Menapaki air terjun karengi rowa bareng SAC

SAC di depan Polsek Katikutana

Poto by kang Burhan SAC
Pagi rasanya masih membeku, namun tidak di Basecamp SAC ini. Semua sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Pagi ini saya akan ikut dalam kegiatan mereka. Menyelami keindahan sebuah air terjun di daerah Sumba Tengah, tepatnya air Terjun Karenggi Rowa di daerah Anakalang.


SAC adalah kepanjangan dari Sumba Adventure Club, sebuah perkumpulan anak muda (maaf kalau sudah ada yang merasa tua ha ha), yang mempunyai hobby berpetualang dan mencintai lingkungan di pulau Sumba. Visi mereka adalah : Let's save the earth, sedangkan misinya sendiri adalah Aksi penyelamatan lingkungan, aksi kampanye dan promosi lingkungan, aksi advokasi lingkungan, dan menyatu dengan alam. Club yang di gawangi oleh mas Burhan ini rutin mengadakan kegiatan maupun aksi-aksi seperti yang tertera dalam misi mulia mereka. Selain misi diatas mereka juga mempromosikan potensi-potensi wisata pulau Sumba melalui foto-foto dari lensa mereka. Kalau dulu Sumba hanya memiliki Pater Robert Ramone, C.Ss.R. sebagai fotografer terbaik sedaratan Sumba, Sekarang Sumba memiliki beberapa fotografer handal dari sahabat-sahabat SAC seperti Mas Burhan, Mas Hastoto, Mas Andhee. Keberadaan mereka tentunya akan semakin melengkapi jajaran fotografer handal di daratan Sumba, jadi keindahan dan kearifan lokal Sumba akan semakin terkenal ke dunia internasional.


"Mas Tedy sama mas Tekno nanti ambil nasi dulu ya, bawa ke rumah mas Andhee" pesan dari om Toto pagi itu sebelum dia berangkat dari Basecamp menuju checkpoint kami yakni di rumah mas Andhee. Setelah mengambil perbekalan makan siang kami di sebuah rumah makan padang yang pegawainya berasal dari Depok semua, kami segera menuju ke check point. Rupanya disana sudah berkumpul para SAC'ers ramai sekali, oh ya trip Kali ini kami akan touring dari kota Waikabubak ke arah Anakalang di Sumba Tengah. Menurut keterangan yang saya dapat tidak terlalu jauh lokasinya, hanya dibutuhkan sekitar 1 jam perjalanan dengan motor.

Kami sang pendatang gelap
Saya dan Ratih adalah pendatang gelap di club ini, bukan maksudnya saya berkulit gelap lho ya, kalau itu sudah pasti dan saya mensyukurinya ha ha. Kebetulan saya dan Ratih di perbolehkan ikut dalam acara mereka, ini sebuah kehormatan dan kebetulan sekali, jadi saya bisa ikut menikmati indahnya Karenggi Rowa tanpa saya bingung mikir rute dan transportasi kesana.

Yel-yel Seru
Setelah semua persiapan selesai dan semua anggota berkumpul, Mas Burhan memberikan sedikit arahan tentang kegiatan kali ini. Berdoa bersama menjadi agenda selanjutnya agar selama dalam perjalanan nantinya kami semua senantiasa dalam lindungan-Nya. Yel-yel terdengar sangat heroik sekali, dengan terdengarnya yel-yel heroik itu maka perjalanan kali ini akan segera di mulai. Semua mengarah ke motor masing-masing. Para bonceng'ers seperti saya dan Ratih juga sudah siap menunggu sang joki kuda besi tidak jauh dari kuda besinya. Semua terlihat bahagia dan bergembira sekali. Spirit ini lah yang selalu saya rindukan dari daerah. Kekeluargaan mereka terlihat lebih erat bila dibandingan dengan bila kita berada di sebuah kota besar yang biasanya lebih mengutamakan individualisme masing-masing.

Selama perjalanan saya sibuk menjepretkan kamera saya kesana-kemari. Keindahan yang luar biasa sekali terlihat hampir di sepanjang perjalanan. Sawah-sawah dengan padi masih hijau menghampar. Bukit-bukit indah juga seolah ikut melantunkan lagu-lagu bahagia mengiringi perjalanan kami, hingga sebuah kejadian yang tidak diduga terjadi.

