SABANG, kenangan yang tertinggal

Dua moda transportasi menuju pulau WEH
Dewa matahari sudah mulai condong ke arah barat, mendekati istana terindahnya untuk menyapa sang dewa malam, sementara kesibukan di pelabuhan kecil pulau yang terletak di ujung barat nusantara ini tidaklah seramai seperti yang di khawatirkan beberapa sahabat saya ketika kami menuju lokasi pelabuhan tersebut, kekawatiran untuk tidak mendapatkan tiket kapal juga serta merta sirna dengan pemandangan di depan mata, mungkin dikarenakana banyak pengunjung yang bertetirah di pulau ini membawa serta kendaraan pribadinya, sehinga mau tidak mau mereka  harus menggunakan jasa kapal ferry.


Sementara yang lain sibuk dengan kegiatan masing-masing saya terlibat dalam sebuah antrian kecil di loket pembelian tiket kapal, “Sembilan orang pak, kelas bisnis” sambil memonyongkan mulut ke sebuah lubang kecil di depan loket , setelah menyerahkan sejumlah rupiah dan tiket sudah ada di tangan  saya menghampiri umi dan menyerahkan tiket supaya di simpan, menyusuri lorong-lorong kecil pelabuhan jadi agenda saya selanjutnya, terlihat beberapa pengemis sedang mecoba peruntungan nya dari belas kasihan para pengguna jasa pelabuhan, miris memang di negara yang pejabatnya dengan seenaknya pergi study banding wisata yang gak jelas  ini, masih banyak saya jumpai kaum marjinal yang mungkin kelasnya paling bawah dalam tatanan masyarakat, hampir di setiap petualangan-petualangan saya selalu menjumpai kaum ini.



Pelabuhan Balohan

Perut rasanya sudah mulai protes, tidak tahu kenapa selama bertetirah nafsu makan selalu menggebu, Menu santap siang di rumah makan Murah Jaya yang terletak di jalan perdagangan no 52 kota Sabang tadi siang rasanya kurang nampol, nafsu makan seketika menurun setelah sang penjual makanan memberikan sepiring kecil gulai ikan, setelah di Tanya ternyata Gulai Hiu, bayangan hewan buas yang di lindungi itu sedang meronta kesakitan seolah hadir di depan mata, alhasil saya hanya makan dengan udang gorng, sambel gambas serta sambel ganja khas sabang, rasanya khas sekali, kata sang penjual sambel itu terbuat dari udang ebi yang di belnder dengan bumbu dan belimbing wuluh, pantesan warnanya hijau cerah, lha kenapa di namain sambel ganja ya ha ha.

RUmah Makan di Sabang

Gulai HIU


SAmbel Ganja

Tepat pukul 16:00  kapal cepat KM.PuloRondo yang kami tumpangi meninggalkan pelabuhan Balohan, terlihat bukit-bukit yang hijau, pantai dengan perkampungan nelayan yang seolah tidak rela untuk di tinggalkan, sepenggal kisah sudah tertoreh di pulau yang katanya berada paling ujung kepulauan nusantara ini, padahal masih ada pulau Rondo yang sejatinya adalah pulau terluar ujung barat kita. Laju kapal membelah heningnya samudera sore itu, tujuan kapal ini adalah pelabuhan Ulhe lehue di kota banda Aceh,disanalah saya akan berpisah dengan sahabat-sahabat saya, setelah selama 2 hari saya berkelana seorang diri, beberapa sahabat harus kembali keJakarta karena rutinitas sebagai kaum urban dikota yang sebisa mungkin hindari itu, perjalanan saya akan berlanjut mengunjungi kota Medan, namun bukanlah kota itu tujuan saya, sebuah danau vulkanik yang konon katanya merupakan danau vulkanik terbesar di dunia, bersama dua sahabat perempuan saya tety dan Uwie yang kebetulan akan menjelajah keindahan danau tersebut, namun sekali lagi kami berbeda tujuan, saya hanya akan sehari bersama mereka, karena harus melanjutkan perjalan menuju kota pekanbaru.

Kapal Cepat

Kapal Ferry
 Hujan rintik-rintik masih membasahi bumi ketika Km.PuloRondo merapat ke pelabuhan Ulhe lehue, beberapa sahabat perempuan saya sudah memakai kerudung nya, menurut peraturan dewan syariah memang harus begitu, “sekarang tidaklah seketat dulu mas” sahabat saya yang asli aceh bertutur, Labi-labi  (kendaraan umum yang terbuat dari mobil box, seperti saya jumpai di pelosok-pelosok jawa dan pulau Lombok) sudah di dapat dengan deal harga yang bersahabat. Kura-kura kecil yang kami tumpangi ini mengarah ke penginapan, mereka yang hendak bertolak ke Jakarta harus menginap dulu di Banda Aceh karena harus menyesuaikan dengan jadwal pesawat yang kaan menerbangkan mereka, sementara saya bersiap untuk melakukan perjalanan darat ke Medan, 
Hayo cari mana yang perempuan Asli

