Dieng Plateu, Affairs of the cloud

Menikmati Sunrise dari puncak Cikunir
“bukannya kalau libur lebaran gini para pembatik nya juga ikut libur” kata-kata yang keluar dari mulut kakak saya dari belakang kemudi itu sontak membuyarkan lamunan akan pengalaman menarik mengksplorasi batik Lasem dan menu sejarah kotanya yang sangat legendaris itu. Benar juga celetukan dari kakak saya tersebut, karena sekarang ini musim lebaran masih berlangsung, kalender di jam tangan saya juga masih menunjukkan hari ketiga Lebaran, jadi kemungkinan besar para pembatik nya juga masih merayakan hari kemenangan itu di rumah mereka masing-masing.

Otak saya langsung memutar haluan untuk mencari alternatif lokasi mana yang kiranya bisa saya datangi untuk mengisi libur lebaran kali ini. “medhun kene wae kang” dan perlahan mobil yang hendak membawa keluarga kakak saya dan keluarganya untuk berlebaran ke Surabaya itu menepi di pinggir alun-alun kota Juana. Mobil kembali melaju perlahan, terlihat ponakan saya melambaikan tangan nya dari dalam mobil dan segera menghilang di keriuhan lalu lintas jalur Pantura ini. Sambil menikmati es dawet di pinggir alun-alun, di tengah teriknya kota kecil di pinggir pantai itu saya masih kebingungan untuk mencari destinasi mana yang akan saya datangi.
Telaga Warna
Dieng, Yes knapa saya yakin banget ingin pergi kesana, tanpa persiapan apapun, tanpa bekal informasi apapun saya menumpang bis Patas Surabaya-Semarang. Sampai di terminal Semarang hanya tersedia bis jurusan Purwokerto dengan kelas ekonomi, sementara seharusnya ada bis Patas AC yang berangkat dari terminal ini, namun hanya sekali pemberangkatan perharinya. Bayangan indahnya dataran tinggi yang merupakan dataran tinggi nomer 2 di dunia itu (2100mdpl) menghantui setiap detik rongga otak saya. Akhirnya dengan tekad membara berangkatlah menuju Dieng dengan Bis Ekonomi yang super sumpek itu. Hampir di setiap terminal bayangan bis ngetem lama sekali di tambah lagi dengan masih macetnya jalur mudik lebaran yang saya lewati. Hingga  akhirnya tepat pukul 00:30 saya turun di sebuah perempatan di daerah wonosobo. Plaza nama perempatan itu, setelah Tanya-tanya ke kondektur bis dari perempatan itulah biasanya banyak tukang ojek mangkal, karena waktu sepagi itu tentulah bis ataupun kendaraan umum lainnya tidak akan ada melintas menuju ke Dieng.
Kata Dieng sendiri merupakan gabungan dari dua kata dalam bahasa Sansekerta. "Di" yang berati tempat yang tinggi atau gunung dan "Hyang" yang berarti khayangan. dengan menggabungkannya dapat di tarik sebuah arti "Dieng" adalah daerah pegunungan tempat para dewa-dewi bersemayam.
Sembari menikmati segelas Purwaceng, saya mencoba bertanya-tanya kepada para pengunjung warung kecil itu, dan semuanya memberikan jawaban yang sama, “sudah tidak ada kendaraan kesana mas”, waduhh haruskah saya bermalam dulu di kota dingin ini? Ya sudah lah nikmati aja perjalanan ini. Banyak yang kami obrolkan di warung kecil ini, mulai dari politik hingga cerita-cerita pengalaman hubungan intim mereka, saya hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal saja mendengarnya.

