Danau Toba, Kesan pertama begitu menggoda

Komplek Raja Siallagan
“tidak ada yang langsung ke Prapat bos” begitulah yang saya dengar dari petugas loket bis Intra di terminal amplas Medan, alhasil kami harus menempuh jalur Medan-Pematangsiantar terlebih dahulu, baru dari sana ada trayek yang melayani Siantar-Prapat dengan armada L-300, tapi telisik-punya telisik setelah di Prapat ternyata ada bis yang melayani rute Medan-Prapat, namun hanya kelas ekonomi yang tersedia, alias tanpa AC, bukan masalah sebenarnya bagi Lostpacker macam saya. Tiba di Prapat ternyata masih salah dermaga, karena dermaga yang melayani rute Prapat-Tomok berbeda dengan Prapat-Tuktuk. Setelahhampir satu jam menunggu diatas kapal wisata di pelabuhan Tigaraja, kapal belum juga ada tanda-tanda akan berangkat, ternyata memang sedang sepi pengunjung, hanya kami bertiga dan beberapa penumpang lain saja, sementara seorang calo sedang asik berceramah tentang product-product nya, seperti voucer hotel dan lain-pain, saya lebih senang pergi ke buritan kapal untuk menikmati indahnya danau Vulkanik yang siang itu di gelayuti mendung.




Carolina Cottage
Setelah berkeliling akhirnya pilihan menginap jatuh di hotel Carolina cottage, tapi kamar ekonomi yang beach habis, akhirnya ambil yang rate diatas nya itu, lumayanlah seratus sekian harganya, tapi tetap nyari yang beach, agenda selanjutnya adalah mencari rumah makan, perut rasanya sudah bergolak, bagi para pendatang harus sedikit cermat untuk makan di warung-warung makan yang ada disini, lihat dulu di bagian depan warung, apakah ada tulisan “warung muslim”nya?, tapi tidak usah khawatir banyak sekali warung muslim bertebaran kok di sepanjang jalan desa wisata Tuktuk ini. Perut sudah kenyang, timbul ide untuk bersepeda di tepian danau sambil menikmati rona senja yang sebentar lagi akan segera hadir.

Semburat merah senja hanya sebentar terlihat, mendung menggelayut akhirnya menumpahkan rintik hujan, saya beserta 2 orang travelmate tunggang langgang mengayuh sepeda untuk kembali ke penginapan, dikarena menggendong kamera kesayangan tanpa tas nya, saya lebih khawatir tentang kesehatan kamera dari pada diri saya ha ha, padahal dahulu paling senang jika hujan turun, bisa main di tengah hujan sesuka hati, tanpa harus khawatir dengan kamera maupun laptop yang biasa menemani setiap pentualangan saya.



Spot nyemplung yang membuat badan mengigil
Setelah mencoba berenang di airdanau yang ternyata dingin sekali, mengguyur badan di pancuran kamar mandi akan nikmat sekali , benak saya berpikir seperti itu, tapi begitu air mengenai sekujur tubuh, brrrrr ternyata dinginnya menusuk tulang, ternyata air disini masih dingin sekali, terlebih di dukung oleh suasana hujan yang sedang menumpahkan asa nya ke bumi, seangkir kopi panas ternyata bisa sedikit mengusir rasa dingin malam itu, suasana café hotel Carolina malam itu juga terasa nyaman sekali, dentingan music terdengar lirih mengalun, menyambangi jiwa-jiwa petualang para pengunjungnya.


Mentari pagi seolah enggan berbagi sinarnya bagi penduduk Toba pagi itu, duduk di bangku panjang di pinggir danau terasa nyaman sekali, walaupun sesekali rintik hujan menyentuh tubuh, terlihat barisan bukit-bukit indah di kejauhan, seorang nelayan juga sedang menebar jaringnya, danau juga terlihat sangat tenang dan penuh misteri, seandainya kenikmatan seperti ini bisa dirasakan warga kota, alangkah nyamannya tinggal di perkotaan. Dua sahabat saya baru terlihat keluar dari kamarnya setelah saya puas menikmati danau itu seorang diri, secangkir kopi kembali menjadi sahabat untuk mengawali hari.

Setelah menikmati sarapan di warung muslim langganan yang penjualnya kemarin tidak mau tersenyum sama sekali, pagi itu tersenyum dengan ramahnya, hari ini saya hanya akan berkeliling di sedikit daerah Samosir ini, rencana ke daerah Pangururan harus saya tunda terlebih dahulu, sampai di sebuah desa kecil saya di hadapkan kembali pada kehidupan masa lampau, sebuah komplek raja Batak dari marga Siallagan masih berdiri kokoh, beberapa rumah adat Batak masih berdiri dengan gagahnya, di dalamnya terdapat sebuah museum tentang sejarah-sejarah dari Raja Siallagan ini, sebuah alat tenun ulos tradisional masih saya jumpai dimuseum ini, berbagai jenis ulos pun terjajar rapi di dua sisi rumah museum ini, melongok ke depan terlihat sebuah arena pengadilan bagi setiap warga kerajaan tersebut, sebuah meja bulat dan beberapa kursi terlihat melingkar yang kesemuanya terbuat dari batu, di bawah rumah juga masih terlihat sebuah patung yang menggambarkan sedang menjalani hukuman pasung, keluar masuk komplek ini ada sebuah gerbang kecil yang bisa kita masuki dengan posisi menundukkkan kepala terlebih dahulu, mungkin ini adalah symbol penghormatan bagi tuan rumah.



