Mercusuar kuno di pulau Lengkuas, Belitung


Old Lighthouse
Sebuah Mecusuar terlihat tegak berdiri dengan gagahnya, seolah menyimpan banyak sekali cerita masa lalu tentang indahnya Belitung. Air laut juga terlihat sedang surut sehingga kapal tidak bisa merapat ke pingir pantai pulau yang jika mengutip kesan salah seorang sahabat, menyebutnya sebagai pulau Nirwana.

Tidak salah memang jika sahabat saya menyebutnya sebagai pulau Nirwana, keindahannya memang sungguh luar biasa sekali, sebuah pulau kecil yang di kelilingi oleh pasir pantai yang putih bersih dan indah, serta di hiasi oleh bongkahan-bongkahan batu granit raksasa di beberapa bagian yang menambah keelokan pulau ini.
Sunset sore itu tidak terlihat, langit barat di gelayuti oleh mendung yang terlihat hitam, lagi-lagi bukan waktu yang tepat untuk menikmati indahnya sunset dari pulau ini, kecewakah saya? Tidak, justru banyak sekali kejutan-kejutan yang saya dapatkan dengan perjalanan seperti ini, membuat setiap detik setiap menit perjalanan saya begitu bermakna.
Pak Nawi, bapak nelayan yang kapalnya mengantarkan saya ke pulau ini sudah berpamitan pulang, malam juga semakin gelap, takut pengalaman badai dan hujan di pulau burung kemarin malam, saya pun meminta ijin kepada bapak penjaga mercusuar untuk bermalam di dalah satu ruangan di samping bangunan utama. Padahal rencana semula saya akan menikmati indahnya pulau ini dengan tidur di dalam tenda di pingir pantai, namun setelah mempertimbangkan segala sesuatunya saya memutuskan untuk bermalam di salah satu ruangan kosong itu. Tanpa penerangan apapun ruangan itu gelap gulita, pikiran saya langsung melayang kemana-mana, tidur di bangunan kuno yang di belakang nya terlihat beberapa kuburan tua, tanpa cahaya…wooowww sensasinya sungguh luar biasa. Dalam hati hanya kembali bisa berdoa sebisa saya. Hujan dan badai yang saya takutkan tidak terjadi namun saya sudah malas untuk keluar dari ruangan ini, dan begitu pagi menjelang saya segera keluar menuju pantai. Saya mendapati bapak penjaga mercusuar sudah terlebih dahulu keluar dari peraduannya, beliau bertutur “mas tadi malam ada penyu bertelur disini” wakkkkkkk menyesal sekali saya tidak keluar dari ruangan sumpek itu tadi malam.
Rayuan pulau Kelapa
Sunrise yang amazing juga tidak saya dapatkan, matahari seolah nyenyak di pelukan mendung yang menghitam itu, setelah sarapan pagi saya menikmati indahnya pulau kecil yang sepi ini, sebuah ayunan manarik perhatian saya, dan tanpa pikir panjang saya segera menghampirinya dan bermain diatas nya, semilir angin laut menerpa wajah saya, sementara bunyi riak-riak kecil ombak semakin menambah keheningan pagi ini. Terlihat bapak panjaga mercusuar senyum-senyum sendiri melihat tingak polah saya, whatever lah..yang penting perjalanan ini menjadi begitu menyenangkan.

Kolam Romantis itu
Secangkir kopi hitam menemani pagi saya, setelah perut terisi dengan sarapan mie instan kembali saya berkeliling pulau, tidak membutuhkan waktu lama untuk mengelilinginya, hanya butuh waktu sekitar 10-15 menit, terlihat begitu kecilnya pulau ini. Di bagian timur dan selatan pulau membentang indahnya pasir putih sementara di sebalah barat dan utara di hiasi oleh indahnya bebatuan raksasa yang menjulang, yang manariknya di bagian utara pulau ini terdapat sebuah kolam kecil yang  terbentuk dari jajaran batu granit yang seolah di tata oleh tangan Tuhan sehingga membentuk sebuah kolam kecil yang air lautnya masuk dari celah-celah bebatuan tersebut. Konon kata si bapak penjaga jika kita mandi dan berendam disana kehidupan percintaan kita akan langgeng, namun itu tidak terjadi pada saya ha ha, jadi nikmati saja keindahanya. Memang jika di tilik dari letaknya yang tersembunyi pasti akan memberikan sensasi tersendiri mandi di laut berduaan terlindung dari mata-mata manusia yang melihat, sehingga serasa berada di sebuah Jacuzi mahal sebuah hotel berbintang tujuh hmmm.
View dari atas mercusuar
Setelah puas menikmati kolam Nirwana tersebut saya bergegas untuk kembali menikmati indahnya Lengkuas dari atas mercusuar, Sebuah mercusuar kuno yang di bangun oleh Belanda pada tahun 1882 terlihat begitu kokoh tinggi menjulang ke angkasa, menurut informasi dari bapak penjaga mercusuar, tinggi mencusuar ini adalah sekitar 65 meter dengan 12 lantai. Menikmati keindahan pulau ini dari jendela di setiap lantainya akan memberikan sensasi keindahan tersendiri. Di puncaknya kita akan melihat sebuah lampu raksasa yang powernya di dapat dari beberapa panel surya yang berjajar rapi di luar pagar lantai paling atas bagunan kuno ini, yah mercusuar ini masih berfungsi untuk memandu jalannya kapal yang melewati perairan di sekira pulau, hal ini di karenakan banyak sekali bebatuan granit yang menyembul di lautan, yang jika tidak diwaspadai oleh para pelaut tentu akan sangat membahayakan, jadi keberadaan Mencusuar ini masih sangat di butuhkan.
Sore kembali menjelang dan Pak Nawi sang Nelayan yang baik hati itu sudah menunggu saya di pantai, sambil menyodorkan sebungkus nasi putih yang saya pesan jika dia sedang menjemput saya di satu pulau untuk diantarkan lagi ke pulau lainnya, jadi saya tidak perlu repot-repot memasak nasi untuk mengganjal isi perut saya, bukanlah pemikiran yang tepat jika selama perjalanan ini perut saya hanya di isi oleh mie instan saja. Nasi sebagai makanan pokok warga pribumi seperti saya tentu akan membantu saya untuk sumber tenaga dan menumbuhkan daya tahan tubuh dari berbagai keadaaan cuaca yang tidak menentu selama perjalanan. Mercusuar kokoh itu semakin terlihat jauh sementara perahu nelayan ini semakin membawa saya ke sebuah keindahan lain di pulau lain, Semoga.
Kuburan Tua
Narcis dari atas mercusuar

Labels: ,