Burung Granit Raksasa di Belitung


Burung Granit raksasa itu
Senja sudah menjelang ketika perahu nelayan yang mengantarkan saya merapat di pulau kecil ini, sekilas mata saya berkeliling untuk mengenali suasana yang ada di sekitar. Banyak terlihat pohon kelapa tumbuh subur di pulau ini, sementara sebuah bekas cottage yang berada di pinggir pantai terlihat terbengkalai tidak terawat, tidak tahu karena alasan apa sang pemilik tidak mengelolanya, padahal suasana pulau ini pasti akan terasa lebih nikmat jika di nikmati dari cottage tersebut.
Sembari berkeliling mata saya juga mencari lokasi yang cocok untuk mendirikan tenda. Bapak nelayan yang perahunya saya sewa bertutur bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menikmati indahnya pulau-pulau kecil di pesisir pantai indah Belitung, Tapi kalau tidak sekarang akan susah lagi untuk merencanakan perjalanan menyusuri keindahan pulau yang terkenal dengan Laskar Pelangi nya ini.
Tenda butut ku
Lokasi sudah saya temukan, dan tenda pun segera didirikan, karena remang senja sudah mulai menyelimuti hampir semua area pulau ini. Tepat sebelum malam menjelang tenda butut yang saya bawa dari Jakarta pun sudah berdiri, tepat disamping cottage yang hampir rubuh karena pondasi nya tergerus oleh abrasi pantai, Prediksi saya tenda akan terlinding oleh cottage yang rusak itu, namun ternyata semua perkiraan saya berakibat fatal setelah tengah malam.
Capek mendirikan tenda dan mengabadikan indahnya suasana langit senja di ufuk barat pulau ini, perut pun mulai keroncongan, bekal nasi putih dari Tanjung kelayang masih rapi terbungkus daun pisang, jadi saya hanya harus mempersiapkan lauknya, makan malam di pinggir pantai akan terasa lebih nikmat jika menu seafood menemaninya. Dan benar ikan segar dari bapak-bapak nelayan di Tanjung kelayang inilah yang akan melengkapi makan malam saya. Bara segera saya siapkan untuk membakar hasil laut yang sebagian ikannya masih terlihat hidup itu..hmmmm pasti akan terasa nikmat sekali. Tidak butuh waktu lama ikan segar itu sudah bersemayam di perut gembul saya ha ha, sungguh nikmat yang luar biasa, sementara bulan juga bersinar dengan cantiknya, seolah sedang tersenyum melihat rakusnya saya menyantap ikan bakar barusan.
Lepas tengah malam rasanya ada yang mendorong-dorong saya untuk segera bangun, ternyata benar kata bapak nelayan, cuaca sedang buruk, angin bertiup sangat kencang, di barengi dengan hujan yang begitu lebat, hal pertama yang saya pikirkan adalah menyelamatkan kamera saya dari derasnya air hujan. Rupanya tenda butut ini sudah tidak sekuat pertama saya beli dulu, kehebatannya sudah di makan usia, alhasil bocor disana-sini, suasana begitu kalang kabut menyelamatkan peralatan-peralatan memotret saya, belum lagi suasana makin mencekam ketika terdengar suara-suara orang berbicara, padahal ketika terakhir kali saya berada di luar tenda tidak ada orang lain di pulau ini, bulu kuduk mulai berdiri dan saya hanya bisa bertahan di dalam tenda sambil berdoa hingga suasana pulau menjadi terang. Suasana tersebut berlangsung hampir 3 jam, dan menejelang subuh, angin kencang dan hujan pun sudah mulai reda.
Pagi yang mendung
Pagi menjelang, namun mentari seolah ogah-ogahan untuk memancarkan kehangatannya setelah semalaman di tampar-tampar oleh badai dan hujan serta dingin yang mendera karena harus kehujanan berada di dalam tenda yang bocor. Sementara mendung juga terlihat menggelayut di langit ketika perlahan saya membuka pintu tenda dan melongokkan kepala kea rah luar, memperhatikan keadaan di sekitar, dan hati saya lega ketika melihat banyak nelayan sedang bercengkrama sambil mengisap rokok dan kopi di tangganya, ternyata suara-suara aneh yang saya dengar tadi malam adalah meraka, bapak-bapak nelayan ini yang sedang berlindung dari amukan hujan dan badai, saya menghampiri salah satunya dan sedikit berboncang dengannya.
Pulau Burung sendiri masih terletak di lepas pantai Tanjung Binga kecamatan Sijuk. Di pantainya terdapat bebatuan granit raksasa yang menyerupai seekor burung, mungki dari situlah pulau ini di namakan pulau Burung oleh penduduk sekitar. Selain granit raksasa berbentuk seekor burung terdapat juga deretan bebatuan granit yang berbentuk jari tangan, yang unik lagi adalah sebongkah batu besar yang nangkring dengan nyamannya di antara bebatuan granit yang lebih kecil.
Pantainya sendiri berkontur landai dengan pasir putih yang halus menghiasi hampir di seluruh bagian pantai pulau ini. Pada bagian sisi timur air laut cukup tenang dan jernih, jadi pagi itu saya memuaskan hasrat berenang saya di pantai tersebut, dan siang sudah menjelang ketika saya sedang asik menikmati indahnya pulau kecil ini diantara rimbunnya pohon kelapa dan indahnya pasir pantai, dan itu pertanda saya harus meninggalkannya untuk pindah ke pulau indah lainnya. Bapak nelayan yang mengantarkan saya kemarin juga sudah berada di pantai pulau ini, itu artinya juga saya juga harus segera berkemas. Sungguh nikmat yang luar biasa bisa menikmati moleknya sebuah pulau kecil yang masih berada di pangkuan ibu pertiwi ini.






Labels: ,