Tanjung Lesung, Petualangan si "Giman"

Jam di pergelangan saya menunjukan pukul 11:00 malam, ketika saya menginjakan kaki di ruangan tengah di sebuah Villa di komplek Tanjung Lesung Villa dan resort ini. Kalau boleh mengutip celotehan teman saya “ wah kita sesuatu banget ya,  kita sampai disini tepat jam sebelas malam, di ikuti oleh sebelas orang dan berangkat pada tanggal 11-11-11”.

Tanjung Lesung Beach Club

Setelah menempuh perjalanan darat sejauh hampir 160km dengan waktu tempuh sekitar 3 jam lebih melewati  rute Serang-Pandeglang-Labuhan-Tanjung lesung,  akhirnya kami bisa menikmati nyamannya salah satu Villa di pinggir pantai. Konsep villa nya sendiri sungguh nyaman dan menyatu dengan alam. Disambut dengan teras dan halaman yang di penuhi oleh tumbuhan hijau serta sebuah pintu khas Bali. Memasuki ruangan tengah Villa saya disambut dengan udara malam yang segar.

Narcis berjamaah di depan Villa

Villa nya sendiri secara kasat mata di bagi jadi dua bangunan, karena di tengah villa ada  satu bagian yang dibiarkan terbuka. Konsep Open air ini akan menyuplai asupan oksigen yang melimpah bagi penghuninya. “BORA 4” begitu yang saya baca dari brosur yang tergeletak di meja ruang tengah. Terdiri dari 4 kamar tidur, dapur dan kamar pembantu. Masing-masing ruangan dilengkapi dengan  pendingin udara. Yang manarik saya saat itu adalah komplimen dari mereka yakni wedang Jahe dan makan malam yang lezat dengan sup seafood yang emoy sekali.


Sisa-sisa hujan tadi malam















Pagi menjelang, titik-titik air bekas hujan semalam  masih menempel pada dedaunan di halaman depan. Segar sekali rasanya berjalan-jalan di komplek villa saat pagi seperti ini. Masih banyak pohon-pohon besar yang tumbuh di sana. Bau harum dari tebasan rumput masih tercium di indera penciuman saya. Bunga-bunga merah yang saya tidak tahu jenis bunga apa juga berserakan rapi di bawah batang pohonnya.


Pantai Yang indah dan sepi














Menikmati pantai di pagi hari mungkin akan terasa menyenangkan, begitu benak saya berfikir. Benar adanya begitu memasuki area pantai pribadi yang dimiliki komplek villa ini saya selalu di buat takjub dengan keheningan pantai. Hembusan angin laut mulai menerpa wajah saya, di temani dengan riak riak kecil ombak yang bersahut-sahutan rasanya enggan sekali meninggalkan lokasi itu. Terlebih ketika saya melangkahkan kaki mendekati pantai, riak ombak yamng menjilati mata kaki seolah terapi terbaik untuk menghilangkan lelah yang saya rasakan.




















Suasana Tanjung Lesung Beach Club


Cuaca pagi itu sungguh cerah sekali. Langit terlihat biru meski hanya di hiasi oleh sedikit awan. Air laut juga terlihat jernih sekali. Ingin rasanya segera menceburkan diri, berenang bercengkrama dengan riuh nya biota laut di dalam nya.  Waktu yang sangat cocok untuk malakukan aktifitas snorkling rasanya. “Beach Club” begitulah yang terlihat ketika memasuki komplek olah raga pantai ini. Beragam permainan air tersedia disini. Sayangnya daerah ini hanya bisa di akses oleh tamu yang menginap di Tanjung Lesung resort and Villa saja. Dengan kata lain tidak bisa di akses oleh masyarakat umum. Namun ada nilai lebihnya juga, pantai ini lebih bisa terawat dan bersih.

Tim Huru hara


Beberapa diantara teman saya memilih Jetski sebagai pilihannya. Namun saya lebih memilih untuk mengajak diantaranya untuk bersnorkling ria. Ada beberapa teman yang tadinya enggan untuk melakukan aktifitas snorkling, karena cuaca saat itu sudah mulai terik. Namun setelah mencoba dan menikmati indahnya alam bawah laut pantai yang terletak di sebuah tanjung ini mereka malah enggan ketika saya mengajaknya untuk mengakhiri kegiatan karena hari sudah menjelang siang.

Puas menikmati indahnya pantai kami bergegas untuk kembali ke Villa karena sebagian teman harus kembali ke Jakarta siang ini, hanya saya berserta 3 orang teman berniat untuk melanjutkan perjalanan, namun destinasi nya juga belum jelas, namun  setelah tanya sana-tanya sini akhirnya saya memilih untuk melanjutkan perjalanan ke arah Taman Nasional Ujung Kulon. Tepatnya di desa Sumur, sebuah desa di pesisir pantai.

