Pulau Seribu, Camping yang menyenangkan

Somewhere
Mendung sedikit menggelayut di ujung cakrawala siang itu, namun tidak mengurangi keindahan pantai pasir putih di depan mata saya, meskipun tidak begitu luas hamparan pasir putihnya,  namun setidaknya sudah mengobati kerinduan saya menikmati pantai setelah capek berbaring di rumah sakit dengan segala sesuatunya yang tidak pernah saya sukai.


Tak selang beberapa lama cumi segar goreng sudah bisa saya nikmati, rasanya sungguh menawan sekali, manis dan lembut sekali daging cumi ini, mungkin karena baru saja di tangkap dari laut sehingga masih segar sekali, bahkan beberapa masih hidup sebelum masuk ke penggorengan yang sengaja biasanya saya bawa jika hendak Camping di pulau.

Panorama di depan saya

berpasir putih yang lembut

Sepi
Beberapa teman saya tirlihat sibuk mendirikan 2 tenda yang akan kami gunakan berlindung dari badai yang biasanya datang di malam hari, maklum menurut keterangan dari berbagai pihak memang cuaca sekarang belum terlalu bagus untuk melakukan aktifitas outdoor, namun karena keinginan yang begitu besar untuk bercengkrama lagi dengan putihnya pasir pantai saya pun meng- iya kan ajakan teman walaupun terkesan mendadak.

Beningnya air laut saat itu seolah memanggil-manggil saya untuk segera berlari kedalam pelukannya, untuk sekedar bermain dengan beberapa karang yang indah serta banyak sekali ikan-ikan kecil berwarna-warni di dalamnya, menggunakan kamera underwater pinjeman dari salah satu sahabat, saya mencoba mengabadikan sedikit keindahan bawah air saat itu, tapi gara-gara hal itu saya semakin kecanduan dengan fotografi bawah air.

indahnya coral

tersembunyi di bawah air

soft and hard coral
 Senja yang begitu indah pun terhampar di hadapan saya, warna airlaut menjadi keemasan karena pantulan cahaya dari sang surya yang hendak tenggelam di ufuk barat, saat-saat ini lah saya merasakan kedamaian yang begitu sempurna, tidak pernah ada yang bisa menandinginya, namun kejadian itu berlangsung begitu cepat, dan gelap pun datang, dewa malam pun segera memeluk bumi dengan kedua tangannya yang kokoh.

Narcisnya sahabat saya

saatnya pulang
Berbaring di pinggir pantai menikmtai indahnya malam serta bercengkrama dengan sahabat merupakan terapi terbaik yang saya dapatkan untuk menyembuhkan beberapa luka bathin yang akhir-akhir ini saya rasakan, namun mungkin terlalu capek tidak selang beberapa lama tubuh ini rebah di pasir pantai, mata pun segera terpejam dengan lelapnya, terbangun lagi setelah badai mulai datang di saat  sepertiga malam terakhir belum habis dan bergegas kembali ke tenda adalah pilihan yang terbaik saat itu.
Perahu jemputan

Damainya alam
Pagi pun datang, mendung masih menggelayut di hadapan saya, beberapa sahabat saya menikmatinya dengan berenang di kolam renang raksasa kami, namun saya lebih tertarik dengan rebahan di gantungan hamock kesayangan di temani beberapa alunan music dari playlist ipod jadul yang saya selalu bawa kemanapun saya pergi, keindahan masih terpancar di hadapan saya, inilah yang selalu saya rindukan dari alam Indonesia, keindahan yang begitu sempurna, yang tidak akan saya dapatkan di Negara manapun, dan saya selalu bangga telah lahir di bumi pertiwi ini. Proud to be Indonesian.

Labels: , ,