Kilau Emas di Tanjung Binga Belitung


Tanjung Binga
Pagi menjelang, bulir-bulir embun masih menempel di beberapa kelopak bunga kamboja, seolah enggan untuk baranjak dari damainya pagi, sementara itu Tanjung Pendam juga seolah masih terbuai dengan mimpi indanya, deburan ombak perlahan mendesir memecah keheningan yang meraja pagi itu. Raga ini juga rasanya masih enggan untuk bergegas mempersiapkan segala hal untuk berkemah di pulau Burung nanti malam. Beberapa kebutuhan logistik sudah saya persiapkan tadi malam, beruntung saya menemukan satu-satunya pusat perbelanjaan yang menurut saya cukup lengkap di kota kecil ini. Nama tokonya adalah Puncak, tidak tau kenapa sang pemilik mengambil nama itu, mungkin untuk keberuntungan tokonya, jangan di bayangkan pusat perbelanjaan ini seperti hypermart atau carefour seperti yang tersebar di beberapa pusat kota besar, ini hanyalah sebuah toko sedang namun lumayan lengkap, jika saya bandingkan mungkin tidak lebih besar seperti toko-toko jaringan waralaba seperti indomaret maupun alfamart.


Setelah semuanya beres dan perut sudah terisi dengan sarapan pagi yang di sediakan oleh penginapan, saya pun segera bergegas menuju halaman depan hotel dimana mobil yang sudah janji akan mengantarkan saya berkeliling Belitung sudah menunggu, enaknya lagi tidak perlu menyewa mobil, soalnya di Belitung angkutan umum untuk menuju titik-titik lokasi wisata andalannya tidaklah tersedia, makanya sekarang menjamur beberapa travel agent yang menyediakan paket-paket untuk menjelajahi Belitung. Bahkan tidak jarang mereka juga menyewakan mobil jika tamu yang datang hanya membutuhkan jasa transportasi saja.

Ikan merupakan sumber pendapatan utama di kampung ini
Laju mobil mengarah ke sebuah kampung atau desa nelayan Tanjung Binga, beberapa catatan perjalanan orang menyarankan agar menyewa kapal nelayan dari desa ini untuk berkeliling ke pulau-pulau kecil lepas pantainya Belitung. Tidak perlu waktu lama saya sudah sampai di sebuah desa nelayan yang jika saya perhatikan hampir keseluruhan kaum wanitanya mengenakan perhiasan emas yang menyolok sekali, karena warna emasnya sangat kontras dengan kulit mereka yang rata-rata gelap karena harus terpanggang oleh terik matahari setiap harinya.

Deretan rumah-rumah panggung yang di lengkapi hamparan anyaman bambu terlihat rapi, jika saya perhatikan dari dekat. Ikan-ikan juga berbaris tersusun rapi berjemur di hamparan anyaman bambu tersebut, sementara itu sebuah dermaga terlihat kokoh sekali sebagai tambatan perahu-perahu nelayan yang sedang berlabuh, panas mulai menyengat ketika saya melihat sebuah keluarga sedang asik tidur-tiduran di dermaga, setelah saya tanya ternyata mereka sedang menunggu perahu yang akan membawa mereka ke pulau, sementara disisi lain terlihat antrian jeregen panjang sekali, disudut lain sekelompok ibu-ibu asik berbincang, hingga saya memberanikan diri bertanya ke mereka karena terusik dengan deretan panjang jeregen tersebut. Telisik punya telisik ternyata mereka sedang antri minyak tanah, rupanya sama saja dengan beberapa daerah di Indonesia, Belitung juga mengalami kelangkaan minyak tanah. 

Menunggu Kapal untuk pulang ke Pulau
Berjemur
Sepertinya isu bahan bakar adalah sangat menarik sekali untuk dibahas, bahkan ketika beberapa bulan yang lalu berkesempatan mengunjungi kempali pulau Laskar Pelangi itu masih saja langka keberadaan bahan bakar, tidak tau ini salah siapa yang pasti jika ini dibiarkan berlarut-larut pasti akan berdampak juga kepada berkurangnya jumlah wisatawan yg berkunjung ke pulau tersebut.  Tidak lucu kan jika hendak menyewa mobil untuk berkeliling tidak ada bahan bakarnya. Meskipun ada pastilah harganya selangit, bisa lebih mahal dari harga tiket pesawat kesana mungkin. Beberapa mobil travel yang nongkrong di bandara yang saya jumpai selalu berkilah mereka menerapkan harga tinggi karena langkanya bahan bakar di pulau tersebut.

Setelah puas menikmati indahnya pemandangan sebuah kampung nelayan yang teletak di pantai yang indah dan ber airlaut jernih, saya segera kembali ke mobil untuk melanjutkan petualangan ini ke pantai indah lainnya.







Labels: ,