M e n u j u


Untuk mencapai lokasi ini di perlukan ekstra stamina, kerana jalanan yang di lalui rusak parah di hampir sepanjang perjalanan. Belum lagi rute yang berkelok harus menyita perhatian saya dalam mengemudi. Akhirnya tepat pukul  5 sore saya sampai di desa Sumur. Setelah tanya di sebuah warung, saya mendapatkan informasi sebuah penginapan, namanya sih keren “RHINO VILLA’” tapi kenyataan nya  menyedihkan, kamar mandi yang bau’ dan terlihat sedikit kotor, serta ruangan kamar yang terbuat dengan konsep rumah panggung in terasa lembab sekali. Sementara lingkungan komplek penginapannya sendiri juga  terlihat lembab . Namun kami tidak punya pilihan lain. Mendung terlihat yang pertanda sebentar lagi hujan akan turun. Tidak mungkin rasanya saya harus berkendara pulang dengan kondisi jalan yang berliku dan berlubang besar di sana-sini. Kalau salah satu kawan berseloroh “pantesan di namakan sumur daerah ini, lha lubang-lubang dijalannya lebar dan dalam sudah seperti sumur seh” saya hanya bisa tersenyum getir melihat fenomena ini. Padahal di daerah ini ada sebuah pulau yang dikelola sebagai resort dan mungkin ini juga jalan satu-satunya untuk bisa mengakses Taman Nasional Ujung Kulon. Atau memang sengaja di biarkan seperti ini supaya siapapun yang akan datang ke lokasi itu bisa menikmati suasana petualangan yang sesungguhnya.

Pulau Umang di depan mata

Sore hari kami menyisir pantai yang ada di desa tersebut. Terlihat pulau Umang di kejauhan, namun tujuan utama kami bukan ke pulau itu. Terlalu mahal bagi saya, tidak sebanding rasanya antara harga seperti itu dengan apa yang akan saya dapatkan disana. Mendingan buat jalan-jalan ke Indonesia Timur, sudah jelas keindahannya. Tidak jauh dari Rhino villa tempat saya menginap, terlihat sebuah pantai yang sangat landai sekali, rasanya pasti asik menikmati sunset dengan bergelantung diatas hamock di pantai tersebut. Terlihat juga beberapa pemuda-pemudi lokal menikmati indahnya sunset dari pantai itu. Di kejauhanterlihat  beberapa nelayan sedang menunaikan tugasnya mencari ikan demi menghidupi keluarganya. Tidak selang berapa lama sejak kami duduk di bekas tebangan pohon kelapa, akhirnya hujan benar-benar turun dengan derasnya, kami berlarian ke dalam mobil. Niatnya sih hanya sebentar berteduh di dalam mobil, berharap pelangi akan muncul susai hujan turun, namun makin lama hujan makin besar akhirnya pulang ke penginapan adalah keputusan terbaik.

Rhino Villa

“langsung cari makan aja pak, biar sampai penginapan langsung tidur” seloroh salah satu diantara kami. Akhirnya saya langsung melanjutkan perjalanan ke arah pasar Sumur. Tidak mudah rasanya menemukan warung makan di daerah ini. Mungkin karena kebiasaan penduduk yang makan di rumah. Hingga akhirnya kami menemukan sebuah warung yang menjual nasi goreng, pecel lele dan menu-menu makan malam lainnya. Mi kuah menjadi pilihan yang tepat sepertinya, mengingat cuaca sedang hujan, inginnya makan yang panas-panas.  Setelah menunggu beberapa lama akhirnya mi Kuah kami datang. Saya sedikit terbelalak dengan rasanya, “yang masak minta kawin kayaknya pak” begitu yang terdengar dari mulut salah satu teman saya. Tapi kembali kami tidak punya pilihan lain, akhirnya ludes juga itu mi kuah asin di perut saya. Setelah kenyang Tidur adalah pilihan terbaik saat itu, dibuai dengan rintik hujan yang sudah mulai mereda. Peduli amat dengan kondisi penginapan, yang lebih buruk dari itu saja saya masih bisa memejamkan mata.

Poto Wajib harus kudu ada

Pagi menjelang, ketika semua masih tertidur saya bergegas menuju arah dermaga sambil menenteng pop mie yangsudah terseduh untuk saya nikmati di dermaga sambil menunggu matahari terbit. Sampai di pantai ternyata sudah banyak penduduk yang pada duduk di bebatuan pinggir pantai. Saya duduk di ujung dermaga sambil menikmati segelas popmi, sesekali memandang penduduk tersebut sambil melempar senyum termanis saya. Rasanya damai sekali yang penduduk-penduduk itu tiap pagi bisa menikmati suasana hening pantai seperti ini. Pop mi saya sudah ludes di perut, matahari juga sudah memancarkan sinarnya. Mulai terlihat lah muka-muka penduduk itu dengan ekspresinya. Oh GOD untung pop mi sudah ludes di perut. Mau tau apa yang sedang mereka lakukan dengan duduk manis diantara bebatuan itu? Ternyata mereka sedang menunaikan kewajiban pagi hari, membuang hajat mereka di antara bebatuan itu....wakkkkkkkk.

