Lelono Anakku dalam sehari

Foto hanya sebuah ilustrasi saja taken Silong Belanak Beach Lombok
Seorang bapak-bapak terlihat sangat panik. Tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tangan kirinya memegang telepon genggam dan sedang terlihat berbicara. Namun dari nada-nada yg keluar terdengar sebuah kebimbangan. Diam-diam rasa penasaran saya mulai bergolak, apakah yang sedang terjadi dengan beliau?, Setelah sedikit menguping ternyata dia merasa kuatir dengan anak perempuannya yang hendak melakukan perjalanan seorang diri bersama bayinya, lebih parahnya lagi si anak perempuan baru pulang dari bekerja di luar negeri. Paras ayunya seolah sedikit tertutupi oleh duka yang amat dalam, sorot matanya seolah membutuhkan pertolongan. Mata sang bayi memandang saya dengan tajam, namun sedikit saja saya godain dia pun terkekeh, tawanya sungguh polos. Bocah mungil ini  belum tahu bahwa sang kakek kelimpungan di landa rasa khawatir yang dahsyat. Sementara itu sang ibu entah sedang memendam duka apa, dia juga belum menyadarinya. saya kembali berusaha menggodanya dan dia pun terkekeh dengan riangnya.


Dengan hati-hati saya mencoba mengajak sang kakek berbicara. Dari obrolan itu baru saya tahu ternyata sang putri hendak pulang kampung ke  Demak. Sang kakek khawatir akan terjadi apa-apa dengan sang putri dan cucunya. Saya coba menawarkan jasa untuk membantunya. Saya berjanji sama sang lelaki paruh baya itu untuk menjaga putrinya hingga sampai di tempat tujuan. Saya tidak tahu kenapa selalu terusik dengan hal-hal seperti ini, ah semoga saja semua dalam keadaan baik-baik saja. Jadilah saya bapak sementara bagi sang bayi tersebut. Selama di kereta dia selalu berada di pangkuan saya, karena saya tidak tega melihat paras ayu ibunya semakin hilang karena kelelahan. Sambil melirik ke bangku sebelah ternyata sang ibu tertidur dengan pulasnya. Mungkin dia sedang menggapai mimpi-mimpi indah yang di janjikan anak majikannya di Arab dulu.

Kereta tetap melaju melewati persawahan yang sedang menghijau, sementara siang sudah mulai menampakkan ganas nya. Terlihat si kecil juga sedang tertidur pulas, namun panas seolah mengganggu tidurnya. Kereta yang saya naiki kali ini adalah kelas rakyat kebanyakan, tidak menggunakan fasilitas pendingin udara di dalam gerbong penumpangnya. Sedang asik menggoda si kecil ada pedagang asongan menawarkan sebuah kipas yang terbuat dari bambu.

"pak beli kipas buat ngipasin anaknya",

Saya hanya bisa tersenyum sambil menyodorkan beberapa lembar ribuan, untuk menebus sebuah kipas bambu itu dari tangan sang penjual. Angan saya kembali melambung pada kejadian puluhan tahun lalu, ketika saya masih belum genap setahun sudah diajak ibu merantau ke pelosok Jambi. Jika saya melihat kekehan anak kecil ini, saya seolah berkaca  mungkinkah saya kecil dulu seperti itu. Terkekeh jika di godain teman sebangku almarhumah ibu saya dalam perjalanan antar pulau antar propinsi tersebut. Tidak tahu betapa beratnya beban beliau harus mengajak saya menempuh perjalanan dua hari dua malam duduk di bangku reyot bis ekonomi yang membayarnyapun di cicil jika sudah ada uang setelah sampai di tanah perantauan.

Setelah melewati stasiun Tegal, sikecil sedikit rewel.  Mungkin karena kecapekan atau merasa jenggah dengan pengapnya kereta. Saya ambil inisiatif untuk menggendongnya mengajak jalan-jalan di antara gerbong-gerbong kereta. Setelah melihat pemandangan luar dari  atas sambungan-sambungan kereta, dia pun kembali terkekeh dengan riangnya. ah ternyata jiwa petualangnya sedang belajar mengenal segala sesuatu yang baru baginya. Saya jadi kembali bercermin pada sosok si mungil ini, apakah saya dulu juga selucu ini, dulu almarhum bapak pernah cerita bahwa umur dua setengah tahun saya sudah bisa berenang (renang gaya kampung pastinya). Mungkin karena kebiasaan mandi di sungai Batanghari tiap pagi dan sore sejaak kecil, faktor kebiasaan itu sudah membentuk jiwa saya. Dalam gendongan saya si petualang kecil ini terlelap dengan nyenyaknya baru saja tadi dia terkekeh dengan riang melihat alam negerinya yang indah ini..

