Secuil keElokan bumi Cendrawasih


Keindahan Manokwari dari jendela pesawat
Petualangan kali ini sebenarnya tidaklah terencana sebelumnya, salah satu sahabat saya yang baru pulang dari daratan Papua berusaha mengompori saya untuk mengunjungi bumi cendrawasih itu, dan dia berhasil setelah beberapa foto dan video dia tunjukkan kepada saya, akhirnya sayapun berniat untuk mengunjungi salah satu pulau besar di ujung timur kepulauan Indonesia terebut, kebetulan bebarengan ada keperluan ke bandara Sentani.

Tepat pukul 23.30 WIB pesawat yang saya tumpangi pun lepas landas dari bandara Sukarno Hatta Tangerang, rute ke bandara Sentani kali ini akan melewati 2 kali persinggahan, yaitu Makasar dan Manokwari, pemadangan kota Manokwari ini sangat indah di lihat dari jendela pesawat, pantai-pantainya, laguna nya, suatu saat saya harus menjelajahi keindahan itu.

Manokwari dari jendela pesawat
Tepat pukul 08.00 WIT burung besi yang saya tumpangi hinggap dengan manis di bandara Sentani setelah mengelilingi kawasan uadara diatas danau Sentani yang sungguh indah dan sulit di definisikan dengan kata-kata itu, di kelilingi oleh bukit-bukit kecil dengan air yang tenang sekali, seolah menyimpan misteri yang layak untuk di sibak, ONOMI FOKHA, tulisan itulah yang saya baca di atas pintu masuk terminal kedatangan bandara ini, rasa ingin tahu saya pun mulai usil, alhasil bertanya ke salah satu petugas bandara disana, dan dari bertanya itulah saya mendapatkan tumpangan tempat tinggal selama di Papua, oh iya arti dari tulisan itu adalah Selamat datang dalam bahasa Papua.

Danau Sentani yang indah

Selamat datang di Papua
Dari obrolan singkat dengan orang asing itu akhirnya saya mendapatkan tumpangan selama di Papua, Terima kasih Tuhan, Janji-Mu selalu kau tepati. Setelah melepaskan gendongan tas keril dan berusaha mengenali keadaan kamar kecil itu, ternyata sahabat baru saya itu tinggal berdua di kamar yang sempit itu dengan tempat tidur bertingkat, untungnya ada kasur busa cadangan, sehingga bisa saya pakai, ternyata itu adalah mess yang di peruntuk kan bagi karyawan perhubungan udara yang bertugas disana, karena bandara Sentani ini adalah salah satu bandara yang di kelola langsung oleh perhubungan udara, jadi tidak ada campur tangan dari PT.Angkasa Pura, yang mana hampir mengelola semua bandara besar di Indonesia.

Deretan gunug Cyclops seolah memanggil-manggil saya untuk segera di jelajahi, langitnya yang biru dengan sedikit kabut di puncak nya seolah meyimpan beribu misteri untuk segera di ungkap, di salah satu sisi puncak juga terlihat bangunan Mc.Arthur yang sekarang di jadikan museum, dahulu katanya ada bangkai pesawat perang dunia di atas gunung itu, untuk menuju kesana kita harus melewati komplek militer, jadi bagi siapapun harus menggunakan pakaian sopan dan melapor di pos gerbang sebagai tamu yang hendak ke lokasi museum tersebut.

Suasana lengang kota Sentani

Jalanan yang menghubungkan Sentani dan Jayapura
Namun saran dari sabahat baru saya untuk mengunjungi lokasi tersebut enaknya pagi hari, jadi bisa memandang dengan puas ke segala penjuru danau sentani yang setiap sisinya menyimpan keindahan untuk di telusuri, Setelah semua urusan dengan pihak bandara selesai, menikmati kelapa muda dari pinggir jalan menuju Jayapura layak di coba, HIGHLAND nama lokasinya, sensasi jurang di bawah kita dan sebuah teluk serta bukit-bukitnya yang mempesona seolah membuat betah bagi siapapun yang menikmatinya.

