Pilkades yang kebanjiran

Para Calon Kepala desa

Kesibukan terjadi begitu luar biasa pada hari itu, semua warga bersuka cita menyambut perhelatan akbar yang akan segera berlangsung, sebuah pesta rakyat yang senantiasa mereka tunggu-tunggu untuk mendapatkan seorang pemimpin desa yang pada pundaknya lah mereka menggantungkan harapan-harapan untuk sebuah kemajuan desa, namun perhelatan itu sedikit berbeda karena terjadi di tengah bencana banjir yang menimpa desaku.

Banjarsari, sebuah desa kecil di kecamatan Gabus kabupaten Pati, mungkin bagi setiap warganya kedatangan luapan air seperti saat itu bukan lah hal baru, sudah hampir turun menurun mereka menerima bencana yang menjadi siklus musiman tersebut, namun untuk merelokasi warga ke tempat yang lebih baik tentu bukan lah hal mudah, nilai-nilai historical dan silsilah keluarga merupakan faktor yang menjadi kendala terbesar, pernah suatu saat saya mencoba bertanya kepada beberapa warga mengenai hal tersebut dan jawaban mereka semuanya sama “kulo lair teng mriki yo pengen sedho teng mriki mas” (saya  lahir disini ya matipun ingin disini mas) hal itu juga yang akan keluar dari mulut saya jika ada orang yang menanyakan sebuah pertanyaan seperti yang keluar dari mulut saya saat itu.







Jalan menuju Balaidesa
Suasana Balai desa yang terletak di pinggir jalan raya kecamatan itu sudah penuh dengan para warga dan pendukung dari masing-masing calon kepala desa, ada empat kandidat yang mencalonkan diri sebagai kepala desa pada periode tersebut, mungkin di kota-kota besar seorang kepala desa sudah di tunjuk dari pemerintahan diatasnya, namun di desa saya pemilihan kepala desa dilakukan secara langsung, uniknya adalah diantara 4 kandidat tersebut 3 diantaranya adalah saudara sepupu saya, namun yang saya unggulkan ada satu dan seperti harapan para warga yang lain bahwa di pundaknya lah kampung halaman saya ini bisa selangkah lebih maju dari sekarang, syukur-syukur bisa menghilangkan musibah musiman banjir dari desa ini.
Melihat sebuah pemadangan didepan mata rasanya sedih sekaligus bahagia, disatu sisi saya sedih melihat sebuah perhelatan akbar seperti ini di tengah sebuah bencana, namun di sisi lain saya begitu bahagia karena hampir seratus persen warga yang terdaftar memberikan hak suaranya, meskipun dengan segala upaya mereka menempuh rintangan banjir untuk menuju ke balai desa, bahkan tidak jarang saya jumpai seorang nenek maupun kakek berjalan dengan di papah cucu maupun anak-anak nya untuk memberikan hak suaranya.


Menunggu hasil penghitungan
Waktu terus berjalan dan para warga yang terdaftar sudah semuanya memberikan hak suaranya, tibalah saatnya penghitungan suara di lakukan, bilik-bilik suara yang tergenang air juga sudah di buka tirainya, semua warga antusias dengan proses ini, terlihat muka-muka tegang dari para kandidat, hingga akhirnya tibalah pada suatu keputusan bahwa EDY MARGIONO ST lah yang menjadi kepala desa untuk periode selanjutnya, sesuai dengan perkiraan saya, seorang sepupu saya yang menamatkan sarjana tehnik nya di Fakultas tehnik Universitas Muhammadiyah Malang, beliau meraih lebih dari limapuluh persen suara dari para warga yang terdaftar.
Satu-persatu warga mulai meninggalkan balai desa, ada yang merasa bahagia dengan kemenangan ini, namun di lain pihak ada juga yang kecewa karena calon yang menjadi jagoannya tidak terpilih. Kesunyian kembali terasa di balaidesa yang waktu saya kecil sering bermain di halaman nya yang luas, ada sebuah kalen (selokan) yang dulunya sering saya gunakan bermain air maupun memancing ikan-ikan kecil yang ada di dalamnya, bahkan ketika musim kemarau tiba saya sering Nawu (mengeringkan selokan dengan cara menguras habis airnya dan memunguti ikan-ikan yang menggelepar  karena tidak mendapatkan air di selokan tempat mereka biasa bermain).
sang kepala desa baru

Keharuan yang terjadi
Pesta ternyata belum usai, di rumah kandidat yang terpilih semua bersuka cita menyambut seorang kepala desa baru, salam selamat dari berbagai pihak rasanya tidak ada henti-hentinya berlangsung, berbaur dengan tangisan haru dan pelukan-pelukan dari para saudara dan kerabat yang hadir saat itu, semua larut dalam kegembiraan, namun begitu semuanya harus berakhir mereka baru tersadar bahwa bencana banjir masih mengancam desa mereka, semua aktifitas terhenti karena datangnya banjir yang tidak pernah bisa di prediksi ini, pak Edy ini Pekerjaan Rumah buat bapak, selamat menjabat, semoga desa kita bisa lebih maju dari sekarang. Amin

Labels: ,