Tak selang berapa lama ada seorang lagi yang masuk ke warung tersebut, dan entah ini jawaban dari doa saya tadi karena dia menawarkan kepada saya untuk mengantarkan ke Dieng dengan motornya. Dia menawarkan sejumlah nominal rupiah untuk upah jasa antarnya, kebiasaan saya adalah menawar, namun dia bersikeras dengan harga yang sudah di tetapkan nya. Akhirnya saya pun membonceng di sebuah motor bebek tua itu, di setiap tanjakan suara motor seperti menggerang kesakitan hingga saya menawarkan diri untuk berjalan kaki dulu saja, namun mas Sugi sang tukang ojek menolaknya, “kuat kok mas tenang aja..” begitu dia berkelakar ketika saya minta turun.
Sebuah tantangan berat bagi saya untuk menembus dinginnya Dieng pada waktu dini hari seperti itu hanya dengan kostum celana pendek dan kaos tipis, tanpa jaket atau apapun yang bisa menghangatkan badan, karena memang tujuan awal saya adalah LASEM sebuah kota pesisir yang tentunya akan berhawa panas. Hingga mas sugi sadar bahwa saya menggigil kedinginan, akhirnya dia menawarkan sarungnya untuk saya pakai, sebenarnya saya juga membawa sarung tapi entah nyelip dimana saya cari-sari di dalam tas tidak ketemu, akhirnya jadilah saya seorang Ninja Sarung, lumayan lah bisa mengurangi sedikit hawa dingin yang menusuk tulang dini hari itu.
Setalah 40 menit berkendara akhirnya saya memasuki gerbang bertuliskan Dieng Plateu, artinya saya sudah berada di kawasan yang konon katanya tertinggi kedua di dunia itu. Setelah menyerahkan sejumlah rupiah ke mas Sugi yang akhirnya memutuskan untuk turun lagi ke wonosobo, padahal saya menawarinya untuk menginap saja bareng saya di Dieng, karen pasti akan Duingin sekali turun dari Dieng di Pagi buta seperti itu, namun dia menolaknya, “sudah biasa kok mas” begitu kilahnya.
Masalah kembali muncul ketika sebelum pulang mas Sugi berusaha mancarikan saya penginapan, namun di waktu pagi buta begitu tentulah sangat sulit untuk menemukan penginapan yang masih membuka pintunya, meskipun tadi menemukan satu penginapan lumayan bersih, namun harganya terlalu mahal bagi saya seorang gembel. dari pada mengelurkan uang 350 ribu untuk hanya tidur sesaat mendingan saya minta di turunin di sebuah pos polisi saja. Sambil berjalan-jalan saya menemukan beberapa warga setempat sedang asik menghangatkan diri di sebuah api unggun kecil, saya meminta ijin untuk bergabung dan menghangatkan diri dari serangan dingin di dataran tinggi tersebut.
Dari obrolan bersama mereka akhirnya saya berkenalan dengan mas Suatno, beliau mungkin kasihan melihat saya pucat pasi karena terlihat kedinginan dan kecapekan, hingga akhrinya menawari saya untuk beristirahat di rumahnya. Tanpa pikir panjang saya pun meng-iyakan saja, alih-alih saya bisa rebahan sebentar sebelum esok harinya memulai untuk berkeliling Dieng. “tapi ya kayak gini aja mas kondisinya” kata-kata yang terucap ketika kami memasuki rumahnya. “wes rak popo mas, seng penting slimute loro” (udah gak papa mas yang penting selimutnya dua)” kata saya dan dia pun menyodokan dua lembar selimut tebal, di tambah lagi segelas teh manis panas. Dengan wajah berseri-seri saya pun menerimanya, namun setelah sruputan pertama saya letak kan teh tersebut sebentar, begitu kagetnya saya ketika kembali ingin meminum teh tersebut kenapa sudah sedingin es ya tehnya hmmm, akhirnya saya bisa merebahkan diri dan terlelap walau hanya sekitar kurang dari dua jam karena jam 4 mas Suatno sudah membangunkan saya untuk bergegas menaiki bukit Sikunir untuk menikmati indahnya sunrise.

