Dari Gunung turun ke pantai


"ke pantai yok mas" ajakan dari salah satu sahabat waktu itu.
"ah ngapain seh panas-panas an, ntar makin item lagi" jawabku sekenanya waktu itu.

Saat itu puncak gunung adalah nafasku, Tarian merdu Edelwis di taman-taman surga di puncak gunung adalah incaranku, betah rasanya bercengkrama dengan duingin nya udara gunung.


10 tahun sudah berlalu..

Puncak gunung sudah sedikit aku lupakan, rasanya cedera lutut yang kualami waktu itu tidak memungkinkan untuk menggapai indahnya puncak-puncak pegunungan. Namun aku menemukan dunia baru yang ternyata lebih indah dan menyenangkan setelah aku menyelaminya hampir 5 tahun terakhir ini. Rasa takut akan kulit hitam sudah hilang entah kemana, tertelan hembusan angin pantai yang mempesona, bahkan kulit ini rasanya sudah layak di sebut gosong permanen. Saat ini pantai adalah jiwaku, laut adalah nyawaku, dan hembusan angin laut adalah nafasku. Duduk di pantai menikmati indahnya laut di temani hembusan angin yang berhembus rasanya senantiasa terngiang dalam sanubari ini. Aku adalah anak pantai.

Labels: