Sumedang, Gagalnya sebuah ritual Tahun baruan



Malam pergantian tahun tinggal beberapa hari lagi, namun belum juga ada rencana untuk menghabiskan malam yang bagi sebagian orang dianggap sakral ini. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dengan beberapa sahabat saya untuk ikut mudik ke kampung salah satu diantara mereka ke daerah Sumedang.

Cek point tempat ngumpul kami adalah di PGC, sebelumnya saya tidak tahu dimana dan apa itu PGC, ternyata adalah sebuah Mall yang lumayan megah. Dari situ saya baru tahu ternyata PGC itu adalah singkatan dari pusat grosir cililitan. Setelah semuanya ngumpul kami memulai perjalanan sekitar pukul 20:30. Alhamdulillah jalanan lancar jaya, sempat istirahat sejenak di rest area untuk menumpahkan segala isi hati (buang air kecil maksudnya ha ha).
Sekitar pukul 01.30 dini hari kami sampai di sebuah rumah yang lumayan asri dengan banyak pepohonan. Letaknya yang persis di kelilingi sawah pasti akan menyejukan sekali berada di rumah ini. Disamping kiri rumah terlihat sebuah kolam ikan lengkap dengan saungnya. Mungkin disaung itulah keluarga ini berkumpul untuk sekedar bercengkrama satu sama lainnya.
Tidak tahu kenapa tiba-tiba saja saat itu perut saya memberikan sebuah kode rahasia bahwa dia minta di isi semangkuk indomei rebus panas lengkap dengan telornya dua biji dan irisan cabe rawit. Setelah menyampaikan sedikit curhatan perut saya ke sahabat yang notabene adalah salah satu anggota keluarga tersebut, saya mendapatkan semangkuk indomie rebus nan enak dan aduhay sekali itu jika dipandang.
Pagi di tahun baru 2012

Pagi menjelang, disaat semua teman-teman saya masih terkapar dengan manisnya sambil memeluk mimpi-mimpi indahnya, saya sudah bergerilya di area persawahan. Berjalan di pematang-pematang nya yang licin tapi asik, menikmati embun pagi yang menempel di ujung-ujung daun padi. Disaat embun-embun itu menyentuh dengan lembutnya kaki-kaki saya, seolah sedang mendapatkan spa di sebuah pusat spa dengan therapist secantik Dian Sastrowardoyo #menghayal. Sementara itumentari pagi juga terlihat masih enggan untuk memancarkan sinarnya. Sang mentari masih malu-malu di balik kabut, atau dia sengaja memberikan kesempatan kepada saya untuk lebih berlama-lama bercengkrama dengan embun-embun pagi kala itu..entahlah.
Pulang ke rumah ternyata meja makan sudah penuh sekali dengan masakan. Sepanci Palumara (masakan khas makasar) sudah terhidang dengan suksesnya. Sementara itu menu pelengkapnya lumayan banyak dan menggoda sekali. Ada ikan goreng, ayam goreng, lalapan lengkap dengan sambel aduhay nya. Namun yang paling mempesona saya pagi itu adalah Pete nya…hmmmm rasanya ingin segera menikmati tubuh indah buah itu, setiap tonjolan-tonjolan nya seolah menghipnotis indera penglihatan saya, hingga akhirnya saya tergoda dan menikmati tubuh buah yang bombastis itu…sluruppp..(asli nulisnya sambil ngences).
Siang harinya kami berkeliling kota sumedang. Mulai dari alun-alun, ke gunung Kunci, kepasar, menikmati lezatnya tahu sumedang yang sudah terkenal seantero negeri ini, menikmati kue Awug asli Sumedang, hingga beberapa bongkahan Durian juga tak luput dari rakusnya kami. 

