Sumba, Norak di jalan dan Eloknya Kampung Tarung

Indahnya view selama perjalanan yang membuat saya jadi Norak
Matahari rasanya sudah tinggi ketika saya mulai membuka mata terbangun dari tidur panjang. Lelap sekali rasanya tidur saya tadi malam. Mungkin kerena kelelahan yang saya alami membuat saya tidur laksana orang sedang pingsan saja.


Tidak berselang lama dari saya membuka mata pintu kamar saya di ketuk oleh seseorang. Siapakah orang yang mengetuk pintu tersebut, sementara saya tidak memiliki kenalan selain Arel yang baru saya kenal dan mau mengantarkan saya keliling Waingapu kemarin. "sarapan pagi nya pak" suara lirih dari gadis Sumba itu membuat saya segera beranjak dari kasur busa yang telah memberikan surga semalaman bagi saya. Begitu saya membuka pintu kamar dengan mata masih memicing, terlihat sesosok wanita muda dengan wajah khas Sumba tersenyum sambil menyodorkan setangkup roti bakar dan segelas teh panas. Perut saya seketika terasa lapar melihat itu semua, padahal saya dari dulu tidak begitu suka dengan sarapan berwujud roti-rotian seperti itu. Sihir senyuman itu sungguh membuat saya lupa bahwa saya tidak suka roti.

Hotel Elvin yang murah meriah
Setangkup roti bakar lengkap dengan segelas teh panas sudah raib kedalam perut sexy saya. Saatnya berkemas karena "Sinar Lombok Travel" akan menjemput saya sekitar pukul 08:00 WITA. Tidak perlu lama untuk berkemas karena memang saya tidak membongkar keseluruhan isi backpack saya. Tepat ketika saya selesai berkemas dan mandi ada panggilan dari recepcionist bahwa travel yang saya tunggu sudah datang.  Setelah memastikan bahwa tas backpack saya aman di bagasi belakang, saya duduk di bangku sesuai dengan nomer urut yang tertera di tiket pesanan saya. Saya duduk di samping jendela di barisan belakang supir, padahal saya mengincar bisa duduk di depan disamping supir supaya bisa sambil leluasa memotret pemandangan yang akan saya lewati. Hal yang membuat saya agak sedikit sebel adalah ternyata saya adalah orang pertama yang dijemput, alhasil saya harus ikut muter-muter kota Waingapu selama satu jam lebih untuk menjemput para penumpang lainnya. tapi tidak apalah, setidaknya saya bisa citytour gratisan ha ha.



Indahnya alam sumda dari balik jendela mobil
Mobil melaju menuju ke arah kota Waikabubak Sumba barat. Pemandangan luar biasa saya lihat hampir di sepanjang jalan. Apalagi ketika keluar dari kota Waingapu dan memasuki daerah yang bernama Warindi. Pemandangan yang disajikan sungguh memukau sekali. Perbukitan indah yang di selimuti oleh padang rumput hijau. Saya terlihat norak sekali melihat itu semua dengan jepret sana-sini sesuka hati. Penumpang lain hanya tersenyum melihat tingkah aneh saya. Sesekali bahkan saya mengeluarkan kamera saya dari jendela mobil disaat mobil melaju dengan kecepatan kencang sekali. Memang setelah sadar saya merasa seperti orang gila beneran ha ha.

Mobil berhenti sejenak untuk beristirahat dan makan siang. kebetulan perut juga sudah mulai lapar. "RUMAH MAKAN LEMBAH HIJAU" begitu yang saya baca di sebuah spanduk di depan warung. Tidak banyak menunya, hanya 2 jenis sayuran, ayam kampung goreng, telur dadar dan goreng ikan. Saya tertarik dengan ayam kampungnya, namun saya terhenyak sejenak ketika melihat hidangan yang baru di letakkan di meja saya. Sepiring nasi yang porsinya gede dan semangkuk kuah yang saya tidak tau itu kuah apaan, serta segelas teh manis panas yang sangat manis sekali.


