa saya begitu mengilai Laut.

"saya Rian dari Palembang bang" jawab Rian ketika saya menyalaminya.
"saya Calvin mas dari Surabaya" Jawaban sama yang keluar dari mulut seorang calon perwira itu.

Tidak selang berapa lama mereka pun berpamitan untuk melaksanakan tugasnya. Tinggal saya sendirian menikmati hamparan laut yang maha luas ini dari sisi sebelah kanan kapal. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah saya dengan lembut. Kantuk yang tidak diharapkan hadir pun, akhirnya hadir juga. Untung lah sebuah suara keluar dari pengeras suara yang berbunyi seperti ini

"kepada semua penumpang km Wilis yang terhormat, makan siang anda sudah siap di ambil di loket pantry dengan menunjukan tiket anda"

Ahayyy makan siang sudah di siapkan, eh tapi kenapa ketika saya mau ambil makan siang saya tidak ada...wah adakah seseorang yang sudah menyerobot jatah makan siang saya..Tidakkkkkkkk

Menu Makan Siang saya di km WIlis
Seorang petugas menghampiri saya dengan ramahnya "makanan bapak sudah saya antar ke kamar ya" wah ternyata ada pelayanan lain yang diberikan kepada saya. Perjalanan kali ini saya mengambil kelas 2, itu artinya saya berada dikamar yang di huni oleh 4 penumpang dalam setiap kamarnya. Tersedia lemari dan kunci kamar untuk kelas yang saya ambil ini. Itulah alasan kenapa saya ambil kelas 2, karena barang bawaan saya yang lumayan agak banyak, serta beberapa peralatan elektronik saya. jadi saya butuh ruang penyimpanan yang aman, dan itu tidak akan saya dapatkan ketika saya mengambil kelas ekonomi yang harganya 100 ribu lebih murah dari kelas 2.



Kabin kelas 2 km Wilis

Sempet-sempetnya transfer foto dikapal sekalian ngecas ha ha
Kapal masih melaju membelah lautan. Perjalanan panjang begini yang harus di bunuh adalah kebosanan. Berbagai macam cara saya lakukan, mulai dari menikmati secangkir kopi di cafe kapal yang menyediakan karaoke dangdut asoy, membaca buku, memotret sambil berkeliling kapal, atau sekedar berbincang dengan penumpang yang lain.

"paling jam delapan dah masuk Ende mas" Rian menjawab kita saya mengajukan sebuah pertanyaan tentang jam berapa kira-kira kapal ini akan berlabuh di pelabuhan Ende. Dan benar setelah menikmati sunset dari buritan kapal dan melaksanakan kewajiban lapor kepada sang Khalik petang itu ada pengumuman dari petugas kapal bahwa kapal akan segera berlabuh.

Sunset dari atas km Wilis
Laut terasa tenang sekali malam itu. Gelap gulita saya rasakan di haluan kapal, tidak tahu kenapa tidak ada penerangan sama sekali untuk beberapa saat di bagian depan kapal itu. Melihat kegelapan di tengah laut yang maha luas saya merasa kecil sekali di hadapan sang khalik. Tiba-tiba saya merasa begitu dekat dengan-Nya. Menyesapi saat-saat indah seperti itulah yang selalu saya rindukan. Bercengkrama dalam panjatan doa di gelap gulitanya lautan luas ini.

Pengumuman kedua pun datang, agar para penumpang segera mempersiapkan semua barang bawaannya. Ketika saya melihat ke haluan lagi, setelah selesai mempersiapkan semua barang bawaan, lampu-lampu kota Ende mulai terlihat, artinya sebentar lagi saya akan segera menjejakkan kaki di tanah Flores yang sudah saya angan dan impikan selama ini.

Setelah berpamitan kepada Rian saya kembali ke kamar untuk mengambil barang bawaan, sebuah Carrier biru dan tas slempang kamera. Tidak berapa lama antri di deretan penumpang akhirnya pintu kapal pun dibuka. Dan saya pun keluar dengan senyum bahagia akhirnya saya menginjak kan kaki juga di tanah impian saya ini. Saya tidak menemukan kengerian yang banyak diceritakan beberapa penumpang kapal tadi tentang pelabuhan Ende.

"Hati-hati barang bawaan nya mas kalau mendarat di Ende malam hari".