View from HighLand dengan bangku-bangku untuk menikmati kelapa muda

Indahnya Highland
Tanpa terasa hari sudah mulai gelap sehingga saya pun bergegas pulang menuju kota Sentani, karena jalanan yang harus saya lewati pasti akan terasa gelap gulita, dan benar tepat pukul 19:30 saya sudah berada di rumah makan Arlye dengan menu utamanya adalah ikan mujahir bakar dan goreng, saya memilih yang bakar saja, dan benar kata orang-orang yang sudah pernah ke Sentani, menu mujahir bakar rumah makan ini sungguh menggoda, tekstur daging ikan nya yang lembut di balut dengan rempah-rampah khas, dan memang ikan yang di tangkap dari danau sentani ini memiliki kelebihan rasa tersendiri jika dibandingkan dengan ikan-ikan mujahir yang biasa saya makan di tempat lain, rasa lumpur yang biasanya melekat di rasa  ikan itu tidak terasa, di tambah lagi dengan sambel nya yang aduhai rasanya ingin nambah dan nambah lagi, namun perut rasanya sudah tidak kompak, dalam banak saya pun berikrar bahwa saya harus mencoba yang versi gorengnya besok.
Mujaher bakar khas danau Sentani di rumah makan Arlye
Malam di kota sentani tidaklah ramai, cenderung sepi malah, ada satu tempat dimana biasa para pemuda pemudi berkumpul untuk sekedar nongkrong maupun bertemu satu sama lain, tempat ini menjual bermacam-macam jenis barang, mulai dari sirih pinang samapi compact disk (CD) bajakan film dan MP3 lengkap berjajar di lokasi yang tidak jauh dari rumah makan Arlye ini, beristirahat adalah pilihan tepat buat saya malam itu, karena malam sebelumnya hampir seluruh malam saya tidak bisa memejamkan mata.
 
Keesokan harinya saya berusaha untuk bangun pagi dan manikmati kabut yang menutupi pegunungan Cyclops, jadi hampir keseluruhan pegunungan tertutup kabut, memang saya datang di musim yang tidak bersahabat sehingga akan susah untuk mendapatkan foto dengan langit biru dan awan berarak seperti yang saya jepret di daerah-derah lain, namun saya menikmati perjalanan ini, bertemu dengan orang-orang baru, pengalaman-pengalaman baru. Hari ini saya akan mengunjungi beberapa pantai di kawasan Jayapura, namun sebelumnya akan mampir ke sisi-sisi pinggir danau Sentani untuk menikmati keindahan danau yang selalu indah di dikmati dari segala sudut danau tersebut, menikmati secangkir kopi hitam di rumah makan YOGWA di pinggir danau saya sempatkan karena menurut referensi buku primbon saya LONELY PLANET restoran ini layak untuk di coba.
Yogwa Restoran di pinggir danau Sentani

Terletak di pinggir danau Sentani, tersedia juga penginapan di lokasi ini
Sebenarnya tujuan utama perjalanan hari ini adalah Pantai Base G yang terletak 10km ke arah barat dari kota Jayapura, Pantainya membentang panjang dan bersih serta berpasir putih, di beberapa bagian ada pondok-pondok yang disewakan oleh masyarakat sekitar, dari pantai ini kita bisa menikmati samudra pasifik yang merupakan pintu masuk kapal-kapal dari arah barat, banyak aktifitas yang bisa di lakukan di pantai ini seperti berenang, mengelilingi pantai dengan menyewa perahu ataupun hanya sekedar tidur-tiduran di pondokan yang nyaman di bawah pohon kelapa di temani oleh semilir angin pantai dan dentingan music yang mengalun dari player pribadi kita serta bacaan, suasana seperti itu yang selalu di rindukan oleh insan-insan yang tiap hari sibuk dengan hiruk pikuk kota besar seperti Jakarta, jadi manjakanlan diri anda di pantai yang elok ini.

Pantai Base G yang elok

Langit biru membentang sebelum hujan datang

Leyeh-leyeh menikmati keindahan pantai dari pondok-pondok yang disewakan
Cuaca cepat sekali berganti, dari langit biru yang indah sontak berubah ke mendung dan badai dengan angin sangat kencang, sehingga memicu ombak yang lumayan besar mengempas pantai disertai oleh gerimis yang mulai turun, segera kuambil motor pinjeman di ujung jalan dan sesegera mungkin meninggalkan lokasi tersbut untuk kembali ke kota Jayapura, setelah mampir sejenak untuk mengisi perut dengan mia ayam yang pada mangkal di pinggir pantai yang terdapat di tengah kota Jayapura ini, perjalanan pun di lanjutkan kembali, saya selalu kepingin untuk menikmati saat-saat setelah matahari tenggelam dari atas bukit yang terdapat salib raksasa serta tulisan Jayapura City itu, langit yang membiru dihiasi oleh bukit-bukit kota yang mulai terang dengan kerlap kerlip lampu kotanya serta refleksi lampu-lampu kota di pinggir laut kota tersebut, sungguh keindahan mahakarya dari sang Kuasa buat umat-Nya. 

Kota Jayapura dari atas bukit JayapuraCity

Kota Jayapura sesaat setelah matahari terbenam dari puncak bukit Jayapuracity
Tepat pukul 19:30 WIT saya pun meninggalkan puncak bukit indah itu, untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, karena rute menuju puncak bukit ini lumayan curam dan jika malam hari akan sangat gelap sekali, tepat pukul 21:30 saya sudah sampai kembali di rumah makan Arlye untuk menikmati seekor mujahir goreng, dan benar rasanya tidak kalah nikmat dengan versi bakarnya, di goreng garing terasa renyah, namun tekstur lembut dagingnya masih terasa, dan memilih untuk beristirahat cepat menjadi pilihan saya kembali malam itu.