Menu Makan saya di rumah makan Lembah Hijau
Sendokan pertama saya juga kembali di buat sedikit kaget, karena nasinya lumayan keras. Untungnya ada semangkuk kuah kuning yang belum saya cicipi. Setelah menyendok kuah dan mencicipinya rasanya lumayan enak, gurih layaknya kuah kaldu yang dikasih bumbu. Tapi apakah ini benar kuah kaldu ayam? yang saya khawatirkan adalah kuah Babi, tapi setelah bertanya ternyata ini adalah kuah kaldu ayam. Dengan bantuan kuah tersebut ternyata saya bisa menghabiskan sepiring nasi itu. Satu lagi pelajaran jika kita hendak menginjakkan kaki di bumi Sumba, jika memesan minuman yang notabene ada gulanya, bilang aja pakai gulanya sedikit aja. tidak jarang saya seperti minum air gula ketika menikmati teh ataupun kopi di Sumba, karena terlalu manis sekali dirasakan oleh lidah pengecap saya.

Tepat pukul 13:00 saya sampai di kota Waikabubak. "Bilang aja ama supirnya mas minta turun di kantor BRI cabang yang paling gede di Waikabubak" sms dari Putri, gadis surabaya yang akan jadi travelmate saya, yang juga sedang menyambangi Sumba dengan misi suci ketemu seseorang yang ada di hatinya, Pritikewwww. Mobil berhenti tepat di depan seberang kantor BRI, tapi mana si Putri ya?. Panas begitu terik sekali ketika Putri dan Prast terlihat melambaikan tangannya keluar dari jalan kecil di samping BRI. Dengan bawaan yang super padat, saya berjalan menghampiri mereka. Ternyata saya di bawa ke sebuah rumah dengan kolam kering di depannya. " ini rumah mas Toto dan temen-temennya mas, kita akan numpang disini selama di Sumba barat", hmmmm nice benak saya berkata.

Di ruang tengah ada juga sesosok perempuan duduk diam sendiri sambil sesekali memperhatikan layar tv. Sepertinya seorang yang pendiam dan gak asik jika diajak ngobrol, tapi ternyata setelah kenal bocor dan asik juga tuh anak, Gokil dan Seru jadinya "ini Ratih mas, Mahasiswi Fotografi dari jogja yang sedang penelitian disini tentang pasola". begitu putri memperkenalkan kami. kami berjabat tangan dan saling menyebut nama masing-masing. "Michael" begitu saya menyebut nama saya. Semua tergelak mendengar itu.

Sore menjelang, kami berempat hendak mengunjungi kampung Tarung. Sebuah kampung adat yang masih memeluk Marapu sebagai landasan dari segala hal dalam menjalankan kehidupan. Tidak terlalu jauh sebenarnya lokasi kampung ini, namun karena jalanannya yang menanjak membuat saya harus mengkonsumsi oksigen sedikit lebih. 

KAMPUNG TARUNG

Suasana Halaman Bersama Kampung Tarung
Terlihat anak-anak kecil sedang asik bermain, beberapa ibu juga terlihat sedang asik menenun. Saya berhenti di salah satu rumah yang menurut keterangan putri akan menggelar prosesi "tarik batu" karena hendak mengganti batu penutup kubur yang pecah. Namun ternyata acara tersebut tertunda karena semua orang sibuk dengan Pasola esok hari. Saya hanya melihat-lihat selendang kecil hasil tenunan nona Lewa yang punya rumah ini.

Kampung Waitabar yang menjadi tetangga kampung Tarung


Kubur Batu di Kampung tarung
Kampung Tarung ini menarik sekali. Rumah-rumahnya masih dibangun secara tradisional dengan ajaran marapu sebagai falsafah dasar segala urusan dalam kehidupan mereka. Atapnya yang tinggi keatas terbuat dari daun ilalang yang akan tahan selama hampir 10 tahun. Penggunaan atap ilalang ini sangat cocok sekali dengan iklim di Sumba yang panas. Di "halaman bersama" desa juga terlihat beberapa kubur batu. Di kubur batu itulah bersemayam leluhur mereka. Hal ini mengelitik rasa penasaran saya, akhirnya saya mendapatkan jawaban bahwa para leluhur yang sudah meninggal itu masih di anggap hidup meski berada di dunia lain, selain itu keberadaan kubur batu di halaman bersama desa juga bertujuan memberikan peringatan kepada warga yang masih hidup bahwa mereka juga nantinya akan berada di kubur batu itu ketika kematian menjemput.

