Mengelilingi Pulau Weh, Let's get Lost


Pagi yang cerah itu seolah menggodaku untuk segera mencumbuinya, setelah puas bersnorkling lintas pulau (menyeberang dari Iboih ke pulau Rubiah) ingin rasanya segera mengeliling pulau Weh yang  indah ini, sebelum berangkat sempat berpapasan dengan kak Oma si pemilik bungalow, alhasil beliau membuatkan ku kopi aceh yang nikmat itu, dan yang lebih menyenangkan bergelas-gelas kopi itu  diberikan kak Oma secara cuma-cuma, alias gratis, wah bahagianya saya saat itu he he.

Langkah kaki bergegas ke deretan toko-toko dekat pintu masuk Iboih, menurut kak Oma disanalah tempat penyewaan kereta (sebutan sepeda motor di daerah ini, bahkan saya juga mendengar istilah ini di Medan dan Pekanbaru, jika kita ngomong motor, maka asumsi mereka motor itu mobil). Dan lagi-lagi keberuntungan memihak ku, bang Didi pemuda lokal yang menyewakan kereta ternyata adalah teman main sepak bola saya kemarin sore dan teman party tadi malam bersama para turis-turis asing, karena salah satu dari turis itu ada yang berulang tahun, maka kami menggelar party kecil-kecilan, dia pun menghampiri, “mau kemana bro?” kujawab mo killing pulau Weh, setelah nanya-nanya harga sewa kereta, ternyata sewa kereta disini cukup mahal, yakni 100 ribu untuk motor-motor matic keluaran baru, sedangkan 80 ribu untuk motor manual, benar kata sahabat saya tentang harga sewa motor ini, alhasil sedikit negoisasi sama si abang akhirnya saya di kasih harga 60 ribu dengan full bahan bakar, yihaaaa Tuhan selalu mendengar doa-doa para petualang, bahkan dia manawarkan diri untuk menemani saya keliling pulau weh ini gratis, namun saya tolak karena dia harus bekerja untuk persewaan motornya.
Let’s get lost..
Kata-kata itu sering saya lihat di tayangan tv NatGeo Adventure, dan akan segera saya alami, cuma bermodal peta sederhana akhirnya saya memulai petualangan keliling pulau weh ini, setelah pemberhentain pertama yakni di pantai Gapang dan saya kurang tertarik untuk eksplore lebih dalam pantai ini, yang ada kebanyakan penginapan-penginapan dengan kelas menengah keatas, tidak seperti di Iboih yang murah meriah he he. Tepat di  sebuah lokasi dimana saya bisa melihat pulau Klah  dengan jelas saya berhenti untuk sekedar menikmati indahnya pulau kecil yang menurut bapak sopir dulu konon katanya di peruntukan sebagai pulau Judi, namun semenjak Aceh memiliki dewan syariah hal itu hilang dari pulau kecil itu. 





Keindahan Pulau KLAH
Setelah puas membidik kan lensa kearah pulau itu laju motor pun saya pacu kembali di jalanan aspal lurus dan mulus pulau ini, tujuan selanjutnya adalah pantai Kasih, untuk mencapai pantai itu saya harus melewati kota sabang terlebih dahulu, kondisi kota ini sekilas seperti kawasan Dago, banyak bangunan-bangunan peninggalan Belanda lengkap dengan pohon-pohon besarnya, laju motor saya pelankan sambil menikmati sepinya jalanan di kota Sabang, kotanya berbukit-bukit dengan kontur jalanan turun naik, namun disitulah letak keunikan kota ini.  



Jalanan Sabang yang Sepi
Setelah bertanya kepada warga saya kembali melanjutkan perjalanan menuju pantai Kasih, pantainya sepi dan landai cocok buat berenang dan menikmati indahnya pasir putih pantai ini, namun garis pantainya kecil karena terbatas oleh batu-batu karang yang bertebaran. Hanya sebentar menikmati pantai ini, perjalanan dilanjutkan ke pantai Sumurtiga, namun sebelum pantai sumur tiga saya menemukan plang dengan petunjuk arah pantai Tapak gajah, pantainya bersih sekali, pasir putih membentang panjang, menurut saya pantai Tapak gajah dan pantai Sumur tiga saling bersambungan,