Sunrise dari Puncak Cikunir dengan latar belakang gunung Sindoro
Setelah membasuh muka saya di pinjami sebuah jaket oleh beliau, berdua kami menuju bukit Cikunir, ternyata masih harus menguras tenaga untuk mencapai puncaknya, beruntunglah saya karena mas Atno mau mmebawakan tas kamera saya berserta tripodnya, hingga saya hanya mecangklong sebuah kamera di pudak, itu saja saya sudah di buat ngos-ngosan sambil bolak-balik beristirahat. Mungkin karena selain  harus menyiapkan tenaga , saya juga harus melawan dinginnya pagi dan sedikit bau belerang tidak tau dari mana asalnya hingga membuat nafas saya makin tersengal.
Kentang Goreng hasil dari kebun petani Dieng
Teh Manis hangat yang nikmat
Dan saat yang di tunggu-tunggu akhirnya datang, matahari mulai menampak kan sinarnya dari balik gumpalan-gumpalan awan, sementara itu gunung Sindoro juga terlihat dengan gagahnya menantang cahaya-cahaya mentari pagi sambil bermandikan putihnya awan yang menyelimuti puncaknya. Ketika sedang asik-asiknya menikmati cahaya lembut pagi itu, dua tusuk kentang goreng dan segelas teh hangat di sodorkan oleh mas Atno kepada saya, hmmm makin nikmat saja suasana di puncak Cikunir pagi itu.
Duo Keren bareng Kang Atno
Pemandangan dari puncak Cikunir
Setalah puas berfoto di puncak sikunir saya bergegas turun karena masih banyak yang harus saya jelajahi untuk hari ini. Terlihat sebuah telaga dengan airnya membiru, seolah mengundang siapa saja yang melihatnya untuk menikmatinya lebih dalam, kebetulan ketika saya sampai di pinggir telaga ada sebuah rombongan anak muda dari semarang hendak berkeliling dengan perahu, tanpa pikir panjang saya berusaha sok kenal sok dekat dengan mereka agar di ijinkan untuk bergabung dengan perahu meraka, dan BERHASIL, saya pun bisa berkeliling telaga dengan gratis karena ketika saya menyodorkan sejumplah rupiah mereka menolaknya, Makasih Sobat, semoha Tuhan memberikan rejeki lebih kepada kalian. AMin.
Telaga Cebong
Bersiap untuk mengeliingi Telag Cebong
Puas menikmati sunrise dan eloknya telaga Cebong mas Atno kembali menyemplak motornya untuk mengantarkan saya ke area telaga warna, namun ketika melewati suatu daerah dan saya lihat bagus sekali, saya minta berhenti untuk memotret sebentar, terlihat dari lokasi saya berdiri berada di atas gumpalan awan, mungkin benar adanya bahwa dataran tinggi ini berada diatas awan, ingin rasanya manaiki gumpalan-gumpalan awan itu seperti komok-komik yang pernah saya baca waktu smp dulu tentang awan Kinton.
Negeri diatas awan
Gerbang Telaga warna sudah ada di depan mata, mas Atno mohon ijin untuk menunggu di luar saja, akhirnya saya hanya masuk ke dalam komplek telaga warna ini sendiri saja, namun akhirnya saya berkenalan dengan sebuah rombongan kecil pengunjung yang berasal dari Sawahlunto Sumatra Barat. Sebenarnya ada dua telaga disini yang berjejer, yakni telaga Warna dan telaga Pengilon. Mitos yang beredar di masyarakat kenapa telaga warna ini terkadang berubah-ubah warna airnya yaitu dahulu kala ada cincin bertuah milik bangsawan setempat yang terjatuh kedasar telaga. Sementara jika di tilik dari kajian ilmiahnya adalah, dikarenakan sejatinya telaga warna ini adalah sebuah kawah gunung berapi yang mengandung belerang, akibatnya jika air telaga terkena matahari maka akan dibiaskan menjadi warna-warni yang terlihat oleh mata, namun sayang ketika saya berada di pinggir telaga itu, warna hijau tosca saja yang terlihat.

Telaga Warna
Lain lagi mitos tentang sebuah telaga yang terletak berdampingan dengan telaga warna tersebut, telaga Pangilon (berkaca). Jika kita berkaca pada telaga tersebut dan terlihat ganteng atau cantik maka hati kita akan baik, namun jika yang terlihat adalah sebaliknya maka buruklah hati orang tersebut, benar tidaknya tergantung kita masing-masing, namun keberadaaan mitos itu sendiri menambah ke elokan dari telaga warna ini.
Kawah Sikidang
Ngamen yuks
Lokasi kawah Sikidang adalah lokasi yang hendak saya tuju selanjutnya, lain lagi mitos yang beredar tentang kawah Sikidang ini, dahulu kala ada ratu cantik bernawa Shinta Dewi yang hendak di lamar oleh seorang pangeran kaya raya bernaam Kidang Garungan.  Untuk syarat dari lamaran itu sang ratu mengajukan sebuah  permintaan untuk dibuatkan sebuah sumur, namun akal bulus sang ratu muncul ketika sang pangerang sedang menggali sumur tersebut. Beliau dan para pengawalnya hendak mengubur sang pangeran di dalam sumur tersebut, namun sebelum sang pangeran tertimbun beliau mengeluarkan kesaktiannya hingga sumur itu panas dam meledak-ledak serta mengutuk sang ratu dan keturunannya kelak akan berambut Gembel.

