Indahnya lukisan senja di Belitung

Apa yang kita pikirkan ketika pertama kali mendengar kata Belitung? Sudah pasti adalah sekelompok anak yang fenomenal dalam kisah laskar pelangi. Namun hal tersebut tidak saya rasakan ketika pertama kali saya mengunjungi pulau yang ciamik tersebut. Dalam peta dunia pulau Belitung tertulis dengan nama Biliton, pantai-pantainya masih sangat alami dan semuanya belum sekomersil sekarang, disatu sisi memajukan kesejahteraan penduduk sekitar memberikan dampak positih namun  di sisi lain juga akan memberikan dampak yang kurang baik jika tidak di kelola dengan benar. Bahkan beberapa bulan yang lalu dibeberapa tempat bekas lokasi syuting film laskar pelangi juga sudah di patokin dengan tulisan "lokasi syuting laskar pelangi", hal-hal kecil seperti ini saya rasa jika dibiarkan akan memudarkan keindahan alam Belitung.

"Belitung dimana sih?" Pertanyaan itulah yg saya dapatkan ketika mengajukan cuti beberapa hari untuk menjelajah pulau pulau kecil di lepas pantai Belitung, setelah saya jelaskan barulah mereka mengerti, seandainya dulu kisah laskar pelangi sudah terkenal seperti sekarang pastilah akan mudah bagi saya untuk menjeleaskannya.

Tiba di Bandara
Tiba dibandara dengan bawaan perlengkapan yg lumayan banyak, memang penjelajahan kali ini akan saya lakukan benar-benar menyatu dengan alam, saya akan mendirikan tenda di pulau-pulau kecil disana, karena tidak tau ada persewaan alat-alat camping atau tidak disana, maka akan lebih aman jika saya mempersiapkan nya dari Jakarta, mulai dari tenda, perlatan masak dan obat-obat an saya kemas dalam satu tas backpack, sementara di tas lainnya adalah perlengkapan pribadi saya seperti  pakaian dan lain-lainnya, selain itu masih ada satu tas lagi untuk menyimpan peralatan fotografi saya, bisa di bayangkan betapa repotnya waktu itu, sementara waktu dulu saya terbiasa berkelana hanya mengandalkan satu tas daypack saja, beberapa lembar baju gantui saya rasa sudah cukup.

Dari atas pesawat terlihat lubang-lubang semacam borok di daratan Belitung, dan setelah saya di darat dan panasaran lubang apakah itu, ternyata adalah bekas-bekas galian tambang kaolin, disatu sisi ini terlihat indah, namun di sisi lain dampak lingkungan yang di timbulkan pasti akan sangat membahayakan untuk kelangsungan hidup mahluk yang ada di Belitung.

Pesawat boeing 737-200 yang saya tumpangi rasanya mendarat dengan mulus di bandara sultan Has Hananjoedin di Tanjung pandan, tidak ada kesan mewah sedikitpun berada di bandara ini, hanyalah sebuah bandara kecil yang telah lewat masa keemasan nya ini, pada masa PN.TIMAH masih berjaya mengeksplorasi tambang timah disana tertunya bandara ini terlihat sibuk sekali. Terlihat deretan penjemput sudah berbaris di luar pagar sambil melambai-lambaikan tangannya. Sementara saya sibuk dengen antrian bagasi, teman saya sudah menghubungi temannya yang tinggal di Belitung untuk membantu kami selama berada disana.

Hotel Tempat Menginap
Tidak perlu waktu lama untuk menempuh perjalanan dari bandara mungil itu ke pusat kota Tanjung pandan, hanya beberapa saat berkendara melewati perkebunan warga di sepanjang jalannya. Setelah mendapatkan penginapan di daerah Tanjung pendam  saya merebahkan tubuh sejenak untuk melepaskan penat yang sudah mulai terasa, tidak lama saya pun sudah terbuai dengan mimpi-mimpi indah tentang eloknya Belitung.

Sore sudah menjelang begitu mata saya terbangun, menikmati senja di pantai Tanjung pendam rasannya damai sekali, banyak warga menghabiskan senja mereka dengan bercengkrama dipantai ini, terlihat juga di beberapa sudut pantai pasangan muda-mudi asik dengan impian-impian masa depan mereka berdua, pandangan saya terusik dengan banyaknya ibu-ibu yang sedang hilir mudik di luasnya pasir pantai yang muncul akibat dari airlaut yang surut, sedang apakah mereka? Ternyata setelah saya dekati dan sedikit melakukan perbincangan dengan mereka, ternyata sedang mencari kerang yang biasa mereka konsumsi untuk menambah gizi keluarga di meja makan.

Senja di Belitung
Sementara itu di ufuk barat semburat rona senja mamancarkan sinar ke emasan nya,  memberi tanda kepada segerombolan burung untuk segera pulang ke kandangnya, mengisyaratkan kepada nelayan agar segera pergi melaut, karena tangkapan akan banyak jika cuaca cerah seperti itu, sementara bagi saya penikmat sunset hanya duduk terpaku memandang keindahan lukisan alam yang maha dahsyat tersebut, pantulan semburat merahnya terasa begitu menenangkan, dan Belitung sudah menyambut saya dengan pelukan hangatnya senja itu.

Labels: ,