Senja di Pesisir Tangerang


jalan menuju rumah
Duduk di pematang sawah menikmati sang surya yang perlahan kembali ke peraduan nya sore ini terasa indah sekali, sejenak melupakan obat-obatan, jarum infus, serta nasehat-nasehat dokter yang selama satu minggu ini selalu memenuhi rongga-rongga sel otak saya, sementara itu di indera pendengaran saya mengalun lirih Every breath, half of my heart, just the way you are, with or without you nya Boyce Avenue, gak tahu kenapa akhir-akhir ini saya lebih suka lagu-lagu hits dunia di nyanyiin ulang oleh kelompok musik indie ini, alunan akutiknya seolah masuk ke relung jiwa saya yang terdalam.

bersiap di panen

Mauk, tidak tahu kenapa tiba-tiba saya berfikir untuk sampai ke daerah itu sore tadi, mungkin terlalu lelah berbaring di rumah sakit dengan segala ini itu nya, makanan yang meskipun kelihatan enak namun bagi saya lebih enak masakan warteg buk Mirah di dekat kos saya, serta senyuman suster yang setiap subuh membangun kan saya dengan senyumr amahnya dia selalu berkata “bapak diambil sample darahnya ya” tak selang berapa lama urat nadi saya sudah di tusuk dengan jarum yang sangat saya takuti, namun mungkin itulah yang sudah Tuhan tuliskan bagi saya, saya selalu percaya bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan bagi umatnya jika dia tidak akan sanggup, berarti Tuhan tahu saya akan sanggup menghadapi ini semua, Terima kasih Tuhan.

matahari kembar

di balik rerumputan

bersiap tenggelam

Di kejauhan kelihatan sekelompok petani sedang memikul bibit padi yang siap di tanam besok pagi, laju motor saya pun mengarah kesana, meski kondisi tubuh masih sedikit lemas dan tangan sedikit gemetar untuk memutar gas, namun keinginan ini begitu besar sehingga mengalahkan semuanya, tak selang berapa lama saya sudah terlibat obrolan seru dengan beberapa buruh tani dan pemilik sawah tersebut, “cuaca lagi bagus neh mas buat tanam padi” begitu pak Kirman menjawab pertanyaan saya, dan sore itu juga beliau memberikan saya sebungkus nasi untuk dimakan bersama-sama, lupakan dulu kata dokter harus makan yang lunak-lunak, meskipun hanya sekepal nasi putih dengan lauk orek tempe dan sekerat ikan tongkol terasa nikmat sekali karena dimakan di pematang sawah bersama-sama dan di depan terhampar keindahan bias cahaya memerah dari tenggelamnya sang surya.

bersiap pulang

malam menjelang

refleksi yang aduhai

warna-warni alamku

Malam pun hinggap setelah sang surya tenggelam dan saya pun bergegas pamit kepada pak Kirman dan beberapa buruh tani yang ada disitu, mereka pun bergegas untuk segera pulang kerumah mereka masing-masing, pengalaman kecil sore ini seolah membangkitkan kembali semangat saya yang akhir-akhir ini tidak tahu kenapa selalu jatuh, Terima kasih Tuhan akan nikmat-Mu sore ini. Amin

Labels: ,