Teluk Kiluan, The Real Adventure


Pulau kelapa di Teluk Kiluan
Deru gemuruh ombak besahut-sahutan di depan indera penglihatan saya. Daun daun kelapa juga seolah menarikan sebuah tarian sakral dengan beat kencang dan menghentak. Sementara itu london shymponi mengalun dari playlist yang sedang saya dengarkan. Berada di salah satu pelosok keindahan negeri ini rasanya sebuah anugrah bagi saya.

Surga tersembunyi itu bernama kiluan, terletak di kabupaten Tanggamus propinsi Lampung. Sebuah perpaduan keindahan yang sempurna ketika birunya langit, jernihnya air laut dan putihnya pasir pantai yang landai berpadu. Belum lagi daya tarik dari gerombolan dolphin yang manari-nari riang di laut lepas. Teluk kiluan merupakan jalur migrasi dolphin jenis mulut botol. Hampir setiap hari mereka menampak kan diri bermain di permukaan laut Kiluan. Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit berperahu dari pesisir teluk kita sudah berada di tengah laut kiluan untuk menikmati atraksi dolphin di habitat aslinya. Perahu yang digunakan disini adalah jenis ketinting, mirip dengan perahu-perahu yang saya jumpai di daerah AMED Bali Timur. Untuk melihat atraksi lumba-lumba satu perahu dibatasi maksimal 3 orang dengan 1 pemandu merangkap tukang perahu dengan mempertibangkan keselamatan.

Pelabuhan Merak

Pulau Kecil di samping Pelabuhan Merak
Sesaat sebelum berlabuh do Bakauheni
Setelah menempuh perjalanan 12 jam dari kota Tangerang sampai lah saya di sebuah cottage sederhana yang tepat berada di sebuah Teluk kecil. Teluk kiluan, begitu nama daerah ini disebut. Akses jalan menuju daerah ini tidaklah mudah, jalanan rusak parah saya menjadi tantangan mengemudi tersendiri bagi saya. Apalagi di 36 kilometer terakhir sebelum mencapai teluk ini. Hal ini masih di tambah harus melalui sungai-sungai yang jembatannya putus. Tidak disarankan mobil jenis sedan untuk menempuh rute ini.
 
Sebagian jalanan nya Mulus seperti ini

Jalanan sudah mulai tidak beraspal

Sampai di rumah bapak Maimun pengelola cottage yang saya sewa tepat beberapa saat menjelang magrib. Ombak di belakang rumah nya terlihat sedang tidak bersahabat. Sementara saya dan beberapa teman kantor yang menjadi teman perjalanan kali ini harus menyeberang ke seberang teluk untuk sampai ke cottage yang sudah saya pesan. Melihat ganasnya ombak dan kencang nya angin petang itu hati saya sedikit menciut, karena teman yang saya bawa kali ini bukan lah para petualang yang justru suka dengan kondisi seperti ini, mereka adalah sahabat-sahabat rekan sekerja saya, bahkan 3 diantaranya adalah wanita.

Selamat Datang di Teluk Kiluan

Perahu yang di gunakan adalah jenis ketinting bercadik. Karena kami berlima maka dibagi menjadi dua kali penyeberangan. Saya memutuskan 3 orang sahabat jalan dulu bersama dua orang pengelola cottage yang merangkap jadi tukang kemudi kapal. Jujur ada sedikit rasa khawatir melihat kapal kecil itu lambat laun menghilang di kegelapan malam, karena memang tidak ada penerangan sekali pada perahu ketinting kecil itu. 30 menit rasanya setahun bagi penantian diantara raca cemas itu, hingga akhirnya ada bunyi perahu mendekat. Dalam hati saya tersenyum gembira karena hal itu dapat diartikan juga mereka sudah tiba dengan selamat di cottage. Saya pun bersegera untuk menaiki perahu dan kami pun berlayar di tengah gelombang dan angin yang sedikit kurang bersahabat.

Badan saya basah kuyup oleh hempasan ombak laut yang terlihat ganas malam itu. Saya mendongakkan kepala ke langit ternyata bintang-bintang bertebaran diatas sana. Di kegelapan malam dan di tengah ganas nya cuaca saat itu saya tidak tahu kenapa tiba-tiba merasa dekat sekali dengan sang khalik, hingga saya sampai pada sebuah teluk kecil yang terlihat ada sumber cahaya, yah itulah Maimun cottage, sebuah rumah panggung sederhana yang menghadap ke pantai berpasir putih dan bening.



Maimun Cottage

Sebuah rumah panggung berdinding bilik bambu yang sederhana, terdapaat sebuah ruang tengah kecil dan 3 kamar tidur sederhana dengan fasilitas kasur juga seadanya. Namun disiniah letak dari the real adventure nya. Meski angin diluar lumayan kencang, namun di rumah ini terasa hangat. Mungkin dikarenakan semua instrumen pembentuk rumah ini berasal dari perpaduan antara kayu, bambu dan atap dari unsur alami juga semacam sabut.