Pantai Kasih

Pantai Tapak Gajah
Puas menikmati pantai tapak gajah ini di siang terik saya pun melanjutkan kearah pantai Sumur tiga, sampai di Sumur tiga saya memesan sebutir kelapa muda, rasanya nikmat sekali menikmati segarnya kelapa muda di pinggir pantai yang indah seperti Sumur tiga ini, sementara di pantai ada beberapa anak-anak kecil sedang bermain air dengan gembiranya. Rasa jahil saya pun mencuat begitu saja, akhirnya saya hampiri kelompok anak-anak ini dan ikut berenang di pantai bersama sambil bercanda ria, iseng saja nanya ke mereka tahu gak pulau ini adalah pulau paling ujung barat Indonesia (sebetulnya adalah pulau Rondo pulau terluar di ujung barat Indonesia), ironisnya mereka tidak mengetahui itu, dan kucoba iseng menyuruh mereka menyanyikan lagu dari sabang sampai merauke dan syair seperti ini lah yang terucap dari semua mulut-mulut mungil anak-anak itu
“dari sabang sampai merauke, dari Timor sampai ka Talaut, Indonesia tanah airku, Indo*** seleraku”
saya hanya bisa terpingkal-pingkal mendengarnya namun sedikit miris  melihat fenomena seperti itu. Puas bermain bersama mereka, saya pun mentraktir masing-masing anak itu kelapa muda di warung yang ada di pantai ini, melihat keriangan mereka saya pun turut bahagia.


Pantai Sumur Tiga
Perjalanan pun berlanjut ke Fredy’s Café, memesan segelas jus sambil menikmati indahnya pantai Sumur tiga saya rasa pilihan yang tepat, indahnya pantai yang berbatasan langsung dengan selat Malaka itu seolah menyimpan berbagai misteri untuk diungkap, saya hanya seorang diri berada di café ini, gak tahu apa lagi sepi atau memang sedang pada melakukan kegiatan para tamu-tamunya, segelas jus sudah ludes, sayapun melanjutkan ke Casanemo, sebuah café juga masih dengan view pantai sumur tiga,  segelas kopi hitam  tersaji di depan saya, lagi-lagi sayang seorang diri barada di café dengan view dahsyat itu, sedang sepi atau memang kurangnya promosi dari dinas pariwisata  daerah ini, setelah membayar kepada pelayan restoran saya pun segera bergerak dari lokasi pantai itu.

Casanemo


Tujuan selanjutnya adalah Anoi itam, menurut sahabat saya Anoi mempunya arti  Pasir, jadi saya berkesimpulan daerah pantai dengan pasir hitam, dan benar adanya, setelah kesasar jauh dari lokasi anoi itam saya kembali dan mendapati sebuah lokasi wisata dengan pantai pasir hitam membentang, yang menjadi daya jual dari daerah ini adalah sebuah benteng penginggalan tentara Jepang, bentengnya seh biasa saja, cuma view dari puncak benteng ini sungguh ajaib, indahnya sempurna, menghadap ke laut lepas, saya pernah menjumpai view seperti ini di daerah Lombok timur tepatnya di Tanjung Ringgit, ada beberapa pasangan sedang bercengkrama menikmati indahnya dunia, serasa dunia milik mereka berdua mungkin ha ha.


Benteng Jepang di Anoi Itam
Ujung Kareung adalah destinasi selanjutnya yang akan saya datangi, sebuah  pantai yang terletak di desa Ie Meulee, letaknya dibagian timur pulau Weh, menurut keterangan pemuda setempat yang sempat ngobrol bersama saya di warung sambil menikmati semangkuk indomie rebus, daya tarik dari daerah ini adalah terumbu karangnya, banyak sekali terumbu karang bertebaran di sepanjang pantai ini, dari situ dapat saya tarik kesimpulan sendiri, jika banyak terumbu karang, pasti banyak pula ikan-ikan nya, nah pantas saja banyak sekali terlihat pemancing di daerah ini, perairannya cukup jernih, ingin rasanya menceburkan diri di air laut bening itu, namun saya tidak membawa peralatan snorkeling saya, akhirnya saya hanya bisa menikmati semuanya dari atas. Terlihat seorang bocah di atas perahu sedang mencari ikan dengan pancing dan jaringnya di tengah laut, sekilas terlihat seperti scene dari film The mirror never lies yang pernah saya tonton.


