Kelimutu, Mengunjungi istana para arwah.

Kawah Tiwu Koofai Nuamuri dan kawah Tiwu Atapolo
Pagi yang dingin masih menyelimuti kota ende. Mata saya juga masih belum terpejam, entah karena pengeruh virus ONLEN atau akibat "racun" dari segelas kopi flores yang di suguhkan Tuteh kepada saya sebagai Welcome drink ketika saya menginjakkan kaki pertama kali di pulau yang selama ini hanya bisa saya impikan.


Suasana hotel Flores tempat saya menginap juga masih hening sekali pagi buta seperti ini. Semua masih terlelap di peluk oleh dinginnya pagi yang menyelimuti kota Ende. Untuk mengusir sepi saya mencoba menyalakan televisi kecil yang ada dikamar standar saya. Beberapa siaran tv lokal tidak bisa mengusir rasa gundah yang saya rasakan kali ini. Bahagia sekaligus khawatir benar-benar saya rasakan. Tidak tahu kenapa sebenarnya apa yang terjadi dengan saya. Apakah rasa ini disebabkan karena saya kurang tidur dan capek, atau karena sebentar lagi saya akan berada di sebuah tempat yang di percaya sebagai tempat para arwah bersemayam?, entahlah.

"Bang sudah bangun? si Bas sebentar lagi akan jemput ke hotel, tunggu di Lobi aja ya".

Sebuah pesan singkat muncul di layar ponsel saya. Pesan tersebut berasal dari Tuteh yang sudah "meracuni" saya dengan segelas kopi Flores yang nikmat. Setelah membalas pesan tersebut saya segera bersiap dan menuju lobi hotel dan menunggu Bastian sahabat baru saya yang akan mengantarkan ke istana para arwah tersebut.

"Abang sama Bas duluan saja, saya dan yang lain nanti menyusul".

Sebuah pesan singkat muncul lagi di layar ponsel saya. Saya hanya bisa menjawab "OK" saja, rupanya mereka juga mempunyai kendala yang sama yaitu susah bangun pagi ha ha.  Setelah sampai di lobi, ternyata Bastian (seorang Rapper andalan kota Ende, dan biasa di sapa Bas saja) sudah menunggu di depan hotel. Tanpa ba bi bu akhirnya saya segera nangkring di boncengan motor. Setelah berdoa, kami memulai perjalanan. Waktu di pergelangan tangan saya menunjukkan pukul 03:30 WITA, itu artinya masih pukul 02:30 WIB, dan jam segitu sedang enak-enaknya saya memeluk guling di kamar kos saya di daerah Karawaci Tangerang.

Dingin begitu menusuk tulang. Saya hanya mengenakan jaket tipis dengan merek terkenal (bangga), tapi hal itu ternyata sebuah keputusan yang salah besar. Jaket tipis itu tidak bisa menghalau dingin yang rasanya menusuk tulang pagi itu, di tambah lagi si Bas tidak membawakan helm buat saya, itu artinya kepala gundul saya harus di terpa angin pagi yang dinginnya amazing itu. Untunglah tidak selang berapa lama Bas memberikan helm nya untuk saya pakai. Dia berdalih bahwa dengan mengenakan helm mengurangi pandangan nya.

"Gak jelas kalau pakai helm bang"

Begitulah dia berdalih. Tapi ya saya bersyukur karena kepala saya yang sudah botak terlindung dari dingin yang menusuk di pagi buta itu. Perjalan terus berlanjut. Entah sudah berapa belokan kami lalui. Perlu di ketahui jalanan Ende - Kelimutu sangat berliku. Tikungan-tikungan tajam bisa membuat kita celaka jika tidak berhati-hati. Gelap masih mengisi ruang-ruang di depan indera penglihatan saya. Bas juga masih terus mengemudikan motornya dengan cekatan. Saya hanya bisa nemplok dan mengikuti liuk badan dia supaya keseimbangan kami di atas roda dua itu tetap terjaga.

"Istirahat dulu bang"

Bas menghentikan motornya tepat di dekat pertigaan Detosuko. Saya mencoba mengamati daerah sekitar saya. Saya berdiri di pinggir jalan raya Trans Flores. Di depan saya terlihat sebuah kantor polisi yang terlihat sepi, mungkin bapak-bapak petugas itu terlelap dalam capek setelah menjalankan tugas nya tadi siang. Jalanan terlihat lengang sekali. Beberapa onggokan sayur-mayur juga terlihat di pinggir-pinggir jalan yang seolah tanpa pemilik. Saya hanya berfikir "kalau ada begini di Jakarta pasti sudah ludes di ambil orang. Tapi saya juga bersyukur bahwa masyarakat di daerah ini masih memegang teguh adat, sehingga semua terlihat aman-aman saja.