Tidak ada batas antara leluhur dan yang masih hidup

Menenun adalah kegiatan rutin para wanita penghuni Kampung tarung
Marapu sendiri adalah sebuah kepercayaan kuno yang menjadi falsafah dasar dari kehidupan suku asli di Sumba, biasanya di terapkan pada upacara-upacara adat, rumah-rumah ibadah (Umaratu), rumah-rumah adat dan tata rancang bangunnya, hiasan-hiasan ukiran hingga corak dalam pembuatan busana seperti hinggi dan lau. Dalam marapu mereka mengenal maramba (bangsawan dan raja), Kabisu (pemuka agama), dan Ata (rakyat jelata). Namun satu hal yang saya jumpai ketika mengunjungi beberapa kampung adat di Sumba, bahwa strata seperti itu sudah tidak begitu kelihatan lagi. Semua sudah membaur seiring dengan berkembangnya jaman. Kini listrik sudah masuk ke perkampungan suku asli sumba seperti di Kampung Tarung. Dering nada dari panggilan ponsel juga menghiasi indera pendengaran saya. Semuanya sudah sedikit bergeser.

Umbu Lostpacker
Yang menarik saya justru busana tradisional mereka. Di beberpa daerah yang saya kunjungi saya biasanya menyempatkan diri mencoba busana tradisional mereka. Tidak terkecuali di sumba. Saya sangat antusias sekali ketika ada tawaran untuk mencoba busana daerah sumba ketika berada di sebuah rumah milik nona Lewa. Beliau dengan antusiasnya memasangkan  Hinggi ke tubuh saya. Hinggi sendiri adalah kain penutup badan kaum lelaki suku asli sumba. Kain ini dibagi menjadi dua bagian, yakni hinggi Kombu yang di ikatkan pada pinggul saya, biasanya di ikat dengan ikat pinggang kulit dan hinggi Kaworu atau terkadang hanya sebagai pelengkap saja. Sebelum memasangkan hinggi di tubuh saya sebenarnya nona Lewa sudah memasangkan tiara patang, yakni sejenis ikat kepala yang dibentuk berjambul. Setelah semua terpasang sempurna beliau lari kedalam rumah untuk mengambil sebilah Kabiala atau sejenis parang lokal yang di sematkan di pinggang sebelah kiri saya. ahhh saya merasa gagah sekali sore itu dengan pakaian tradisional ksatria dari Sumba.

Nona Lewa sedang mendandani saya
Sementara saya sibuk berfoto dengan seragam kebasaran saya itu, Ratih yang notabene adalah travelmate baru saya juga tidak mau kalah. Sebuah Lau pahudu, kain berbentuk sarung di pakaikan nona Lewa untuknya. Kaleko atau tas tradisional yang terbuat dari anyaman tumbuhan sejenis pandan juga terpasang dengan indah di pundaknya.  Pakaian ini dipakai biasanya pada acara-acara adat atau jika hendak mengahdiri pesta.

Matahari sudah beranjak ke ufuk barat ketika saya sedang asik mengabadikan keeksotikan kampung itu dalam rekaman lensa saya, itu artinya saya harus bergegas pulang meninggalkan kampung adat ini. Sungguh sebuah pengalaman luar biasa bisa mengenal kampung Tarung ini. Sebuah kampung yang masih bisa mempertahankan keelokan tradisinya dari gempuran budaya asing yang mulai masuk ke bumi Nusa cendana itu. Hanya satu harapan saya semoga kelestarian kampung ini tetap terjaga hingga nanti anak cucu kita masih bisa mengenal apa itu Marapu. Semoga..


Eksis nya kami di Kampung Tarung

Labels: , ,