Tanjung Aan akhir dari sebuah petualangan

View Tanjung Aan dari bukit Merese
" Lang kasih alamat lengkap dah check point rumahnya Titis dong " begitu yang saya baca di pesan BBM dari Echi.

Setelah mengirim balasan tentang alamat lengkap dan check point saya mulai bergegas berkemas.  Tujuan kali ini adalah daerah pantai yang ada di daerah Kuta dan sekitarnya. Entah sudah berapa kali saya menyambangi deretan pantai pantai yang ada di daerah tersebut, tapi selalu ada saja cerita seru yang saya dapatkan setiap kali mengunjunginya.


Mobil sudah menunggu di depan rumah Titis. Saatnya pamitan kepada kedua orang tua Titis yang kebetulan mereka berada di teras rumah. sempat sedikit bergurau dengan mereka sebelum saya masuk ke dalam  mobil.

Mobil mulai melaju meninggalkan daerah rumah Titis yang terletak tidak jauh dari bandara Selaparang. Namun sejak bandara itu tidak di fungsikan jalanan sekitar sedikit lebih lengang dari biasanya.

Kebetulan Echi dapet pinjeman mobil dari saudaranya, lengkap dengan sopirnya lagi ha ha. Ternyata sang Bunda juga ikut serta dalam petualangan kali ini. Bunda adalah saudara Echi yang tingal di Lombok.

Ternyata ada satu lagi peserta yang hendak ikut. Nunink, dia adalah sahabat lama saya dan Echi yang sekarang berdomisili di Lombok. Nunink menunggu kami di depan mall Mataram. Sempat kaget dengan ulah oknum pegawai ini yang ngabur di waktu jam kerja ha ha, hanya satu pesan nya yang selalu kuingat sampai sekarang adalah

" Jangan tag foto perjalanan ini ke gue  hari ini ya " seolah memelas dia memohon kepada kami untuk tidak men tag foto tentang trip kali ini ke akun jejaring sosialnya, takut orang2 kantornya tau ha ha Gokil Nink.

Nasi Balap Puyung yang belum lengkap
Sebelum melanjutkan perjalanan saya diajak Titis untuk mencicipi nasi balap puyung asli cap Inaq Esun yang terletak di dusun Lingkun Daye desa Puyung Lombok Tengah. Letak warung makan khas Sasak ini tersembunyi diantara rumah warga. Kami berjalan kaki sedikit memasuki gang untuk menemukannya. Ini adalah versi asli nasi Balap Puyung yang sudah pernah saya nikmati bersama Titis tadi malam. Warung dan dapurnya menyatu dalam sebuah rumah sederhana. Kami memesan untuk bekal makan siang di pantai nanti. Namun rupanya saya penasaran dengan rasa asli masakan ini hingga akhirnya sambil menunggu mereka mmbungkus beberapa bungkus nasi untuk kami, saya memesan sepiring (bukan piring porselin atau melamin tetapi anyaman yang dialasi dengan daun pisang) nasi Balap Puyung ini. Ternyata rasanya memang luar biasa, Pedas dan bumbunya begitu terasa sekali di lidah, alhasil dalam sekejap saja sudah masuk kedalam perut sexy saya.

Setalah melewati bandara international Praya kami mulai memasuki daerah Kuta. Tujuan utama dari trip ini sebenarnya adalah pantai Mawun, karena pantai itulah yang menjadi pantai favorit saya ketika mengunjungi daerah ini. Namun kondisi jalan sudah begitu rusak parah sehingga mobil yang kami tumpangi merasa tidak mampu menghadapi trek yang seterjal itu. Akhirnya kami merubah haluan menuju daerah Tanjung aan.

Pantai-pantai didaerah ini masih terlihat begitu alami. banyak sekali wisatawan mancanegara sedang asik menikmati indahnya pantai sambil bersantai di beberapa gazebo yang di sewakan oleh masyarakat sekitar. Tujuan saya kali ini adalah menaiki bukit Merese yang ada di salah satu ujung pantai Tanjung Aan. Dari atas bukit ini kita bisa melihat keseluruhan keindahan yang tersaji di pantai ini.


Pesona Tanjung Aan masih terpancar
Bukit-bukit tang terlihat seperti sebuah lukisan yang terdiri berlayer-layer keindahan. Kesemuanya terbalut dengan warna hijau yang berasal dari rumput-rumpt yang tumbuh liar disana. Beberapa pengembala juga sedang terlihat asik menggembalakan sapi maupun kerbaunya di bukit ini.  Kita bisa melihat batu payung dengan begitu dekat dari lokasi ini.

Dibalik bukit ini ternyata memiliki sebuah pantai rahasia yang sungguh indah. Tidak akan terlihat dari jalanan umum jika kita tidak menaiki bukit ini. Sungguh tempat yang romantis jika menikmatinya bersama sang kekasih hati. Saya masih berjalan menyusuri keindahan yang ada disana, sambil sesekali memencet shutter kamera mengabadikan keindahan yang sempurna itu.

Mendung Hadir dan saya harus bergegas menuruni bukit untuk kembali melanjutkan perjalanan ke arah pantai Tanjung Aan nya sendiri. Seperti biasa pantai ini cenderung sedikit rame jika dibandingkan dengan bukit Merese yang baru saja saya datangi. Beberpa wisatawan lokal terlihat sedang asik menikmati keindahan pantai ini. Saya mengajak Echi untuk naik ke atas bukit kecil yang ada di tanjung tersebut. Dari sana kita bisa melihat beberapa sisi pantai yang berpasir putih indah ini. Beberapa bocah terlihat sedang asik bermain air di pantai sebelah kanan bukit. Nunink dan Titis hanya duduk-duduk di bawah sebuah pohon menunggu kami.

Tanjung Aan

Mendung gelap


Mendung semakin gelap, dan hujan rintik-rintik sudah mulai jatuh, itu artinya saya harus segera kembali ke mobil jika tidak ingin basah kuyup terguyur air hujan. Dan benar begitu pintu mobil di tutup hujan turun dengn lebatnya. Mobil kembali melaju mengikuti jalur yang tadi kami lewati untuk kembali ke Mataram.  Pantai Tanjung Aan lambat laun mulai terlihat samar-samar terhalang oleh air hujan yang menempel di jendela mobil. Saya kembali bersyukur bisa kembali menikmati keindahan yang ada di Lombok ini.

Mobil berhenti di area keberangkatan BIL. BIL adalah Bandara International Lombok, sebuah bandara baru yang sangat megah sekali jika dibandingkan dengan bandara lama mereka di Selaparang. Sore ini saya harus kembali ke jakarta setelah 19 hari berkeliling di propinsi Nusa Tenggara ini, sementara echi masih stay beberapa hari di Lombok. Banyak keindahan dan cerita seru sepanjang perjalanan saya mengelilingi daerah-daerah yang belum banyak diketahui orang.  Ternyata Tanjung Aan adalah daerah terakhir yang saya kunjungi selama perjalanan kali ini. Kulit sudah sangat melegam, Rambut juga sudah mulai tak beraturan, kumis dan jenggot sudah mulai tumbuh liar, dan saya juga sudah merindukan kasur empuk di kamar kos kesayangan saya, dan yang paling penting adalah uang disaku sudah riskan sekali untuk melanjutkan perjalanan ha ha. Akhirnya saya putuskan untuk kembali ke rutinitas kegiatan saya sehari-hari seperti biasanya.

Sampai Jumpa pada cerita-cerita petualangan saya selanjutnya.









Labels: , ,