Komplek raja Batak dari marga Siallagan
Menyusuri jalan-jalan dari Ambarita ke daerah Tomok kita akan disuguhi sebuah keindahan yang luar biasa, menentramkan hati siapapun yang memandangnya, sebuah hamparan sawah dengan padi-padinya yang menguning, di peluk oleh perbukitan yang indah, sebuah lukisan sempurna yang di hadiahkan Tuhan kepada umatNya. Setelah bertanya kesana-kemari tentang letak dari patung siGale-gale akhirnya kami menemukan lokasinya yang ternyata petunjuk nya tertutup oleh papan para pedagang. Sebelum sampai ke lokasi kita harus masuk gang kecil yang kanan-kirinya penuh dengan pedagang-pedagang, sekilas seperti memasuki PopiesLane, daerah favorit saya di Bali, namun sebelum sampai di gang tersebut indera penglihatan saya di usik oleh sebuah Geraja yang indah Karena berlatarbelakang perbukitan yang indah, mampir sebentar ke komplek gereja untuk mengabadikan moment itu, sampai di komplek wisata sigale-gale, suasana terlihat sepi, Karena tidak ada pengunjung yang datang, dahulu kala katanya si patung itu bisa menari-nari sendiri, namun sekarang di gerakkan oleh seseorang setiap ada pengunjung yang hendak menyaksikannya, untuk menyaksikan show itu ada retribusi yang di pungut sebesar 80.000 per show, ternyata kami bertiga tidak ada yang berminat untuk membayar sejumlah uang yang bagi dompet lostpacker lumayan besar alhasil hanya menikmati suasana kampung adat saja, dalam hati saya, nunggu aja nanti jika ada pengunjung lain ikut menyaksikan show tersebut, dan benar adanya tidak selang beberapa saat ada serombongan keluarga besar datang dan itu artinya kami bisa menyaksikan pertunjukan sigale-gale gratis ha ha ha, mereka asik sekali menari bersama si patung yang di gerak kan oleh seseorang di balakang patung itu.


SiGale-gale
Puas menikmati suasana itu kembali ike penginapan adalah pilihan yang terbaik, Karena saya harus segera kembali ke Medan untuk meneruskan perjalan ke kota Pekanbaru sore nanti, sementara dari Toba ke medan di butuhkan waktu sekitar 5-6jam, dua sahabat wanita saya melanjutkan petualangan nya menyusuri danau Toba, sedikit rasa khawatir muncul karena keduanya adalah pengemudi sepeda motor yang baru belajar, tepat pukul 13:00 kapal wisata Carolina beranjak pergi meninggalkan pulau Samosir, danau Toba masih terlihat tenang sekali, namun ketenangan itu terusik oleh ulah oknum calo sialan yang menipu saya.




Simbol-simbol Batak
Sampai di Pematang siantar saya berkenalan dengan seorang supir becak motor dan membuat deal untuk berkeliling kota sebentar sambil menikmati ajib nya duren Siantar, mampir sebentar ke rumah makan di daerah pertokoan untuk mengisi perut, bang Ucok lahap sekali menikmati makannya, katanya belum pernah makan di restoran itu, miris sekali padahal setiap hari dia sering mangkal di depan restoran tersebut, puas menikmati makan sore dan duren yang lezat saya meminta bang ucok untuk mengantarkan saya ke loket bis Intra namun sesuatu terjadi , loket terlihat sepi, ternyata bis baru berangkat beberapa saat yang lalu, kepanikan mungkin terlihat di wajah saya, bang Ucok hanya terkekeh melihat rona wajah saya, akhirnya dia mengajak saya untuk mengejar bis dengan becak motor nya, setelah ngebut di jalanan selama 15 menit akhirnya terlihat bis yang tiketnya sudah ada di tangan saya, sambil melambaikan tangan bang ucok memotong di depan bis dan bispun berhenti.


setelah memasukkan tas Keril saya ke bagasi saya bergegas menaiki bis sambil menyodorkan sejumlah rupiah seperti yang sudah di sepakati di awal sebelum perjalanan tadi, namun bang Ucok menolak sambil berkata “Tidak usah lai, kapan abang ke Jakarta abang kabari kau” sambil melambaikan tangan dia masih berdiri hingga bis terliaht menjauh, Terima kasih kawan. Mengatur bangku untuk segera tidur setelah sedikit berdoa karena di dalam bis Siantar-Pekanbaru ini saya akan melewat hari dimana usia saya akan bertambah lagi satu tahun. 

Happy Birthday Bolang

Labels: ,