Wilujeng Enjing Sumedang

Beberapa butir embun masih mengelayut dengan manjanya di ujung-ujung tanaman padi yang sedang bernyanyi riangmenyambut datangnya sang surya pada suatu pagi, sementara beberapa serangga masih terlihat nyenyak dalam tidurnya dan cenderung bermalas-malasan menyambut pagi yang menjelang, sementara itu riak air sungai pedesaan menambah indahnya pagi di sebuah desa di kawasan Sumedang  Jawa Barat, Wilujeng enjing Sumedang.

Pagi yang damai
Mentari mulai menyembul

Sumedang tidak hanya terkenal dengan tahunya, masih banyak yang bisa di eksplore dari kabupaten yang mempunya kesenian andalan  Kuda Renggong ini, selain atraksi kesenian kuda renggongnya itu sendiri yang terlihat menarik, dimana seekor kuda terlihat lihai menari mengikuti iringan musik khas sunda yang disebut kendang pencak dan karena selain lihai menari kuda ini juga sangat mahir melakukan beberapa gerakan silat atau pencak dalam bahasa sunda maka tak ayal jika kesenian ini juga sering disebut juga dengan kuda pencak, kesenian ini sering terlihat pada acara-acara khitanan, biasanya sebelum di khitan sang pengantin sunat akan di arak keliling kota dengan menaiki kuda lincah ini.

Mengelayut
embun padi
bermalas-malasan
Selain adat budayanya yang memukau, alam Sumedang juga layak mendapatkan 4 jempol, bahkan salah satu sahabat saya menjulukinya Little Ubud, karena jika sedang menyusuri pematang-pematang sawah yang kecil diantara rimbunnya batang padi yang menghijau,kita seolah di bawa pada sebuah daerah yana sangat terkenal dengan sawah teras siringnya di pulau Dewata, belum lagi gemericiknya aliran air sungai yang mengalir di samping persawahan tersebut, ahh rasanya  ikhlas berlama-lama di desa ini, padahal untuk menempuh perjalanan kesini saya harus menempuh beberapa kejadian yang sedikit menjengkelkan, mulai dari bis yang mogok di area Tol di siang terik sementara saya tidak membawa sedikitpun bekal makanan seperti biasa, belum lagi harus menerjang kemacetan panjang di daerah Jatinangor akibat sebuah truk besar mogok di tengah jalan, namun kalau tidak ada itu semua saya tidak akan menikmmati keindahan dan merasakan damainya pagi seperti yang saya rasakan saat itu.
little Ubud
Menginap di salah satu rumah sahabat terasa sangat mengasikkan, terlihat sebuah keluarga yang bahagia, masih lengkap dengan bapak ibu bahkan terlihat sangat bahagia mendengar candaan-candaan beliau, seandainya bapak ibu saya masih hidup..ah sudahlah Tuhan masih punya rencana terindah-Nya bagi saya. Tepat disamping bawah ruang makan ada sebuah kolam ikan, saya puas memancing di kolam tersebut dan membakarnya di pinggir kolam serta langsung melahapnya, puas sekali menikmati segarnya ikan mujaher bakar yang masih segar di bakar tanpa bumbu juga terasa nikmat sekali, namun satu yang membuat saya sedikit malas mandi di daerah tersebut, apalagi kalau bukan dinginnya air pegunungan, mengguyurkan segayung air saja rasanya seolah menghentikan berliter-liter darah yang mengalir di tubuh saya, tapi setelah itu sensai segarnya menjalar ke seluruh tubuh saya, dan bumi Sumedang kembali memeluk seluruh mahluk yang berada di atasnya.

Labels: ,