Setelah rasa lelah sedikit hilang saya kembali mengajak Bas untuk segera melanjutkan perjalanan lagi. Misi saya kali ini adalah berburu sunrise dari puncak Gunung Kelimutu. Menurut beberapa literatur yang saya baca, menikmati matahari terbit dari puncak Kelimutu akan luar biasa sekali indahnya. Itulah yang mendorong saya untuk sesegera mungkin sampai di puncak sebelum matahari terbit.

Sunrise yang selalu saya angankan

Setelah melewati simpang tiga sebelum desa Moni, saya melanjutkan perjalanan ke arah  pos Manukoka.Namun di tengan perjalanan ternyata matahari sudah mulai menampak kan sinarnya. Bias cahaya yang di timbulkan di langit pagi itu sungguh menakjubkan. Langit seolah terbakar dengan semburat merahnya. Layer gunung-gunung yang menjadi background dari matahari terbit begitu indah terlihat. Desa Moni terlihat jelas dari lereng gunung ini. Jika saya meneruskan perjalanan tentu saya akan terlewat momen indah seperti itu. Saya memberitahu Bas untuk menghentikan motornya dan saya segera beraksi membidikkan kamera ke arah pemandangan spektakuler tersebut.

Pagi yang berwarna
Perjalanan berlanjut, jalanan sudah bagus dan beraspal. Namun saya harus  berhenti sejenak di pos tersebut guna mengurus perijinan untuk memasuki kawasan Taman Nasional Kelimutu. Tidak susah mengurus perijinan di gerbang Kelimutu ini. Petugas terlihat begitu ramah melayani beberapa pertanyaan saya, dan Violaaa saya sudah memasuki Gerbang Taman Nasional Kelimutu kawan.

Tiba di Casuarina loka jam sudah menunjukan  pukul 06:30. Bas terlihat segera memarkirkan motor bebeknya. Seorang kakek mendekat dan menyapa Selamat Pagi ke saya. Setelah menitikan motor ke Beliau, saya dan Bas mulai berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Ada beberapa rute yang di jelaskan dengan papan pengumuman disana, namun saya lebih memilih rute terpendek saja. Suasana gunung kelimutu pagi itu masih sepi. Pohon-pohon cemara yang penjadi vegetasi utama di area ini juga seolah masih tertidur. Saya terus berjalan walau langkah kaki sudah begitu berat. Perut juga sudah mulai sedikit mual. Penyakit langganan saya adalah Mual jika saya kurang tidur.

Mendekati kawah jenis tumbuhan berubah, beberapa pohon perdu mulai mendominasi vegetasi di area tersebut. Beberapa papan pengumuman juga tersebar. Kehadiran papan Pengumuman tersebut sangat membantu sekali bagi pengunjung seperti saya yang baru pertama kali berkunjung ka lokasi itu.  " Tetaplah berjalan pada pada jalan yang telah di sediakan " anjuran dari sebuah papan pengumuman yang saya baca, inilah yang selalu saya perhatikan jika berkunjung ke tempat-tempat asing dan baru bagi saya.


Kawah Tiwu Atapolo

Kawah Tiwu Atapolo

Adalah kawah pertama yang saya lihat ketika mulai memasuki area kawah puncak Kelimutu. Warnanya sudah Hijau toska, padahal beberapa bulan yang lalu saya masih melihat dari sebuah foto yang di jepret oleh kawan, warna kawah ini masih kemerahan. Kawah ini sudah di lengkapi dengan pagar pembatas sebagai acuan pengunjung untuk tidak melewati batas pagar kalau tidak mau celaka. Rupanya cerita singkat di papan pengumuman yang saya baca tadi memberikan sebuah  pencerahan bagi saya tentang legenda tiga kawah di puncak Gunung kelimutu tersebut. Tersebutlah kawah Tiwu Atapolo ini, menurut kepercayaan masyarakat sekitar bahwa kawah ini di huni oleh arwah orang-orang yang memiliki ilmu hitam. Jadi kawah ini berisi roh-roh jahat yang bisa merenggut nyawa siapapun itu. Jadi orang-orang yang pernah berbuat jahat arwahnya bersemayam di Kawah Tiwu Atapolo ini.

Kawah Tiwu Koofai Nuamuri

Kawah Tiwu Nuamuri Koofai

Setelah puas menikmati pemandangan alam di pinggir kawah Tiwu Atapolo saya segera beranjak untuk menaiki beberapa anak tangga yang sudah di sediakan. Puncak dari anak tangga ini adalah sebuah tugu yang menjadi puncak pengamatan. Dari sana kita bisa melihat dua kawah di depan kita dan satu kawah di belakang kita.  Kawah Tiwu Nuamari Koofai yang satu ini juga tidak luput dari cerita legenda yang di percayai masyarakat sekitar. Menurut keyakinan mereka bahwa kawah ini di huni oleh roh arwah muda-mudi. Cerita ini berdasarkan sebuah kisah klasik percintaan. Sepasang muda-mudi yang sedang di mabuk asmara namun tidak mendapatkan restu dari orang tua. Jalan pintas yang diambil oleh kedua muda-mudi tersebut adalah menceburkan diri ke kawah tersebut. berdasarkan cerita tersebutlah diyakini bahwa danau inilah yang permukaan airnya selalu beriak dan berwarna hijau tosca, sesuai dengan jiwa muda yang selalu dinamis.