Dokter Winda Hilangggg!
"Rombongan Dokter Winda kemana" begitu yang saya dengar ketika semua sudah berkumpul. Setelah beberapa teman mencoba menghubungi  rombongan dokter-dokter muda yang sedang  praktek mengabdikan ilmunya di Sumba itu, baru diketahui ternyata mereka tersesat. Mereka salah mengikuti orang di depannya, karena setelah bertemu dengan mereka saya mencoba bertanya kenapa mereka sampai tersesat, "lha saya ikut orang jaket merah di depan saya" ternyata yang di ikuti mereka itu bukan dari anggota SAC namun dari masyarakat yang kebetulan warna jaket nya sama dengan jaket Team SAC yang di dominasi oleh warna merah.

Nampang boleh dong :)
Pemberhentian pertama kami ada di polsek Katikutana. Pengecekan peserta kembali di lakukan. Setelah semua beres dan peserta kumpul semua, perjalanan ke airterjun di lanjutkan kembali. Medan yang di lalui kali ini bukan lagi jalan besar yang menghubungkan antara Sumba barat dan Sumba Tengah. Namun laju kendaraan berbelok ke kiri ke arah jalan desa yang menanjak. Pemandangan yang tersaji makin dahsyat. Bukit-bukit hijau dikejauhan yang indah, di tingkahi lagi dengan langit biru dan awan berarak. Semua terlihat begitu indah sekali. Hanya satu yang tidak akan pernah saya lupakan, Panasssss.

Setelah melewati tanjakan dan turunan akhirnya kami sampai di sebuah titik akhir dari perjalanan kali ini, airterjun Karenggi Rowa. Sebuah rumah sederhana milik penduduk setempat menjadi titik pemberhentian kami. Motor semua di parkir di halaman rumah tersebut. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan treking sedikit menuruni anak tangga yang terlihat baru saja dibuat, terlihat juga sebuah rumah turbin yang menjadi pembangkit listrik disana.


KarenggiRowa Waterfall
"Subhanallah"

Begitulah yang terucap dalam hati saya ketika melihat air terjun ini. Sebuah pemadangan luar biasa sekali ada di hadapan saya. Dua buah air terjun yang masih alami begitu mempesona, seolah sedang tersenyum menyambut kedatangan kami. Suara gemericik airnya seolah membuai siapapun yang hadir disitu. Lumut-lumut hijau yang memenuhi dinding batu di balik air terjun menambah eksotik penampakan air terjun Karenggi Rowa ini.

Beberapa teman saya sudah terlihat asik berenang, sementara saya masih sibuk dengan rutinitas yang tidak pernah membuat saya bosan jika sedang berkunjung ke suatu tempat. Memotret, dengan merekam keindahan tersebut saya bisa berbagi dengan para sahabat, karena sayang sekali jika keindahan ini hanya saya simpan sendiri saja. Beberapa foto sudah tersimpan di memory card kamera saya, saatnya menikmati kesejukan air terjun ini.  Berada di bawahnya saya seolah sedang di pijat di sebuah spa mahal. Air jernihnya seolah membasuh peluh yang sudah tertumpah akibat panas yang menyengat selama perjalanan tadi, gemericik airnya juga semakin melengkapi keindahan yang tiada tara ini.

Puas berenang di kolam air terjun saatnya makan siang. Sebungkus nasi padang siang itu terasa nikmat sekali, dimakan dalam suasana kekeluargaan dengan pemadangan yang luar biasa. Canda ria diantara kami juga seolah monorehkan sebuah kenangan yang tidak akan mungkin bisa saya lupakan. Berada di sebuah keindahan luar biasa bersama para sahabat yang luar biasa juga.

For Mo information Sumba Adventure Club please Visit SAC Blog.
sumbaadventureclub

***

Berbagi nikmatnya Hamock sama mereka :)
makan siang yuk

ini bukan finalis Lmen lho ya

Rombongan dokter Winda yang hampir tersesat













Labels: , ,