RUBIAH, antara keindahan dan kesetiaan

Bulan Purnama menyinari kami yang sedang menyeberang dari daratan pulau Weh menuju ke sebuah pulau kecil yang katanya menyimpan bermacam keindahan. Tak selang beberapa saat perahu bermotor yang saya tumpangi pun berlabuh ke sebuah teluk kecil di depan warung makan pulau Rubiah, sudah ada beberapa wisatawan asing yang sedang santai dengan membaca buku, sementara beberapa sahabat saya sudah sibuk dengan perlengkapan masing-masing, Bang Yuli menyambut dengan keramah-tamahan khas Aceh, salah satu sahabat saya sudah mengurus semuanya jadi saya tinggal gabung dengan mereka, disaat baru saja mendarat di pulau kecil itu rasa lapar sudah mendera, mungkin karena sudah waktunya makan malam.

Dalam waktu sekejap menu makanan khas laut yang terhidang pun ludes, acara selanjutnya adalah sesegera mungkin menuju ke rumah Leon, saya tidak tahu kenapa rumah panggung yang menghadap laut ini di sebut rumah Leon, namun jika saya perhatikan memang rumah ini lah yang paling besar diantara rumah-rumah lain yang beberapa diantaranya malah tidak menyediakan fasilitas kamar mandi, ada satu kamar dan sebuah ruangan tamu serta satu kamar mandi, dan yang menarik adalah kamar mandinya tidak berpintu ha ha, beberapa teman wanita saya mulai sibuk dengan hal itu, beberapa peraturan singkat dibuat, jika sedang ada cewek yang mandi semua personil laki-laki wajib berada di luar area dan kain bali di buat sebagai pintu darurat untuk kamar mandi tersebut, namun menggantungkan Hamock di teras rumah sepertinya lebih menggoda untuk kulakukan, dan akhirnya saya semalaman tidur dalam buaian angin laut di dalam hammock.


Jalanan menuju rumah Leon

Rumah Leon kami
RUBIAH, Kata yang asing di telinga saya itu ternyata adalah sebuah nama pulau kecil yang terletak di sebelah barat laut pulau Weh Aceh, rasa penasaran mulai menggelitik dari dalam diri, setelah mencari di berbagai literature akhirnya saya menemukan arti dari kata tersebut, ada beberapa definisi dari kata Rubiah tersebut, diantaranya adalah Wanita yang sholeh Ruhbanat , istri ulama dan definisi yang terakhir adalah wanita yg menjadi guru mengaji (Alquran). Hal ini sejalan dengan cerita yang berkembang di masyarakat sana yang saya dapatkan dari mulut salah satu sahabat saya yang berasal dari Aceh, bahwa nama pulau Rubiah sendiri berasal dari nama seorang perempuan yang meninggal dan di makamkan di pulau tersebut, Alkisah perempuan itu adalah istri seorang pemuka agama (islam) di wilayah Iboih, namun ternyata sang istri menyayangi seekor anjing, dan menurut hukum Islam seorang muslim di larang memelihara anjing karena air liur binatang pintar ini adalah sebuah najis, demi sayangnya sang pemuka agama kepada istrinya, beliau mengasingkan sang istri bersama anjingnya ke sebuah pulau hingga akhirnya meninggal dan dikiburkan di pulau tersebut, dari situlah nama Rubiah Muncul. Jika kita sedang trekking keliling pulau akan menemukan sebuah makam tua di bawah pohon besar, mungkin inilah makam ibu Rubiah tersebut, sedangkan jika kita berkeliling bukit Iboih juga akan menemukan sebuah makam seorang ulama, dan disitulah sang pemuka agama di kuburkan, benar tidaknya cerita yang beredar tersebut sulit sekali di buktikan, namun jika menilik dari korelasi ceritanya memang benar-benar ada.