Benar tidak nya kembali ke diri kita masing-masing, yang jelas kawah ini adalah kawah aktif, terlihat aktifitas ledakan-ledakan muncul dari dalam kawah tersebut. Cuaca begitu terik dan bau belerang yang menyengat membuat saya tidak bisa berlama-lama bercengkrama dengan sang pangeran Kidang Garungan, hingga akhirnya saya harus mengucapkan selamat tinggal kepada beliau. Namun sebelum keluar dari lokasi kawah tersebut saya di hibur oleh sekelompok pengamen yang berada di dekat pintu masuk, setelah menyodorkan sidikit rupaih saya pun request sebuah lagu (lagu andalan pastinya KERISPATIH) ha ha, namun sang vokalis malah mendaulat saya untuk menyayikan lagu tersebut akhirnya mengamenlah saya bersama mereka ha ha, pengalaman yang seru.
Candi Bima yang Gagah
Sebelum pulang kerumah untuk menunaikan sholat Jum’at mas Atno mengajak saya mmapir sebentar ke lokasi Candi Bima, lokasinya sepi, sebuah candi terlihat kokoh berdiri seolah menantang teriknya panas siang itu. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mengeksplorasi candi itu, hanya mmebutuhkan waktu tidak lebih dari setengah jam saya sudah puas menikmati hampir keseluruhan arsitekturnya.
Masyarakat Dieng adalah muslim yang taat, terlihat ketika waktu sholat jumat tiba, mesjid menjadi penuh sekali. Saya hampir tidak kebagian tempat. Siang yang terik seperti itu saja saya masih merasa kedinginan saat mengambil air wudlu. Pulang dari sholat jumat mas Atno menunjukan saya sebuah rumah makan kecil namun sayangnya beliau tidak mau saya ajak serta untuk menikmati makan siang bersama siang itu, “saya sudah di tunggu istri mas untuk makan di rumah” padahal sebelumnya beliau juga sudah menwari saya untuk makan di rumahnya, namun saya tidak mau tambah merepotkan hingga akhirnya saya minta diantarkan ke sebuah rumah makan sederhana saja.



Kompek Candi Arjuna
Setelah beristirahat sejenak mas atno kembali mengajak saya berkeliling, lokasi yang hendak di tuju selanjtunya adalah komplek kawasan candi Arjuna. Terdapat beberapa candi di kawasan tersebut diantarnya adalah candi Arjuna sendiri, candi Srikandi, candi Gatot Kaca, Candi Bima serta beberapa candi-candi kecil. Selain itu ada juga sebuah museum Dieng Kaliasa, di dalam museum kita akan di suguhi sebuah film berdurasi 8 menit tentang sejarah candi-candi tersebut. Suasana komplek candi Arjuna terlihat ramai sekali sore itu, mungkin karena saat ini bertepatan dengan libur lebaran sehingga masyarakat masih asik dengan acara berlibur bersama keluarganya masing-masing. Banyak terlihat juga mobil-mobil plat Jakarta terparkir di area parkir komplek candi tersebut.
Petang sudah menjelang, setelah berpamitan kepada mas Atno dan istrinya saya menyodorkan sedikit rupiah kepada beliau untuk pengganti biaya menginap saya dan beli bensin motornya yang saya pakai berkliling seharian, namun beliau masih menggembalikan separuh dari jumlah yang menurut seorang gembel macam saya ini sudah minimal sekali. Sungguh pengalaman yang luar biasa bisa bertemu dengan orang-orang yang begitu tulus memberikan pertolongan, mungkin otak saya sudah di kotori oleh pikiran-pikiran kota besar yang mendasarkan segala sesuatunya kepada rupiah. Setelah berpamitan saya bergegas naik ke bis yang sedang menunggu penumpangnya, sebuah bis mini dengan alunan musik dangdut koplo yang menghentak, wah bakal jadi perjalanan seru pastinya ha ha.

Tepat jam 8 malam saya tiba kembali di lampu merah Plaza, seorang petugas dinas perhubungan mempersilahkan saya untuk sejenak melapas lelah di posko mudik mereka, dari obrolan dengan kang  Asep yang ternyata asli Cirebon itu, nama Plaza berasal dari sebuah mini market di belakang posko tersebut, dan menurut keterangan beliau juga bis dari Purwokerto ke semarang beroperasi selama 24 jam, namun memang kita harus sabar menunggunya. Dan setelah menunggu  hampir satu jam sambil numpang ngecas handphone serta di suguhi segelas teh manis panas, bis yang saya tunggu pun datang. Kang Asep menyetopkan bis untuk saya, setelah berpamitan saya kembali bergegas menaiki bis yang akan membawa saya ke ibu kota propinsi Jawa tengah itu Setelah menempuh waktu hampir 8 jam saya sudah berada di rumah kembali. Sungguh pengalaman singkat yang sangat luar biasa, bisa menikmati keindahan alam dan budaya salah satu bagian dari keindahan negeri tercinta ini.

Labels: ,