Saya berjalan dengan bangganya seolah mengabarkan kepada dunia "heyy ini adalah pijakan saya di propinsi ke 26 di Nusantara ini". Hal-hal negatif yang banyak di perbincangkan tentang keamanan di pelabuhan ini tidak terbukti, namun tidak ada salahnya juga untuk selalu waspada, Kalau saya selalu percaya Tuhan selalu melindungi para pejalan, dan orang baik itu ada dimana-mana.

"Hotel Flores bang" pinta saya kepada seorang tukang ojek yang mangkal di depan pintu keluar pelabuhan. Setelah ngobrol-ngobrol ternyata dia juga berasal dari jawa timur.

"Arep bisnis opo neng Ende mas?"

Pertanyaan dari sang tukang ojek yang membuat saya tergelak. Sampai di hotel Flores saya mendapatkan kamar yang lumayan lah untuk ukuran kantong saya. Standart 100 ribu/malam. Hanya tersedia fasilitas kipas angin dan tivi di kamar. Saya tidak terlalu membutuhkan itu lah, tanpa kedua benda itu saya juga bisa terlelap tidur. Nah ada satu fasilitas lagi yang membuat saya bergairah ketika Tuteh Wanita ramah dari Ende menawari saya menginap di hotel itu, FREE WIFI itulah yang menjadi bahan pertimbangan saya menginap disini ha ha. Setelah hampir 10 hari di Sumba saya kesulitan mengakses internet (bukan kesulitan seh tapi hampir tidak bisa sama sekali). Bahkan fasilitas BBM yang ada diponsel saya juga tidak berfungsi dengan baik.

"Bang sudah dimanakah" sebuah pesan singkat terlihat di layar ponsel saya, ternyata dari tadi BBM yang saya kirimkan pending di ponsel nya Tuteh, hingga akhirnya jalur lama yang kami gunakan lagi yakni SMS ha ha.

"aku makan di warung surabaya di depan fried chiken Lokal" jawab saya atas sms itu, dan tidak selang berapa lama dia sudah memamerkan senyumnya di depan warung makan. Kami berjabat tangan dan berlanjut dengan perbincangan yang sangat seru. Tuteh datang bersama temannya Fawziah (maaf kalau salah tulis ya, ha ha), seorang gadis berkerudung asli Ende yang mukanya tidak mencerminkan sekali ada Ende-Ende nya, JAWA abis ha ha, pisss.

Tuteh memesankan saya segelas kopi Flores kental, dan ini adalah sebuah Welcome Drink darinya yang berbuah malapetaka bagi saya karena mata tidak bisa terpejam semalaman ha ha, Awas kau Tutehhh!!!

"Tenang Bang besok kami akan menemani ikut ke Kelimutu, Abang nanti di Bonceng sama Bastian" tuteh menjelaskan tentang rencana saya untuk mengejar matahari terbit di atas puncak Kelimutu.

"jam 4 abang dah harus siap ya, biar bisa langsung jalan" tuteh melanjutakan penjelasannya.

"WHAttt jam 4 dini hari, itu artinya masih jam 03:00 waktu Jakarta, saat saya sedang asiknya bermimpi bersama para bidadari yang sedang mandi di sungai susu itu (Ngayal ha ha). Tapi jujur jam 4 pagi itu adalah tantangan terberat saya. Sementara lelah juga mendera, dan untuk menuju ke Puncak Kelimutu membutuhkan waktu lebih dari 2 jam perjalanan menembus dinginnya pagi di area pengunungan yang menusuk tulang itu.

Namun inilah esensi dari sebuah petualangan yang selama ini kucari. hingga akhirnya saya menyanggupi nya, walaupun akhirnya saya tidak bisa tidur semalaman gara-gara Kopi Flores yang nikmat tapi "BERACUN' itu ha ha.

Kami berpisah dan saya kembali ke hotel untuk berusaha istirahat namun susah. Selain pengaruh kafein dalan kopi kental itu ternyata FREE WIFI juga menyihir saya untuk tidak tidur hingga akhirnya saya larut dalam kegemerlapan ONLEN lagi setelah sekian lama..#lebayy.

Namun saya bersyukur sudah bisa menghirup udara pulau ini. Sebuah anugrah yang tidak bisa saya lukiskan dalam kata-kata. Terima Kasih Tuhan.

***

Mejeng di depan km WIlis

Pelabuhan Waingapu


Daratan Sumba yang sebentar lagi akan saya tinggalkan

Lorong-lorong km Wilis

Bukit-Bukit di Sumba yang akan selalu membuat saya Kangen

Labels: ,