Sumba, Hupumada yang berkabung

Di kubur batu ini lah Jenazah baru saja di kuburkan
Pagi yang membingungkan, berada diantara pilihan sulit harus saya alami. Pergi ikut menyaksikan Pasola di Kodi atau ikut upacara penguburan Jenazah di kampung Hupumada Wanokaka. Akhirnya setelah berdiskusi sedikit dengan Putri selaku travel mate saya, kami lebih memilih ikut upacara penguburan.


Siang ini terasa begitu terik ketika sepeda motor yang tidak ber rem depan ini melaju membawa saya menuju kampung Tarumana di Wanokaka. Sepanjang jalan yang saya lihat perbukitan indah dan sawah-sawah yang baru saja memasuki masa tanam sepertinya. Semua terlihat hijau dan subur. Tapi kenapa cuaca siang itu begitu terik ya?

Kampung Tarumana tempat mama Weru tinggal

Teras rumah mama Weru yang sejuk

Tulang-tulang seperti ini ternyata dijadikan simbol strata sebuah keluarga


Tepat pukul 12:00 saya bersama dua travelmate saya Putri dan Ratih sampai di kampung Tarumana Wanokaka. Mama Weru mempersilahkan kami masuk ke dalam rumahnya. Namun kami memilih untuk duduk-duduk saja di teras depan.

"Papa Weru mana ma?"
tanya Ratih yang memecah keheningan siang itu.

"Papa masih tidur"
jawab mama Weru atas pertanyaan Ratih tadi.

"Tadi pagi kami baru saja pulang dari rumah duka di kampung Hupumada, karena tadi malam tidak ada ojek yang menjemput maka kami tidur di rumah duka"

mama Weru menjelaskan kenapa Papa Weru masih tidur jam segini. Menurut mama sang Bibi yang meninggal akan di masuk kan ke dalam kubur batu siang ini jam 14:00. Mendengar itu akhirnya kami bergegas untuk mempersiapkan diri menuju kampung Hupumada. Mama Weru terlihat anggun sekali menggunakan sarung adat dan bajuhitam dengan motif warna warni. Rambut beliau di gelung ke belakang menambah keanggunan dari wanita Sumba. Aku hanya membayangkan bagaimana mudanya si mama ya, pasti anggun sekali.
"Mama nya cantik ya mas"
seloroh Putri, ternyata bukan saya saja yang mengagumi kecantikan mama Weru.

Tepat pukul 13:00 kami berangkat dari kampung Tarumana menuju kampung Hupumada di Wanokaka. Jalur yang di tempuh lumayan terjal. Jalanan berlobang disana-sini. Terlihat memang masih ada sisa-sisa bekas aspal yang menempel, namun sudah rusak parah. Begitu memasuki kampung Hupumada saya memarkirkan motor yang saya tumpang di samping salah satu rumah. Namun begitu melewati sebuah kubur batu saya mencium bau yang menyengat sekali. dalam hati saya berfikir
"jangan-jangan upacara penguburan sudah selesai ini" dan benar adanya, sedikit berbisik ratih mengutarakan sesuatu "sudah buru-buru kita kesini mas ternyata upacara pemakamannya sudah dilaksanakan tadi jam 12:00" yahhh ketinggalan dah momen langka yang jarang di jumpai di bumi Nusa Cencana ini.

Kampung Hupumada

Seorang pria paruh baya menyambut saya mempersilahkan masuk ke dalam teras rumah. Disana juga terlihat beberapa kerabat yang sedang berkabung. Kami terlibat dalam perbincangan seru dengan beliau. Mulai dari keberhasilan anak-anaknya yang menempuh gelar sarjana muda di Kupang, sampai dengan tradisi "boros" masyarakat sumba.
"sebenarnya kami ingin memakamkan jenazahnya besok hari sabtu, namun karena baunya sudah mengganggu dan takut membahayakan yang masih hidup, maka kami memutuskan untuk segera memakamkannya" begitulah penjelasan yang  saya dapatkan dari beliau. Pesta adat prosesi nya tetap akan di gelar sabtu besok. Beliau juga menyempatkan diri mengundang saya dan teman-teman untuk hadir dalam acara tersebut. Akan ada penyembelihan beberapa ekor babi dan 10 ekor kerbau jantan sabtu nanti. Biasanya keluarga besar ini akan berkumpul ketika ada pesta prosesi kematian seperti ini. Akhirnya saya bisa menarik kesimpulan dari kata "boros" yang di ucapkan bapak di awal perjumpaan kami tadi.

Beliau sangat antusias sekali di foto

Foto bersama
"apakah saya boleh memotret disini bapak" ijin saya ketika hendak mengabadikan momen itu dalam rekaman lensa saya. Beliau menjawab dengan antusias sekali mempersilahkan saya memotret. Kejadian lucu yang saya lihat adalah beliau beranjak dari tempat duduknya tadi dan segera masuk kedalam rumah untuk berganti baju lengkap dengan hinggi kombu, tiara patang dan golok kebesarannya. Setelah siap beliau ingin di foto di depan rumahnya. Dalam hati saya berfikir "ada saingan narcis neh" ha ha. Beliau terlihat bahagia sekali melihat hasil bidikan lensa saya. Sebelum beliau meminta untuk saya cetakin fotonya, saya juga sudah berfikiran untuk mencetak kan foto ini sebagai kenang-kenangan sari saya.

Gaya nya asik banget..
Kalau kampung saya ada di sebelah "mama Weru bercerita". Baliau malah mengajak kami untuk mengunjungi kampung halamannya. Hanya jalan setapak yang menghubungkan kampung ini. Memasuki kampung saya disambut dengan riuhnya anak-anak kecil dan beberapa rumah adat sumba lengkap dengan kubur batu nya. Melihat saya membawa kamera, anak-anak kecil ini sangat gembira sekali jika saya mengarahkan moncong lensa saya ke arah mereka. Gaya-gaya lugu nan spektakuler pun keluar dari mereka. Keriuhan kembali terjadi tatkala saya memperlihatkan kepada mereka hasil jepretan tadi. Gelak tawa seketika meriuhkan kampung yang sunyi ini.

Mereka pada bahagia lihat wajah-wajah mereka sendiri di kamera

Sore menjelang, saatnya saya dan teman-teman harus berpamitan kepada tuan rumah. Mama Weru dan seluruh tuan rumah menyalami kami satu persatu, mengantarkan sampai ke depan rumah. Terlihat beberapa kerabat yang hadir sedang menikmati santapan yang lezat kayaknya. Sepiring nasi putih dan beberapa bongkahan daging babi. Saya terharu bisa di sambut dengan hangat oleh keluarga ini.

Saya kembali memacu motor pinjaman ini menaiki bukit dengan suara nya yang maraung-raung seolah protes kecapekan saya naiki dengan jalanan yang menanjak. Meskipun saya gagal menyaksikan upacara adat ini, namun setidaknya saya mendapatkan pelajaran berharga sekali dari sebuah keluarga yang sedang berkabung, tentang kearifan serta  tentang memaknai sebuah kehidupan.












Labels: , ,