Ujung Kareung
Puas menikmati pemandangan yang luar biasa itu saya pun melanjutkan perjalanan kembali, di peta terlihat adanya jalan yang menghubungan antara Ujung kareung dengan pelabuhan Balohan, ternyata setelah tanya sana-sini, jalan tersebut ternyata belum jadi jadi saya berputar arah, kembali kearah semula yakni pantai Sumur tiga dan kota Sabang, laju motor kembali saya pacu untuk menuju lokasi pantai Pasir putih di daerah Kenekai, artinya saya mengambil arah Iboih kembali, namun sebelum sampai di Iboih ada persimpangan yang mengarah ke daerah Kenekai, saya pun mengambil arah Kenekai, menurut petawisata yang saya bawa di daerah kenekai ada beberapa lokasi wisata, diantaranya adalah pantai Pasir putih, sumber air panas, gunung api, namun saya hanya menyambangi dua lokasi, yang pertama adalah pantai pasir putih, pantainya bagus, terlihat beberapa anak kecil sedang bermain di pantai yang landai dan dangkal ini, beningnya air terlihat dari kejauhan, perahu-perahu khas Aceh juga menghiasi pantai ini, kembali saya memesan segelas kopi sebagai pelengkap menikmati indahnya pantai ini, tanpa piker panjang  saya akhirnya menceburkan diri dan bermain bersama anak-anak kecil yang ternyata adalah penduduk lokal, kelakar mereka dengan bahasa daerah membuat saya selalu tersenyum bahkan sesekali terbahak mendengarnya.



Pantai Pasir Putih
Sambil basah-basahan saya kembali melanjutkan perjalanan ke lokasi wisata kedua, pemandian air panas, niat semula adalah sekalian membilas badan dengan airtawar dan berendam sejenak di kolam airpanas nya sekedar melepas lelah setelah seharian berkeliling, tapi melihat lokasinya mood saya langsung hilang, hanya dua buah kolam yang sepertinya tidak terawat, dan penuh dengan orang yang sedang berendam, akhirnya untuk mengobati kekecewaan saya berjalan kaki mengarah ke pelabuhan nelayan tradisional yang ada disamping pemandian air panas tersebut, ngobrol-ngobrol sebentar dengan para nelayan saya bisa menangkap betapa beratnya beban hidup mereka namun mereka masih bisa berkelakar dan bersendau gurau satu sama lain.

Saya pun kembali bergegas untuk mamacu motor kembali ke Iboih karena saya sudah berjanji kepada teman-teman saya dari Jakarta untuk menemui mereka di nol kilometer, kembali mampir ke Bungalow sambil packing karena malam ini saya akan bergabung dengan mereka untuk menyeberang ke pulau Rubiah, tepat sesaat sebelum sunset saya tiba di titik nol kilometer, disambut oleh seekor babi hutan yang jinak,  ekspetasi saya tentang lokasi ini terlalu berlebihan ternyata, dalam bayangan saya titik nol kilometer itu adalah sebuah bangunan yang sarat dengan sejarah karena dari titik itulah penghitungan jarak luas Negara Indonesia di mulai, namun kembali saya di buat kecewa, bangunan seolah di biarkan terbengkalai, coretan-coretan para vandalisme menghiasi hampir di seluruh bangunan, sampah berserakan  dimana-mana, hal inilah yang saya tidak sukai dari tempat yang touristy (banyak di datangi turis lokal), namun rona senja yang terpancar sedikit mengobati kekecewaan itu, sejatinya ujung barat Indonesia sendiri berada di Pulau Rondo, namun supaya gampang di akses maka tugu yang di bangun pada masa pemerintaha BJ Habibi ini di letak kan di ujung barat pulau Weh ini.


Nol Kilometer
Hari sudah beranjak gelap, ada satu teman dari rombongan yang ikut bersama saya di motor sewaan, sesampainya di tengah jalan yang kanan-kirinya rimbun dengan pepohonan dan hari juga sudah mulai gelap, kuarasa dia sedang di hinggapi sedikit rasa takut, setengah berbisik saya mendengarnya berkata “bisa gak laju motornya di kencengin dikit, agak takut neh” ha ha saya pun segera menyemplak gas dan sedikit ngebut sampai daerah yang sudah mulai berpenghuni, dan sesampainya di Iboih saya langsung mengembalikan motor pinjeman ke bang Didi dan bergabung bersama teman-teman saya untuk menyeberang ke pulau Rubiah. Bang Didi sempat bertanya “ gimana kelilingnya?” aku hanya menjawab dengan satu kata “AMAZING”.

Labels: ,