Setelah bersih-bersih diri, hidangan makan malam sudah tersedia, juga dengan menu sederahana, cuma nasi, sambel, goreng ikan dan irisan mentimun sebagai lalapan. Alhamdulillah semua terlihat lahap malam itu. Perut sudah terisi, niatan untuk menghabiskan malam di pinggir pantai saya urungkan karena angin bertiup lumayan kencang sekali. Terlihat beberapa saung di pinggir pantai yang jika cuaca "teduh" mungkin akan sangat nikmat sekali menikmati laut dimalam hari dari situ. Tidak berselang lama dari acara makan malam semua sudah mengambil posisi istirahat. Memang sebuah perjalanan yang sangat melelahkan hampir 12 jam perjalanan menempuh rute Tangerang-Merak-Bakauheni-Teluk betung-Pesawaran-Kiluan. Rute yang saya lalui juga lumayan terjal, tak jarang mobil yang saya kendarai harus masuk ke jalanan berlubang. Bahkan saya harus melalui dua sungai yang jembatan kayunya rusak, terpaksa mobil harus masuk kedalam sungai, untungnya sungainya dalam keadaan kering. Tanjakan dan turunan curam dengan jalanan yang rusak parah dan tidak beraspal juga memberikan sensasi tersendiri. Sangat tidak disarankan mengendarai mobil jenis sedan ke daerah ini. 


Pagi di depan Maimun Cottage

Pagi menjelang, tampak matahari sedikit ogah-ogahan memancarkan sinarnya. Tubuh saya masih merasakan dinginnya pagi. Saya terbangun jam 03.00 dinihari. Hembusan angin kencang dan rintik hujan rupanya berhasil membangunkan saya. Melongok ke luar jendela kamar ternyata angin bertiup sangat kencang sekali. Belum lagi gemuruh ombak semakin membuat hati siapapun ciut. Yang membuat saya agak tenang adalah tiga orang penduduk lokal yang menjaga cottage ini masih terlihat lelap dalam tidurnya disebuah bangunan cottage yang tidak berpintu disamping bangunan yang saya tempati. Setelah angin reda saya mulai beranjak keluar rumah dan duduk di sebuah bangku kecil tepat di pinggir pantai. Riak-riak ombak menjilati mata kaki saya. Dingin masih saya rasakan karena angin masih bertiup. Langit sudah mulai terang, namun mendung begitu menggelayut diatas cakrawala. Niatan saya untuk menghangatkan diri dengan bermandikan sinar matahari pagi pupuslah sudah. Dalam hati hanya bisa berdoa semoga mendung ini segera berlalu.

"Lihat besok ya mas, kalau cuaca teduh kita bisa lihat dolphin" begitu ujar pak sofi'i petang kemarin. Dan cuaca pagi ini masih terlihat kurang bersahabat. Saya pesimis untuk bisa bertemu dengan rombongan dolphin disaat cuaca ombak besar seperti ini.


Bermain Air di depan Cottage

"Kayaknya badai akan turun mas, kita gak bisa ke tengah lagi" seloroh sang nahkoda perasu ketinting di belakang saya. Saya menyerahkan semua kepada beliau, karena beliaulah yang tau kondisi laut sekarang. Alhamdulillah tidak berselang lama ada kode dari perahu satunya lagi untuk mendekat ke arah mereka, dan benar di dekat mereka terlihat rombongan dolphin bermain dengan riangnya diantara perahu kami. Bahkan beberapa diantarnya memberikan atraksi lompatan-lompatan keudara, dalam hati saya bersyukur. Hanya terlihat 2 perahu kami saja. Padahal biasanya banyak sekali perahu-perahu yang sedang berburu menyaksikan atraksi dolphin juga. Mungkin mereka ragu dengan cuaca ombak seperti itu, bahkan komentar dari pak sofi'I makin membuat kami bersyukur karena hari kemarin hampir semua perahu tidak bertemu dengan dolphin, padahal cuaca hari kemarin terlihat cerah sekali, ah beruntungnya kami hari itu.

Setelah puas dengan tarian-tarian dolphin diantara kami, perahu satunya mulai berbalik arah menuju daratan. Ternyata salah satu dari teman saya yang ada di perahu tersebut mual, mungkin karena goncangan-goncangan ombak mengocok isi perutnya. Maka perahu yang saya tumpangi pun mengikuti untuk mendekat ke pantai dimana Maimun cottage berada. Berenang di laut menjadi agenda saya selanjut. Mencoba bermain volly di air ternyata seru juga.


