Pulau Babi di Belitung itu seksi

Semburat senja



Pertama kali menjejak kan kaki di pulau ini saya sudah di buat takjub oleh keindahan lukisan alam yang terhampar di depan indera penglihatan saya. Sebuah fenomena jika saya boleh menamainya. Semburat rona senja begitu menenangkan, sementara di langit timur sudah bertengger dengan cantiknya sang rembulan, belum lagi kilauan pantulan cahaya merah dari langit terpantul dengan sempurna. Kesempurnaan itu makin lengkap dengan hadirnya bebatuan granit yang menyembul dari dalam air, sungguh senja yang membara, hingga saya lupa belum mendirikan tenda untuk saya bermalam nantinya.

Kapal pak Nawi yang mengantarkan saya sudah menghilang dari pandangan, seiring dengan menghilangnya deru mesin kapal nya yang cukup memekakkan telinga. Tinggallah saya yang harus mempersiapkan segala hal untuk bermalam di lokasi ini. Setelah survey lokasi maka saya berfikir akan mendirikan tenda di hamparan pasir putih sisi timur pulau Babi. Keputusan ini saya ambil juga dengan pertimbangan dari pak Nawi selaku nelayan setempat yang saya percaya prakiraan cuacanya beliau. Tak selang berapa lama tenda pun sudah berdiri dan makan malam adalah agenda selanjutnya guna menjaga kekebalan tubuh dan sebagai sumber energi untuk menjelajah ke pulau-pulau di Belitung.

Momen yang selalu kurindukan
Api unggun sudah menyala, langit juga kelihatan cantik sekali berhias bintang dan purnama yang memancarkan cahayanya. Laut juga terlihat tenang sekali, riak-riak ombak kecil sesekali memecah keheningan malam yang indah. Makan malam menu seafood dan segelas kopi kembali menghangatkan malam saya yang indah, sementara di kejauhan tampak perahu-perahu kecil nelayan sedang hilir mudik mencari ikan. Menurut nelayan setempat jika sedang musim purnama seperti ini sedikit sekali ikan yang bisa mereka bawa pulang. Malam semakin larut, setelah mematikan bara api saya bergegas masuk ke dalam tenda untuk beristirahat

Pagi menjelang, rasanya masih malas sekali untuk membuka mata, namun ada suara aneh  “kresek-kresek” yang banyak sekali dari luar tenda, ada apakah ini? Otak saya makin dibuat penasaran, setelah mengintip sedikit keluar tenda ternyata bunyi-bunyi tersebut berasal dari puluhan kepitingi-kepiting kecil yang hendak masuk ke dalam tenda, jadi kaki-kaki mereka itulah yang bergesekan dengan alas tenda yg tebuat dari plastik terpal sehingga menimbulkan bunyi-bunyi an. Lucu sekali memperhatikan tingkah polah mereka, tidak tahu kenapa mereka berebutan hendak masuk ke dalam tenda, apa karena ada gembel artis dari jakarta macam saya ini di dalam tenda itu ya? Entahlah ha ha ha.

Semburat merah sang surya sudah menghiasi langit timur, bergegas saya mempersiapkan senjata saya, sebuah kamera butut dengan lensa seadanya untuk merekam keindahan yang ada di depan mata, namun kembali mendung menghalangi keindahan sang surya, kecewa dengan sunrise seperti itu? Tentu tidak karena saya malah bisa asik berenang di pantai dangkal yang bersih di depan tenda, wah rasanya seperti sedang berada di sebuah resort mahal yang menghadap langsung ke laut ha ha.

Jajaran pohon kelapa
Perut sudah terganjal oleh sarapan dan segelas kopi hitam, saatnya menjelajah pulau. Pulau ini tidak terlalu besar menurut saya, jika menilik dari namanya saya tidak bisa mengambil kesimpulan mengapa pulau ini dinamai pulau Babi, sementara saya juga tidak menemukan binatang yang sexy itu di pulau ini. Mungkin jika di lihat dari udara pulau ini menyerupai seekor babi. Kembali saya di hantui oleh mendung yang menggelayut, kamera juga menjepret seperlunya saja. Saya lebih banyak menikmati sunyinya pulau ini. Bongkahan-bongkahan batu granit raksasa masih menjadi daya tarik pulau, selain pasir pantainya yang putih dan bening tentunya. Deretan pohon-pohon kelapa juga tumbuh di hampir 50 persen vegetasi pulau, sementara di bagian tengah pulau, rimbun dengan hutan kecil dan ilalang-ilalangnya. Sejenak saya berhenti di ujung barat pulau, dari sini saya bisa menikmati indahnya pulau Lengkuas di kejauhan sembari meluruskan kaki karena agak sedikit capek setelah trekking keliling pulau.

Kayaknya seru bermain sampan
Di sebelah selatan pulau saya kembali terhenyak dengan keindahannya, hamparan pasir putih, di tambah lagi dengan pohon-pohon kelapanya yang meliuk-liuk seolah menarikan sebuah tarian Belitong yang sangat indah. Namun mata saya terusik dengan sebuah perahu kecil nelayan yang tertambat pada sebuah pasak di pantai, ingin sekali meminjam perahu itu untuk bersampan keliling pulau babi yang tenang itu. Namun karena tidak ada orang yang bisa saya pinjami, saya mengurungkan niat untuk bersampan di tenangnya air laut dangkal itu.

Tak terasa waktu sudah menunjukan tengah hari, berarti saya harus segera berkemas karena si bapak nelayan jam 14:00 akan menjemput saya untuk di antarkan ke daratan Belitung lagi. Sebelum sampai Tanjung Kelayang ada sebuah pulau kecil yang jika air sedang pasang semua bagian pulau tertutup air, namun jika surut dia berubah menjadi sebuah pulau kecil yang cantik berhiaskan dengan pasir putih, sebuah taman batu granit raksasa yang menyerupai Layar. Tunggu di liputan selanjutnya ...






Labels: ,