tidak lupa menggosok gigi eh poto bersama maksudnya

si Aa penjual kue Awug

salah satu aktifitas mereka

Duren cuyyyy

Tidak banyak aktifitas kami di Sumedang, hanya makan , tidur, bercengkrama dan jalan-jalan. Sementara itu malam nanti adalah malam pergantian tahun. semua perlengkapan untuk merayakan malam bersejarah itu sudah di siapkan. Ikan-ikan sudah di tangkap dari kolam samping rumah. Jagung sudah di siapkan untuk dibakar. Nasi lemak si mamah (ibu yang punya rumah) juga sudah mulai disiapkan. Tepat selepas sholat magrib ikan mulai dibakar. Nasi juga sudah terhidang dimeja, lengkap dengan menu-menu pendampingnya. Yang tidak ketinggalan dari setiap menu disini adalah pete dan sambel terasinya. Yahud sekali rasanya, masakan mamah emang emoy dah. Seekor ikan bakar segar mampir di piring saya, pasti dia beradu dengan pete dan sambel cocol nya, eh ternyata seekor ikan bakar yang lumayan gedenya itu kurang, hingga akhirnya saya memberanikan diri mengambil lagi seekor dari tumpukan ikan bakar di meja makan, hingga mereka semua terselamatkan dengan tidur manis di perut sexy saya.
Menu yang senantiasa tersaji di meja makan

Si mamah yang baik hati dan masakannya enak (jilbab hitam)

Rupanya kami semua gagal merayakan tahun baru kali ini, tepat pukul 21:30 rasanya saya mulai ngantuk dan tertidur dengan suksesnya. Saya pikir para sahabat saya masih terjaga untuk merayakan pergantian tahun, ternyata mereka semua juga terkapar dengan suksesnya. Pagi pun menjelang, saya sudah berada di tahun baru. Rasanya tidur setahun membuat badan ini segar sekali di pagi hari. Saya kembali mengulang kegiatan kemarin untuk bermain-main di sawah samping rumah. Ternyata sahabat-sahabat saya sudah pada nangkring dengan asiknya di sebuah gubuk yang menjual penganan asli jawa barat, Surabi.
Di warung Surabi

di pinggir sawah

“surabi disini mah isinya oncom” kata si mamah suatu saat. Memang benar adanya surabi disana semua pake oncom untuk toppingnya. Cara makannya disediakan sambel. Namun si ibu penjual mungkin tahu darimana saya berasal, hingga akhirnya beliau menawari saya surabi dengan isi buah nangka. Dengan senang hati saya mengiyakan tawaran yang langka itu, hingga akhirnya dua surabi kembali sukses bersarang di perut sexy saya. Satu isi oncom, satu lagi isi buah nangka..hmmmm lezat sekali rasanya, mungkin karena makannya di sebuah jembatan dengan sungai kecil mengalir di bawahnya di tengah sawah dengan embun-embun yang masih menempel di dedaunan.
Setelah semua selesai menunaikan kewajiban pagi nya, kami pun berpamitan kepada keluarga ini. Akhirnya dengan berat hati sayapun meninggalkan meja makan itu, yang mana jika sedang makan kita bisa di suguhi pemandangan indah berupa kolam ikan serta persawahan hijau yang sedap dipandang dari balik jendela yang maha lebar itu.
di rumah sale ibu Sawi yang tidak menjual pisang sale nya di toko

Bakso Ocim

Ternyata perjalanan pulang kami tersendat dengan kembali berwisata kuliner sembari pulang. Rumah ibu SAWI yang menjadi sentra Sale Pisang Ambon yang juga mengusung merek sama dengan pemilik rumah itu menjadi persinggahan pertama kami. Selanjutnya ke sentra oleh-oleh yang berada di kawasan jalan SWADAYA sumedang juga tak luput dari incaran kami. Baso OCIM yang katanya terkenal di Sumedang itu juga kami sambangin demi memuaskan nafsu kami yang sedang menggebu-gebu saat itu. Setelah semuanya puas dengan belanja oleh-oleh kami pun harus kembali ke Jakarta untuk menunaikan rutinitas keseharian seperti biasanya. Sebuah malam perayaan tahun baru yang gagal, namun sangat berkesan mendalam bagi perut dan indera penglihatan saya.
Selamat Tahun baru kawan, semoga kesuksesan senantiasa menyertai kita. AMin

Foto-foto hasil bidikan lainnya..
Gunung Kuntji yang sejatinya adalah sebuah benteng yang sengaja dipendam ditanah

Salah satu tangga di dalam Benteng

Bokeh di depan pintu masuk

Pagi menjelang

Sarapan Pagi

Embun yang menempel

Pematang dan Gubuk itu

Labels: ,