Pulau Komodo, Bercengkrama dengan sang Naga Purba

Si Komodo yang sedang asik berteduh di bawah pohon
Labuan Bajo masih terasa sunyi pagi itu, jalanan juga masih terlihat lengang. Namun kami bertiga Echi, Chandra dan saya sudah bersiap untuk memulai petualangan ke pulau yang memiliki satwa langka di dunia ini, Pulau Komodo.

Pulau komodo yang memiliki habitat komodo dragon ini masuk dalam wilayah Taman Nasional Komodo. Untuk mencapai ke pulau indah ini kita bisa mencapainya dari Labuan Bajo. Semenjak di gembar-gemborkan menjadi salah satu dari 7 keajaiban terbaru di dunia, pulau ini mulai mempercantik diri.  Sekarang sudah ada layanan operator seluler menjangkau wilayah ini.


Pak Din sudah menunggu kami di kapal miliknya yang akan mengantarkan saya menuju pulau Komodo. Waktu masih menunjukkan pukul 6:30 dan kami sudah mulai melakukan perjalanan laut menuju pulau Komodo. Pemandangan yang tersaji terlihat begitu indah sekali. Hamparan bukit-bukit hijau dan pantai pasir putih indah  terlihat mendominasi lanscape yang saya lihat.


Suasana di Kapal yang asik
Kapal pak Din sejatinya tidak lah terlalu besar, namun untuk ukuran kami yang hanya bertiga ternyata terlalu luas. Fasilitas yang ada juga terlihat lengkap. Mulai dari meja dan kursi untuk duduk menikmati pemandangan yang tersaji, hingga sebuah kasur tipis juga disediakan untuk merebahkan diri dalam ayunan laut, sebuah toilet juga tersedia di buritan kapal. Memang perjalanan menuju ke pulau komodo bisa di tempuh dengan waktu sekitar 4 jam perjalanan, namun yakin lah pada saya, waktu selama itu tidak akan terasa karena sepanjang perjalanan kita akan di suguhi sebuah pemadangan alam yang luar biasa. Untuk urusan logistik tinggal menyerahkan bahan mentah kepada pak Din dan beliau akan mengolah bahan itu menjadi makanan yang lezat.

Lautan Kaca
Lautan yanag saya lewati terlihat seperti kaca. Pantulan refleksi langit dan awan terlihat begitu sempurna di permukaan air. Tidak ada ombak sama sekali di permukaan air laut yang saya lewati, semuanya terlaihat begitu tenang sekali. Saya sungguh menikmati sekali perjalanan laut saat ini sambil sesekali merekamnya di kamera saya.

Kondisi laut sedikit berubah ketika kita memasuki kawasan selat sape. Ada pertemuan arus disana sehingga menimbulakn pusaran-pusaran air yang kalau nahkoda lengah bisa menenggelamkan kapal. Untunglah hal mengerikan itu tidak terjadi, hampir keseluruhan nahkoda kapal yang ada di daerah Labuan Bajo ini sudah mengenal betul medan yang hendak di lewati. Pak Din masih terlihat santai di belakang kemudi kapal. Patokan saya jika sedang di laut adalah ekspresi dang nahkoda, jika  beliau berekspresi cemas itu artinya saya harus berjaga-jaga dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.

Pink Beach
Sebelum memasuki sebuah teluk kecil di Loh Liang kita akan melewati pantai Pink atau lebih dikenal dengan Pink Beach. Coral berwarna-warni di kedalaman 5 meter masih terlihat dengan mata telanjang dari permukaan air laut. Visibility air nya bagus sekali. Terlihata beberapa kapal yang di gunakan para wisatawan manca negara sedang terapung di perairan pantai indah ini, namun menurut chandra sebaiknya ke Loh Liang dulu saja, melapor ke patugas Taman Nasional Komodo terlebuh dahulu sambil mengurus perijinan memasuki kawasan taman nasional, baru nanti pulangnya mampir ke Pink Beach, dan saya mengikuti sarannya.

Melewati Pink beach saya melihat ada sebuah kapal pesiar juga yang sedang lego jangkar di perairan Loh Liang. MV Discovery begitu yang saya baca di lambung kapal. Boat-boat kecil terlihat hilir mudik mengangkut para wisatawan mancanegara itu menuju ke dermaga LohLiang.

MV Discovery yang berlabuh di Komodo
Sesuatu terjadi ketika kapal kami hendak mulai merapat ke dermaga. Tutup lensa kamera Chandra terjatuh ke laut, kapal berbalik arah kebelakang untuk melihat kali aja tutup lensa itu masih terapung. Tapi ternyata tidak ada, dan dia harus merelakan tutup lensa tersebut beristirahat dengan tenang di perairan LohLiang.

