Pekanbaru, Membuka lembar kenangan

Tepat pukul 06:00 akhirnya saya menginjak kan kaki lagi di kota kecil Perawang, terlihat sebuah terminal kecil yang dulu waktu saya harus meninggalkan kota kecil ini sedang dalam tahap pembangunan, namun sepertinya sedang ada sepasang mata yang memperhatikan gerak gerik saya, tidak selang bebarapa saat seorang wanita mendekati saya sambil tersenyum manis, “darimana dek?” sebuah pertanyaan terlontar dari mulut wanita paruh baya itu, setelah ku ingat-ingat wajah itu ternyata beliaulah yang menawari saya sirih pinang tadi malam sewaktu bis sedang berhenti sejenak untuk makan malam di sebuah rumah makan. “dari Jakarta bu” begitu saya menjawab dengan balasan senyum yang paling manis yang saya punya, nah pertanyaan kedua yang membuat saya selalu tertawa jika mengingatnya “mau gak jadi suami ketiga saya dek?” waduh, ini mimpi atau ngigau ya, jika yang ngomong begitu Artika saridevi atau Dian sastro akan lain ceritanya, nah ini seorang ibu-ibu dengan anak tiga dari dua suaminya terdahulu, cerita punya cerita kedua suaminya terdahulu meninggal karena kecelakaan semua, saya hanya tersenyum menjawab pertanyaan ibu itu, dan segera berpamitan karena si Mbah seorang sahabat lama saya sudah datang menjemput.


Truck yang mengangkut kayu wajib naek Ferry supaya jembatan nya awet
Jembatan yang sepi dan lurus yang menghubungkan Perawang dengan Siak
Tidak terlalu banyak terjadi perubahan di kota kecil ini, hanya sebuah pusat perbelanjaan sudah hadir di bekas gedung bioskop 88 yang dulu sangat terkenal sekali di daerah ini, sebuah kota industri di pesisir sungai Siak, istirahat sejenak di mess Bunut, sorenya si empunya kamar pulang dengan ajakan mengunjungi kota Siak dengan mobil pinjaman, setelah diskusi sebentar ternyata hanya saya yang bisa mengemudikan mobil ,akhirnya saya harus menyetir dari Perawang sampai Siak, jalanan lurus dan sepi yang diapit oleh perkebunan kelapa sawit pada sisi kana kiri jalan membuat adrenalin saya terpacu, sambil tetap focus pada jalanan saya puas menggeber mobil hingga gigi 5, jika di Jakarta paling banter gigi 4 walaupun itu di Tol. Hampir magrib saya baru menginjakkan kaki di kota siak, melewati jembatan Siak yang Megah itu rasanya tangan gatel untuk memencet shutter kamera, hanya beberapa shoot yang berhasil di jepret sore itu karena memang sudah terlalu malam untuk memotret, acara selanjutnya adalah yang saya tunggu-tunggu, M A K A N, yah Lezatnya gulai udang galah yang di tangkap dari sungai siak sudah terbayang di ujung lidah, selain udang ternyata rumah makan yang berada di depan istana Siak itu juga menyediakan gulai siput, hewan kecil bercangkang itu terasa nikmat sekali malam itu, dimakan bersama bebarapa sahabat lama.

Jembatan Siak yang megah di waktu petang menjelang

Istana Siak di waktu malam

Udang galah khas sungai Siak

Gulai siput yang wajib di coba
Keesokan harinya saya sudah harus berkemas karena mau melanjutkan perjalanan ke Pekanbaru, tepat setelah saya menikmati makan siang dengan menu Dendeng Batokok yang nikmat sekali siang itu, rumah makan kecil ini merupakan favorit saya dahulunya, malah mantan bos saya yang seorang warga negara asing sering minta di belikan dendeng itu, dia menyebutnya Local Steak. L-300 atau masyarakat setempat menyebutnya Superben melaju dengan kecepatan tinggi, saya hanya memperhatikan sepanjang jalan ternyata memang belum terlalu banyak perubahan, hamparan ladang minyak yang di kelola oleh PT CEVRON membentang di hampir daratan sepanjang jalur Perawang Pekanbaru yang saya lewati. Hampir 2 jam juga perjalanan yang harus saya tempuh, sampai di terminal yang cukup megah namun masih sepi ini saya menghubungi seorang sahabat baru, “I’ll be there soon” jawaban yang terbaca di layar handphone saya, baru beberapa halaman membaca novel Yudi sudah menyapa saya, kami melanjutkan perjalanan menuju kota, karena letak terminal bis memang berada di luar kota, saya bermaksud menginap di wisma-wisma murah meriah seperti biasa, namun Yudi menawari saya untuk menginap di rumahnya, dan tanpa pikir panjang saya meng Amin i ajakan itu, makasih Yud. Malam itu berkeliling kota Pekanbaru, banyak sekali remaja pekanbaru sibuk dengan kegiatan malam minggunya, setelah capek pulang kerumah dan tidur adalah pilihan paling bijak.


Masjid Agung Pekanbaru
Pagi menjelang, setelah mengguyur badan di bawah shower badan terasa segar sekali, di meja makan sudah terhidang segelas teh manis panas, dan menu sarapan lengkap. sedang asik ngobrol ringan sang tuan rumah keluar dari kamar dan bergabung bersama kami, seorang bapak-bapak yang asik juga diajak membicarakan segala hal, seorang pengusaha dengan mental baja. Salut buat pemikiran-pemikiran sederhana beliau, setelah berpamitan laju mobil mengarah ke sebuah danau buatan di pinggir kota, cuaca memang sedang terik, suasana danau yang dulunya di peruntukan sebagai cadangan air itu masih terlihat sepi, hanya sesaat berada di danau tersebut, perjalanan di lanjutkan ke sebuah Mesjid An-Nur yang terlihat sangat megah sekali siang itu di payungi oleh gumpalan awan-awan putih dan langit biru yang menarik sekali, setelah mampir makan siang sebentar di rumah makan padang idola anak muda pekanbaru, saya pun harus bergegas ke bandara, karena siang ini harus kembali ke Jakarta, dan saya harus menyudahi petualangan kali ini untuk sementara waktu.

Beberapa sahabat lama dari Perawang

Bersama yang empunya Pekanbaru, Yudi

Labels: ,