Setelah semuanya siap akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Niatnya hanya ingin menikmati indahnya pantai Ciputih, namun kegaduhan terjadi. Jarum penunjuk bahan bakar di mobil sudah menunjuk mendekati huruf E. Prediksi saya kemarin ternyata salah. Saya tidak menemukan SPBU di lokasi ini. SPBU terdekat adalah dengan menempuh sejauh 1 jam perjalanan dengan medan yang aduhay sekali rusaknya. Saya pikir mobil teman saya ini tidak boleh di isi oleh bahan bakar eceran, karena takut dengan campuran bahan bakar tersebut.  Akhirnya saya memutuskan untuk tidak ke lokasi Ciputih. Rute yang diambil adalah jalan pulang, namun beberapa kilo meter perjalanan awal semuanya terdiam. Mungkin semua memikirkan jika mobil ini mogok maka lewatlah sudah. Hingga akhirnya dengan terpaksa saya berhenti disebuah tempat  penjualan bahan bakar eceran.

 “lima liter teh” pinta saya kepada teteh penjual bensin itu. Setelah bensin terisi baru keadaan dalam mobil heboh lagi, hingga kami menemukan sebuah SPBU jauh dari lokasi Sumur. Sungguh pengalaman gila yang seru. Pelajarannya “isilah bahan bakar anda di spbu sebelum mencapai daerah Sumur, penuhi tangki bahan bakar mobil anda”.

Tapat jam 12:30 kami sampai di kota Serang. RM Taman Taktakan menjadi tujuan kami. Mungkin karena lelah mengemudi saya butuh yang hangat-hangat untuk mengisi perut. Muka saya jadi mupeng sekali ketika semangkuk sup ikan yang menjadi menu andalan rumah makan ini tersaji. Cah kangkung special dan seekor gurame saus padang menambah menu makan siang kami menjadi begitu menggairahkan.

Menara Mesjid agung Banten Lama

Kawasan wisata Banten Lama menjadi tujuan kami selanjutnya. Karena suasana hari libur maka suasana komplek mesjid Agung di komplek itu menjadi ramai sekali. Banyak bis-bis terparkir di area parkiran. Rombongan-romongan peziarah juga terlihat hilir mudik keluar masuk area mesjid. Lorong-lorong yang menjadi jalan masuk kearah mesjid juga terlihat ramai sekali. Jajaran penjual cenderamata dan penganan khas banten untuk dijadikan oleh-oleh bersaing untuk merayu para tamu mesjid.  Setelah mengambil beberapa foto narcis teman-teman saya, akhirnya saya mengajak mereka untuk segera meninggalkan keramaian itu. Bekas reruntuhan istana Surosowan rasanya asik untuk di nikmati. Namun ternyata pintu gerbang komplek itu tertutup pagar yang terkunci. Setelah tanya sana-sini akhirnya saya mendapatkan informasi , bahwa untuk memasuki komplek bekas istana tersebut kami harus meminta ijin terlebih dahulu dari pihak museum. Tidak susah meminta ijin di Museum, Kuncinya adalah pasang senyum paling manis yang kita punya, pasti si petugas akan mengijinkan anda mengeksplore setiap sudut bekas-reruntuhan istana ini.

Istana Surosowan


Hanya tinggal puing-puing saya yang tersisa dari istana ini. Terlihat di sebagian tempat ilalang sudah tumbuh dengan liarnya, menutupi beberapa situs bersejarah ini. Hanya beberapa foto yang saya ambil dari lokasi ini, karena waktu juga sudah sore, dan teman-teman saya juga sudah mengajak untuk segera pulang ke Tangerang, akhirnya rencana untuk mampir ke reruntuhan istana Kaibon dan sebuah bekas benteng akhirnya gagal, karena hujan kembali mengguyur. Akhirnya perjalan pulang ini di iringi dengan hujan yang lebat sekali. Tepat pukul  7:00 malam kami semua sampai dengan selamat di Tangerang. Sungguh pengalaman singkat yang seru sekali. Dan dari petualang ini saya dapat julukan baru si Giman tukang foto dan supir. Kurang ajar mereka profesi saya sebagai model papan pengilasan tergantikan dengan gelar si Giman Tukang foto dan supir. #Eaaaa

Labels: ,