"Namanya lelono mas"

Begitu yang keluar dari bibir ibu muda itu ketika melihat saya sedang mencium kening sikecil dalam lelap tidurnya. Saya tidak tahu arti pastinya dari nama itu, namun dari bibir mungil itu keluar penjelasan bahwa nama itu berarti "pengembara". Duh gusti Allah kenapa benak saya seolah tersihir mendengar penjelasan itu, apakah dia akan jadi seperti saya, menghabiskan waktunya dijalanan. Merangkai bait demi bait pelajaran dalam setiap perjalanan.

Arini namanya, sosok wanita muda dari salah satu desa di daerah Demak. Airmatanya kembali menetes ketika menceritakan lembar demi lembar kisah hidupnya. Dahulu selepas dari sekolah Tsanawiyah, dia dipaksa kawin dengan seseorang yang  kaya didesanya. Sudah merupakan kisah klasik jika materi selalu jadi alasan. Dia menolaknya secara halus dengan alasan mau ikut bekerja sebagai TKW ke Arabsaudi,  dan dia berhasil lolos dari kawin paksa tersebut. Namun belum setahun berada di sana dia sudah hamil buah kasih nya bersama anak sang majikan. Na'asnya sang anak majikan tidak mau bertanggung jawab. ah sudah menjadi kisah klasik juga memang cerita seperti itu. Tapi kenapa harus dia, sang gadis lugu itu,  sungguh besar rahasia Tuhan buat umata-Nya ternyata.

Stasiun Tawang masih seperti terakhir kali saya menyambanginya. Jinggle gambang Semarang kembali terdengar. si Lelono sudah terbangun dari tidurnya. Saya dibuat kaget ternyata bawaan mereka sangat banyak. Dua koper besar belum lagi kardus-kardus yang terikat tali plastik. Tidak mau repot saya pun memanggil jasa angkat barang yang ada di stasiun untuk diantarkan ke sebuah taksi. Saya memilih taksi supaya kedua insan ibu dan anak ini merasa sedikit nyaman. Sudah barang tentu akan sangat merepotkan sekali jika harus naik turun angkot untuk sampai di terminal bis Terboyo. Sesampainya di terminal Terboyo kebetulan ada bis ac yang akan berangkat menuju Surabaya. Tanpa pikir panjang dengan dibantu sang kenek dan supir taksi semua barang sudah masuk ke perut bis. Lelono masih dalam dekapan saya, sementara si Arini menenteng sebuah tas yang isinya perlengkapan bayinya untuk bepergian. Setelah hampir satu jam perjalanan kami memasuki kota Demak.

Desa Arini sendiri terletak di ruas jalan antara Demak-Kudus. Akhirnya sampailah kami di sebuah pemberhentain yang menjadi titik menuju desa arini. Kami harus melewati jalanan desa yang tidak terlalu lebar untuk mencapai desa mereka. Kanan kiri jalan masih terhampar sawah persawahan. hanya ada satu moda transportasi untuk menuju rumah arini dari pinggir jalan raya Pantura ini. Ojek, moda transportasi ini menjadi idola bagi warga desa tersebut. Hanya ada dua tukang ojek yang terlihat menawarkan jasanya ketika melihat kami turun dari bis. Alhasil  mereka harus bolak balik untuk mengangkut barang bawaan dua sahabat baru saya itu. Suasana haru menyeruak seketika disaat Arini dan petualang kecilnya bertemu dengan kerabatnya. Sang nenek tak henti-hentinya menciumi pipi si Lelono. Bahkan ada diantara saudaranya yang menganggap bahwa saya adalah suami dari arini. Hanya senyuman manis yang tersungging dari bibir saya serta ikut merasakan kebahagiaan itu.

Setelah mendapatkan menu makanan khas kampung, perut saya sudah kenyang. Saya pun bergegas pamitan kepada keluarga itu. Melanjutkan kembali perjalanan saya ke kampung halaman, untuk mengunjungi pusara almarhum bapak. Sebuah pelajaran berharga kembali saya dapatkan dari perjalanan kali ini, sekeras apapun saya kecil dulu bertahan hidup supaya bisa tetap sekolah, sepeninggal ibu menghadap sang khalik, tapi setidaknya dalam status catatan sipil saya masih punya bapak dan ibu. tidak bisa saya bayangkan bagaimana beban berat Lelono kecil ketika dia akan beranjak dewasa menyadari ini semua. Semoga Tuhan selalu melindungui ibu dan anak itu. Amin.

Labels: ,