suasana dalam kapal KM.PuloROndo

Masuk ke Labi-labi
Badan terasa segar setelah numpang Mandi di Hotel tersebut saya kembali menuruni lobi hotel yang menjadi saksi bisu dahsyatnya gelombang Tsunami  itu, sementara Ipul dan Citra sudah asik mengobrol di sofa lobi, saya memang mengabari citra untuk di ajak wisata kuliner di Banda Aceh, walaupun hanya singkat waktu saya disana, namun waktu yang sedikit itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, Melenggang tanpa beban menuju warung mie Aceh RAZALI dengan menyusuri trotoar trotoar jalanan Aceh kembali angan melambung tentang kejadian mengerikan itu, tapi Alhamdulillah sekarang semuanya bisa tersenyum, Citra berada di depan dengan langkah-langkahnya yang cepat, sementara saya pilih jalan santai dengan mengamati keadaan sekitar, ternyata saya diajak melewati daerah pecinan, seperti daerah-daerah lain pecinan adalah pusat perdagangan, hal ini sudah terjadi dari masa colonial negeri ini.


Mi Kepiting khas Aceh
Sepiring mi kepiting terhidang di depan muka saya, harumnya semerbak menggugah nafsu makan saya, kepiting nya utuh ternyata tidak di suwir-suwir seperti anggapan saya sebelumnya, setelah sendokan pertama rasanya sulit sekali berhenti, campuran bumbu-bumbunya sungguh terasa sekali, sudah beberapa tempat yang saya datangi menyediakan menu mi Aceh, namun di warung inilah saya bilang mak nyus (level tertinggi rasa versi om Bondan), hanya dalam hitungan beberapa menit ludeslah sudah sepiring mi Aceh nan lezat itu, Citra hanya senyam senyum melihat tingkah saya seperti  kesetanan, belum puas rasanya kulineran sore itu, saya masih penasaran dengan nikmatnya kopi Aceh, setelah nego dengan supir becak motor akhirnya kami menuju lokasi anak-anak muda aceh sering berkumpul, RingRoad, sebuah café di dekat terminal bis, ah kebetulan pikir saya, sembari menunggu bis yang akan membawa saya ke kota Medan. Setelah menemukan tempat duduk, saya mengamati sekeliling kok semua lampu gelap, dan café itu mulai menutup pintu-pintu café, saya memanggil seorang pelayan yang sedang sibuk mengemasi gelas-gelas dan piring di sebuah meja, dengan senyum manis khas Acehnya dia berkata, “maaf mas kami tutup” , sempat bingung dengan kejadian itu, ini bukan di Ambon  kan yang jam 7 malam aja Mall sudah sepi, baru saja duduk sebentar dengan mengamati indahnya langit di ufuk barat, kembali café membuka pintu-pintunya, dan lampu-lampu warna-warnipun dinyalakan, setelah telisik punya telisik mereka akan menghentikan kegiatan sementara ketika waktu Sholat tiba, Owalahhh, salut buat Aceh.



Ring Road Cafe

Citra menghampiri meja sebelah yang ternyata ada salah seorang temannya sedang duduk disana, berniat hendak meminjam sepeda motor untuk mengantarkan saya ke terminal, sontak saja temannya terkekeh sambil berkata dan menunjuk sesuatu “ woii itu di depan kamu sudah pintu terminal”, setelah kami menengok ke seberang ternyata memang benar terlihat bis hilir mudik memasuki terminal ha ha, dasar Citra..setelah menyeruput secangkir kopi Aceh saya berpamitan ke teman citra dan selanjutnya  berdua kami berjalan kaki menyeberang menuju pintu gerbang terminal, setelah sampai terminal dan saya bertemu dengan tety, citra berpamitan dan lambaian tangan mengakhiri perjumpaanku dengannya kali ini, Makasih citra sudah mau di repotin. Tety terlihat sedang membeli sesuatu untuk bekal kami di bis nanti, perjalan 10-12 jam akan kami tempuh untuk sampai ke kota Medan, setelah semuanya beres  saya memasukkan tas-tas besar kami ke Bagasi, petugas bagasi memberika Tag ke saya, dan setelah memasuki bis saya sedikit tercengang, suasana lampu-warna-warni seperti sebuah diskotik saja, namun lucunya music yang sedang mengalun adalah dugem dangdut ha ha ha, tety sedikit uring-urngan dengan music tersebut, alhasil untuk tidur aja susah karena beat music yang menghentak, rasa lelah mulai menjalar ke seluruh tubuh, dan saya pun tertidur dengan sukses.
Bis nya gonjrengg

Labels: ,