Pulau kelapa nan Permai

Setelah puas bermain di laut saya mengajak mereka untuk menyeberang ke pulau Kelapa yang tepat berada di depan cottage kami. Tidak membutuhkan waktu lama kami sudah berada di pulau kelapa. Sebuah laguna kecil di balik pulau ternyata begitu indah di nikmati dari puncak bukit karang. Ingin sekali meloncat dari atas bukit karang tersebut ke dalam laguna. Namun hempasan ombak terlihat begitu besar menghempas ke dinding karang laguna, melihat itu ternyata nyali saya jadi ciut juga ha ha, belum lagi terjalnya bebatuan karang dibawah saya, salah ambil ancang-ancang melompat bisa-bisa saya mendarat bukan di lagunanya tapi di ujung bebatuan karang tersebut yang terlihat runcing dan terjal.


Dari atas bukit karang di pulau Kelapa

Pulau kelapa yang terletak di tengah teluk kiluan juga merupakan daya tarik tersendiri. Sebuah pulau kecil dengan pantai landai dan pasir putih halus merupakan tempat yang cocok untuk bersantai menikmati pemandangan laut yang indah. Air laut yang jernih dijamin akan membuat betah siapapun untuk berlama-lama disana. Bagi yang suka bersnorkling, area ini juga tempat yang cocok untuk melihat keindahan bawah air itu. Jika tidak membawa peralatan snorkeling Sekedar berenang dan menikmati jernihnya air laut juga tak kalah asik dilakukan disini. Bagi yang suka petualangan sedikit extreme pulau kecil ini juga menawarkannya. Melompat dari bukit karang yang terjal ke dalam sebuah laguna kecil di balik pulau ini. Namun harus berhati-hati karena karang yang lumayan terjal. Untuk yang kurang bernyali duduk diatas bukit karang menandang deburan ombak dan hamparan laut juga memberikan kepuasan tersendiri, dan tidak disarankan bagi anda yang suka galau berada di lokasi ini, dijamin langsung GALAU ha ha.

mari MengGalau ha ha

Puas menikmati damainya berada diatas bukit karang, saya kembali turun ke sisi pulau lainnya yang memiliki pantai pasir putih landai berpadu dengan jernihnya air laut. Sahabat-sahabat saya ternyata sudah menanti kehadiran saya disana. Memang saya turun belakangan dari puncak bukit karang. Rasanya berlama-lama berada di bukit karang karena terasa damai sekali berada disana. Ditengah terpaan angin laut dan nyanyian debur ombak yang mengempas karang. Namun mendung dan angin kencang mulai datang, dan artinya kami harus bergegas kembali ke cottage dan berkemas.

Pulang dari cottage ke daratan Lampung kembali menggunakan perahu Ketinting milik bapak Sofi’i. Niatan semua kami berlima akan berangkat sekali jalan dengan satu perahu itu, namun begitu hendak menaikkan barang-barang bawaan kami ke perahu angin dan badai bertiup sangat kencang, sehingga saya ambil keputusan untuk tetap dibagi dua pemberangkatan seperti kemarin malam. Saya kembali memilih untuk berada di pemberangkatan kedua atau terakhir dengan menastikan semua banik-baik saja telebih dahulu. Benar adanya ketika saya berada di dalam perahu bercadik itu angin bertiup sangat kencang sekali sehingga semua basah kuyup karena hempasan ombak. Setelah sampai di rumah bapak Maimun semua bersih-bersih diri untuk segera makan siang dan mulai menempuh perjalanan pulang ke Jakarta. Nah di saat kami sedang asik makan hujan turun dengan lebatnya, dalam hati saya hanya berdoa semoga hujan segera berhenti. Terbayang sudah jalanan pulang sudah parah ditambah lagi hujan pasti akan mempersulit saya dalam mengendarai mobil. Dan Alhamdulillah doaku di ijabah sama gusti Allah SWT, dan kami pun pulang meninggalkan sejuta kenangan seru di teluk ini.



Sepanjang Perjalanan

Ternyata petualangan ini tidak berhenti di jalanan rusak saja, begitu sampai di pelabuhan Bakauheni tepat pukul 20:00 ternyata kondisi cuaca sedang buruk. Tidak ada kapal yang berani berlayar ketika ketinggian Gelombang dikabarkan mencapai 6 meter. Terlihat wajah-wajah lelah dari sahabat-sahabat saya yang besok harus kembali masuk kantor. Tapi apa daya, alam sedang menunjukkan kuasanya, dan saya hanya bisa kembali berdoa semoga badai ini segera berlalu. Dan benar tepat pukul 02:30 mobil yang saya kendarai dapat giliran untuk masuk kedalam kapal. Alhamdulillah.