Setelah mengurus perijinan di kantor Taman Nasional Komodo saya bersiap untuk melakukan treking. ada beberapa jalur treking yang disediakan. Mulai dari short trek yang biasa jadi idola para wisatawan lokal karena tidak mau repot, medium trek, Long trek hingga adventure trek. Idola para wisatwan mancanegara adalah yang Long trek, karena pada daerah tertentu di sepanjang trek area itu kita akan melewati sarang komodo (dragon nest).

Asdhar memegang Tongkat kebesaranya

Asdhar mulai menjelaskan sedikit tata tertib memasuki daerah habitat komodo. Asdhar adalah pemuda lokal penduduk kampung komodo yang terletak tidak jauh dari Loh Liang. Kampung komodo adalah satu-satu nya perkampungan yang ada di pulau ini. Ranger bukan lah pekerjaan tetapnya. Sejatinya pemuda tanggung ini sedang menikmati masa libur sekolah nya dari sebuah smk pariwisata di Labuan Bajo, untuk mengisi waktu luangnya dia menjadi Ranger yang bisa mengantarkan para wisatawan untuk melihat lebih dekat habitat hewan purba yang menjadi salah satu daya tarik mata dunia ini.


Si Komo sedang beristirahat siang


Spot pertama yang kami tuju adalah hutan asam. Baru saja memasuki jalur treking saya sudah disambut oleh seekor bayi komodo yang sedang asik berlari-larian di jalur treking di depan saya. Sementara itu tidak jauh dari lokasi kemunculan bayi komodo tersebut terlihat dua ekor komodo dewasa sedang terlihat menikmati istirahat siangnya di bawah pohon asam. Mereka terlihat diam seperti bongkahan batu saja sambil sesekali mendongak kan kepalanya. Lendir-lendir menetes dari mulutnya dan itulah senjata mematikan dari komodo karena dari lendirnya itu tersimpan beberapa bakteri yang mematikan.

Cemas Cemas Narcis
Saya terlihat begitu cemas ketika chandra menyuruh saya untuk jongkok guna berfoto tidak jauh dari sosok komodo. Menurut keterangan dari literatur yang pernah saya baca komodo adalah hewan yang cerdik dan licik. Dia paling pintar mengelabuhi mangsanya. Namun begitu mangsanya lengah dia bisa menyergapnya. Kecepatan lari komodo ternyata cepat juga, bisa mencapai 20km/jam, ternyata lebih cepat dari kecepatan lari saya ha ha. Tapi alhamdulillah hingga saya puas berfoto sang komodo terlihat masih asik menikmati istirahat siang nya.

Tujuan selanjutnya adalah bukit Fregata. Sebelum mencapai puncak bukit itu saya melewati jembatan kecil di tengah hutan asam. Dari atas jembatan itu saya kembali melemparkan pandangan ke segala penjuru arah, kali aja saya menemukan komodo lagi yang sedang beristirahat siang, tapi ternyata saya tidak menemukannya.

Fregata Hill
Sampai di puncak bukit Fregata saya dimanjakan dengan pemandangan yang luar biasa. Bukit-bukit yang ada di pulau ini terlihat begitu indah laksana sebuah lukisan dari seorang maestro yang maha sempurna. Lautan biru, pantai pasir putih dan langit biru yang di tingkahi awan berarak menyatu dalam bentang cakrawala yang idah. Sungguh sebuah pesona yang luar biasa terpancar dari bukit fregata ini.

Puas berfoto dan menikmati panorama yang luar biasa itu saya melanjutkan perjalanan menuruni bukit Fregata. Tujuan selanjutnya adalah kawasan peristirahatan yang berdekatan juga dengan perkantoran Taman Nasional. Ketika saya sedang menikmati sekaleng minuman dingin, Echi dan Asdhar terlihat berjalan menuju ke suatu tempat di bawah pohon, ternyata disana juga terlihat seekor komodo sedang bermalas-malasan di siang terik seperti ini. Bergegas saya mengikutinya, memotret dari dekat hewan purba tersebut.

Chandra dan echi bergegas kembali ke Dermaga
Setelah sampai di titik akhir perjalanan chandra mengajak saya untuk bergegas meninggalkan pulau yang menjadi salah satu tujuan wisata dunia tersebut. Lokasi selanjutnya yang menjadi incaran saya dari tadi adalah pink beach. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapai pantai indah ini, hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit saja dari dermaga Loh Liang. sejatinya pantai ini juga masih berada di pulau Komodo, namun jika kita harus menyisir jalur darat di butuhkan waktu setidaknya 4 jam perjalanan. Menurut saya  yang paling efektif adalah melalui jalur laut karenaccuma membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Ternyata kapal sebesar yang saya tumpangi tidak boleh merapat hingga ke pantai. Tujuannya adalah untuk melindungi biota laut yang ada disana. Kapal hanya boleh menambatkan tali di tempat-tempat yang sudah disediakan. Untuk mencapai pantai biasanya di gunakan sebuah boat kecil, dan kebetulan pak Din tidak melengkapi fasilitas perahu kecil itu di kapal ini, alhasil saya harus berenang untuk mencapai pantai indah tersebut.