Kawah Tiwu Ata Bupu

Kawah Tiwu Ata Bupu.

Kawah terakhir yang saya lihat adalah Tiwu Ata Bupu. Duluanya kawah ini berwarna hitam. Namun fenomena terjadi dan air kawah ini mulai berwarna kehijauan. Dari cerita yang beredar di masyakat bahwa kawah ini di huni oleh arwah para orang tua. Permukaan air di kawah ini terlihat tenang, seperti layaknya orang tua yang bersikap tenang.

Taman Nasional Kelimutu memiliki fungsi yang sangat penting untuk menjaga kelestarian alam disana. Taman nasional yang memiliki 2 fungsi ini, selain mempunyai fungsi sebagai kawasan konservasi, taman nasional ini juga sekaligus di peruntukkan sebagai sebuah destinasi wisata yang menarik. Perubahan warna air yang terjadi di tiga kawah tersebut pernah di teliti oleh para ahli Vulkanologi dari Bandung. Dari penelitian terebut terungkap bahwa perubahan warna air kawah terjadi karena adanya zat kimia yang dikeluarkan oleh bebatuan di dasar kawah.

With my Travelmate ECHI
Di puncak ini saya juga bertemu dengan Echi, sahabat saya dari Jakarta yang kebetulan sedang berada di tanah Flores juga. Dari melihat statusnya di situs jejaring sosial pribadinya, saya mencoba menghubungi dia dan  akhirnya kami bersepakat untuk menjadi travelmate selama perjalanan di Flores Sumbawa Lombok ini.

Ternyata dia sudah berada di puncak terlebih dahulu. Setelah puas berfoto-foto akhirnya dia memutuskan untuk turun terlebih dahulu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dia menginap di desa Moni, desa terdekat yang menyediakan beberapa alternatif penginapan bagi para pengunjung yang ingin menikmati Kelimutu.

Dulu pemisah antara Tiwu Atapolo dan Tiwu Koofai Nuamuri ini bisa di lewati
Hanya saya dan Bastian yang berada di puncak pagi itu selain dua orang bapak-bapak penduduk lokal yang menjadi pedagang disana. Sambil menunggu kabut lewat saya mencoba menikmati segelas kopi. Pemandangan yang terhampar terasa begitu indah untuk hanya sekedar saya nikmati berdua. Di ujung tangga bawah sana terlihat tiga orang sedang bergerak mendekati puncak. Ternyata mereka adalah tiga orang sahabat baru saya juga. Tuteh, Iros dan fawzyah. Mereka terlihat beberapa kali berhenti untuk sekedar beristirahat sejenak. Memang untuk menuju ke puncak di butuhkan sedikit tenaga. namun begitu sudah dampai di puncak, semuanya akan terbayar dengan keindahan yang maha dahsyat kawan.


Narcis itu bukan Dosa kok kawan ha ha
Ada PENCURIIIIII
Setelah semua sampai di puncak acara foto-foto tidak pernah kami lupakan. Bastian sibuk dengan monyet-monyet yang mencuri biskuit roma kelapa nya yang seharusnya menjadi sarapan kami. Namun segelas Popmi panas menyelamatkan kami dari bencana kelaparan di puncak Kelimutu (sedikit lebay) ha ha. Frame demi frame sudah kami ciptakan. Cerita-cerita seru juga sudah kami torehkan di kawah para arwah tersebut. Kabut juga sudah mulai menutupi kawah-kawah tersebut dari pandangan kami. Sebelum semuanya tertutup kabut dan kami akan susah untuk mancari jalan turun, akhirnya diputuskan untuk segera turun menuju Casuarina loka lagi, untuk selanjutnya melanjutkan ke ruang-ruang keindahan lain di bumi Flores ini. Sungguh pengalaman luar biasa bisa menyambangi sebuah destinasi yang begitu mempesona serta bercengkrama dengan para "arwah" di kawah para arwah ini.
***

Pagi yang membara

Bersantai

Monyer ekor panjang yang mendiami puncak Kelimutu

Monyet-monyet disini gemar sekali berdiri seperti ini
Kabut Mulai Datang
Tangga menuju puncak Kelimutu
Papan penunjuk

Labels: , ,