Tepat pukul 05:00 saya sudah berada di pelabuhan Merak, artinya saya harus bergegas untuk meninggalkan pelabuhan karena kami harus kembali ke kantor tepat pukul 8.00 pagi. Terlihat mereka mulai terlelap dengan tidurnya, sementara saya harus tetap waspada dan focus ke jalan karena harus berkendara. Mobil saya geber lumayan kencang pagi itu, kebetulan jalan TOL Merak-Tangerang ini dalam keadaan sepi. Tidak sampai satu jam saya sudah berada di daerah Kutabumi Tangerang untuk mengantarkan salah satu teman saya, tepat pukul 07:00 saya sudah berada kembali di kantor di area bandara Soekarno Hatta yang menjadi starting point ketika kami memulai perjalanan kemarin. Sebuah petualangan singkat yang sangat berkesan. Allhamdulillah.

Perhatikan Rambu-rambu penunjuk jalan seperti ini

Narcis bukan Dosa kan ya :)

Akses menuju ke Teluk ini bisa di capai melalui kota Bandar lampung. Jika anda dari arah Jakarta bisa melalui rute menuju ke pelabuhan merak terlebih dahulu. Dari merak menyeberang ke pelabuhan Bakauheni di lampung dengan kapal Ferry. Lama perjalanan bisa ditempuh dengan waktu berkisar antara 2-4jam, tergantung kondisi kapal dan cuaca. Untuk biaya penyeberangan jika anda membawa mobil pribadi berjenis sedan atau minibus dengan tinggi dibawah 5 meter dikenakan biaya 235.000 rupiah, itu sudah beserta tiket penumpang di dalam mobil. Dari Bakauheni selanjutnya bisa mengarah ke kota Bandar lampung dengan jarak tempuh sekitar 2-3jam.

Namun jika ingin lebih cepat bisa ambil jalan pintas kearah Pelabuhan Panjang dilanjutkan ke cek poin Teluk Betung, dari Teluk Betung tinggal ambil jalan Lurus kearah Padang Cermin. Kita akan melewati simpang tiga kecil yang jika kita belok kiri akan mengarah ke kawasan wisata Pantai Mutun. Jika tidak mau mampir ambil arah lurus terus akan melwati pasar Hanura. Jika ingin menikmati Gulai kepala Simba silahkan mampir di sebuah rumah makan di sebelah kiri jalan di area pasar ini. Rasanya lezat sekali. Masih ambil jalan lurus hingga ketemu pertigaan besar, jika ke kanan kea rah Padang cermin, jika ke kiri kea rah Teluk Kiluan. Ada rambu penanda di pertigaan ini. Jika say abaca Teluk Kiluan 32km. justru perjuangan berawal dari titik ini. Jalanan berubah hampir 80 derajat. Jalanan berliku, terjal, rusak parah, belum lagi tanjakan dan turunan curam. Offroad akan semakin lengkap setelah kita melewati 2 sungai kering yang jembatannya rusak, jadi mobil harus masuk kedalam sungai. Ketika memasuki area teluk kita akan melewati turunan curam yang hampir 45 derajat sudut kemiringannya, dengan komposisi di sebelah jurang, Tapi semua terbayar dengan keindahan yang di dapat. Tidak disarankan menggunakan mobil jenis sedan untuk menuju ke Teluk ini.


Untuk Urusan Akomodasi dan urusan perut tidak perlu khawatir, ada beberapa alternatif penginapan yang tersedia disini, diantaranya adalah penginapan di pulau kelapa dan Maimun Cottage yang letaknya berseberangan dengan pulau Kelapa. Di Pulau Kelapa tersedia beberapa kamar untuk disewakan. Tapi lebih cocoknya di sebut rumah bedeng, karena terdiri dari satu bangunan memanjang dengan disekat menjadi 5 kamar. Fasilitas kamar mandi ada di luar bangunan. Jangan khawatir dengan air tawar di pulau kecil ini. Ketersediaan air tawar di pulau ini cukup melimpah. Biaya sewa satu kamar berkisar antara 150-200ribu. Lain lagi dengan Maimun Cottage yang terletak di seberang pulau ini. Satu cottage terdiri dari 3 kamar dan satu kamar mandi di dalam di sewakan dengan harga 350ribu. Cuma ada satu cottage disini. Tapi terlihat sedang dibangun bangunan cottage satu lagi tepat disebelah kanan bangunan. Untuk makan kita bisa meminta pengelola mempersiapkannya, biasanya sekali makan di tariff 15.000 per orang. Untuk jasa penyeberangan dari pesisir teluk menuju ke pulau kelapa maupun ke maimun cottage dikenakan biaya 10.000 perorang persekali jalan. Sementara untuk menikmati atraksi lumba-lumba di tengah laut tariff kapal 250 ribu dengan maksimal penumpang 3 orang.

Labels: ,