Pesona bawah air Pink Beach
Untungnya saya membawa serta casing underwater kamera poket saya. Pemandangan bawah laut yang tersaji begitu memukau sekali. Coral warna-warni terlihat begitu mempesona. Ikan-ikan dengan corak warna-warna cerah juga seolah mengejek saya untuk mengejarnya. Pada kedalaman 5 meter aja semuanya masih terlihat begitu jelas. Visibility air laut disini sungguh bagus sekali.
 

Pantainya sendiri tidak kalah menarik dari panorama bawah airnya. Warna pink yang muncul ketika ombak menyapa pasir pantai sejatinya adalah pecahan-pecahan karang merah yang sudah terjadi ratusan tahun yang lalu. Hanya ada beberapa fenomena alam seperti ini di dunia dan Pink Beach pulau komodo ini adalah salah satunya.

Pesona keindahan pantai nya sendiri akan semakin sempurna jika di lihat dari atas bukit kecil yang membentuk sebuah tanjung kecil. Disebelah kanan adalah pantai Pink dan di sebelah kiri juga ada pantai dan perbukitan indah yang saya tidak tau namanya apa. Mengedarkan pandangan dari atas bukit ini saya dibuat takjub dan merasa bersyukur sekali bisa melihat keindahan yang terhampar begitu luas di bumi Nusantara ini.



Pink Beach yang mempesona


Puas menikmati pesona pantai Pink saya kembali ke kapal dengan susah payah berenang. Arus yang begitu kuat saya rasakan hingga akhirnya Echi menyerah dengan minta bantuan kepada pak Din untuk melemparkan tali kearah nya. Memang perairan pulau komodo ini dikenal dengan arusnya. Sangat tidak cocok bagi para penyelam pemula. Namun jangan khawatir, menurut chandra ada tempat yang bagus buat pemula dan tidak ber arus, Crystal Rock namanya. Saya hanya bisa berandai-andai lagi sambil mencatat nama itu di sanubari saya untuk menjadi destinasi diving  jika nanti sudah mengantongin ijin menyelam.

Kapal kembali melayari lautan kaca dan melewati selat sape. Rencana semula untuk mampir ke pulau Rinca saya batalkan karena waktu sudah terlalu sore untuk berpetualang kesana. Jadi pak Din mengarahkan kapalnya menuju ke Labuan Bajo lagi. Saya akan menikmati sunset yang spektakuler disana, Chandra terlihat tertidur di kasur tipis yang disediakan pak Din di kapalnya, sementara echi sibuk dengan ponsel pintarnya. Saya tidak mau menyia-nyaiakan keindahan yang terpampang di depan mata itu hanya dengan tidur.
Bye Komodo
Hampir 4 jam berlalu dan kapal mulai merapat ke dermaga pariwisata di Labuan Bajo tepat sesaat sebelum matahari tenggelam. Setelah meletakkan barang bawaan di hotel saya mengikuti saran Chandra untuk menikmati sunset dari sebuah cafe yang berlantai tiga. Treetop nama cafenya. Segera saya mempersiapkan kamera di lantai paling atas cafe ini. Secangkir kopi Flores menemani saya menikmati indahnya sunset di labuan bajo petang itu.  Tidak berselang lama  langit terlihat begitu merah merona seperti sedang terbakar. Gumpalan-gumpalan awan hitam juga masih terlihat diatas pulau-pulau kecil yang tersebar di perairan labuan bajo ini. Sengguh fenomena alam yang selalu membuat saya takjub jika menikmatinya.


Sunset yang menggelora di Labuan Bajo

TreeTop yang asik untuk menikmati sunset. Photo by om Chandra Novrizal
Petualangan hari itu di tutup dengan makan malam bersama di pinggir pantai dengan menu seafood. kami bertiga makan dengan lahapnya. Menu seafood yang terhidang secepat kilat habis tak berbekas, dan setelah puas menikmati makan malam saya kembali ke hotel untuk kembali harus packing karena besok pagi akan melanjutkan perjalanan kembali menuju pulau Sumbawa. Sungguh pengalaman yang luar biasa bisa melihat salah satu dari keajaiban dunia yang belum tentu orang lain bisa melihatnya.




Labels: , ,