Kuburan tua di pulau Rubiah
Pagi-pagi semua sudah di sibukkan dengan kegiatan masing-masing, memang ada diantara kami yang akan melakukan penyelaman hari itu, berhubung saya belum punya ijin menyelam akhirnya ya merasa berpuas diri aja dengan snorkeling bersama yang lain, semula kami berniat hendak menyewa perahu untuk bersnorkling di seputaran pulau Rubiah, namun karena harga nya sedikit mahal menurut kami akhirnya di putuskan, kami akan berenang mengelilingi pulau dengan bersenorkling, ah akan menjadi petualangan yang seru menurut saya, tak selang berapa lama kami sudah memulai petualangan itu, namun di tengah perjalanan salah satu sahabat ada yang merasa kepalanya pusing hingga akhirnya kami semua memilih menepi sekaligus beristirahat di sebuah pantai kecil yang indah, setelah itu petualangan kita lanjutkan kembali namun lagi-lagi rintangan menghadang, kali ini adalah rasa lapar, dan setelah melihat jalan setapak akhirnya kami putuskan untuk menyusuri jalan setapak itu, siang itu begitu terik terasa, perut juga sudah mulai keroncongan, namun sudah sekitar 80 persen pulau kami kelilingi, sampai di rumah Leon saya segera turun ke warung dan menyantap hidangan siang itu di atas rerumputan bersama yang lain, sungguh nikmat sekali rasanya, makan di saat rasa lapar yang mendera, kembali si bang Yuli pemilik warung di kagetkan dengan cepatnya kami menghabiskan masakannya ha ha. Puas makan rasanya kok rasa kantuk mulai datang, saya memindahkan hammock dari teras rumah ke dua batang pohon di pinggir pantai, tak selang beberapa saat Ipul salah satu sahabat saya menyusul dan saya akhirnya berbagi hammock dengannya sambil menikmati keindahan laut yang terpampang di depan mata, rasa lelah mendera hingga saya akhirnya tertidur pulas dalam buaian hammock.


Snorkling Time
Pantai tempat berisitirahat ternyata indah


Indahnya Rubiah
Terbangun sudah menjelang sore, anak-anak yang lain sudah siap dengan peralatan kameranya untuk mengejar sunset, namun sore itu seolah sunset enggan berbagi keindahannya, akhirnya mereka kembali lagi ke rumah Leon, sembari bercengkrama sambil menunggu makan malam saya kembali dalam pelukan Hamock. Disaat hendak turun ke rumah makan bang Yuli kami berpapasan dengan mereka yang baru pulang melakukan penyelaman, dan setelah di tanya grade keindahan alam bawah laut mereka memberikan tingkatan 4 jempol, ah saya semakin tertantang untuk segera memiliki ijin menyelam. Planning pertama kami hanya akan menginap semalam di pulau Rubiah, namun melihat rumah Leon yang menuruku nyaman akhirnya kami memilih untuk kembali bermalam di rumah ini.






Salah satu sisi Pulau Rubiah yang damai
Pagi menjelang ketika semua sibuk berkemas, karena pagi ini kami akan kembali ke Iboih dan menurut rencana semula kami akan bersnorkling di perairan Iboih, namun setelah sampai di sebuah café di damping Tirta Diver, niat semula pudar karena melihat panas yang menyengat, selain itu saya juga sudah menjelajah perairan ini kemarin seorang diri, hingga saya hanya menikmati kentang goreng dan segelas kopi aceh sembari memanfaatkan fasilita WIFI yang ada di café tersebut, hanya 2 orang diantara kami yang turun melakukan snorkeling, sementara yang lain sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mobil jemputan yang sudah dipesan untuk mengantarkan kami ke pelabuhan Balohan sudah datang, artinya kami harus segera meninggalkan berjuta keindahan ini sesegera mungkin, sedikit belum rela sebenarnya, namun dalam hati bergumam “saya harus kembali lagi ke tempat ini, namun dengan ijin menyelam di tangan”. Amin.

Labels: ,