Mujaher goreng nan nikmat
Pagi-pagi mengguyur badan dengan air sumur di Sentani terasa menyejukan sekali, mungkin karena masih berada di lokasi dekat dengan pegunungan sehingga cuaca disini masih terasa dingin, setelah bersiap untuk ke rumah bang Ucok, dia adalah sahabat baru saja juga seorang pria baik hati yang mau meminjamkam motor nya kepada saya selama saya di papua. Menurut saran bang Ucok saya pun mengunjungi Mc.Arthur di pagi hari karena petualangan hari ini akan berlanjut ke Harlen, salah satu destinasi baru di papua, hanya sebuah pantai kecil namun di lihat dari foto-foto yang saya lihat di blog teman-teman saya begitu indah dan damai, makanya saya tergerak untuk mengunjungi pantai ini. Setelah mengisi daftar buku tamu dan melapor di bagian gerbang komplek militer saya pun di ijinkan untuk masuk ke komplek militer tersebut, karena akses jalan satu-satunya untuk menuju komplek museum Mc.Arthur adalah dari komplek militer tersebut, dan Tuhan berkehendak lain, sampai disana terlalu pagi sehingga gerbang museum belum terbuka, namun saya tetap mengabadikan momen berada di gerbang museum tersebut, lumayan lah buat cerita anak-cucu di kemudian hari, perjalanan ke Harlen banyak sekali tantangan yang harus saya hadapi, karena saya datang tidak di musim yang pas maka hujan membayangi perjalanan ini.

jalanan menuju museum

Pintunya masih tertutup
Tepat di tengah perjalanan hujan deras pun datang, terlihat mesjid di depan dan sayapun bermaksud berteduh disana, karena jarang sekali terlihat rumah sepanjang jalan yang saya lewati, namun kembali saya harus gigit jari, sang Mesjid berpagar dan terkunci rapat jadi saya pun harus menembus hujan lebat itu, untungnya semua sudah saya masuk kan ke dalam tas yang di lengkapi dengan RainCover, sehingga semua printilan elektronik saya aman dari serangan hujan, namun tetap saya harus mencari tempat berteduh, diantara kabut saya mendengar lagu dendang yospan dengan kencang, saya pun berusaha mencari arah suara itu dan benar ketika kabut tersibak ada sebuah bengkel yang mungkin bisa saya tumpangi berteduh, setelah meminta ijin untuk berteduh saya pun di persilahkan duduk di sebuah sofa butut yang ada di dalam bengkel tersebut, dan dari obrolan singkat ternyata mereka berasal dari tanah jawa, Owalahhhh ternyata sedulur ha ha, begitulah yang saya rasakan setiap ketemu orang jawa di daerah rantau luar jawa, saya pun merasa nyaman ngobrol dengan mereka, dan secangkir kopi hangat dan singkong rebus pun terhidang di depan saya, Cihuy dah..inilah esensi dari perjalanan yang selalu saya cari.

Jalanan sepi menuju Harlen
Saya pun tidak bisa berlama-lama berada di bengkel tersebut, sesaat setelah hujan reda saya pun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke Depapre, Depapre adalah pelabuhan rakyat dimana kita bisa menyewa perahu nelayan untuk menyeberang ke pantai Harlen, di kejauhan terlihat pantai Amai dengan jejeran pohon kelapanya, benak saya pun langsung bernyanyi rayuan pulau kelapa ha ha, namun lagi-lagi tantangan pun muncul, ombak yang besar memang sedang terjadi hampir di semua tempat, sehingga kapal nelayan yang saya naiki sulit sekali untuk merapat di pantai, dengan segala usaha akhirnya saya bergegas melompat ke pasir sesaat setelah kapal berhasil merapat, namun kejadian itu hanya berlangsung sesaat dan perahu itu harus kembali ketengah untuk menghindari ombak yang mulai menggila.

Pelabuhan rakyat di Depapre

Pantai Amai dari kejauhan
Pantai Harlen sendiri tidak lah sebesar pantai Base G, namun disini tenang sekali, hanya ada beberapa pondokan yang disewakan, dan sayapun menyewa salah satu pondokan yang di kelola oleh mama Elisabeth, seorang perempuan paruh baya dengan kulit gelap dan rambut ikal nya khas perempuan Papua, namun setelah ngobrol sebentar dengan beliau saya pun kembali tersenyum karena sang mama adalah perempuan asli Surabaya, kembali saya berkata dalam hati..Owalahhh Jowo tho ha ha. Kata mama saya datang di waktu yang kurang tepat karena badai ini baru berlangsung dua hari ini, dan sang mama pun bercerita bagaimana dia bisa sampai di sebuah desa kecil sepertu Depapre ini, dan lucunya lagi beliau takut naik perahu, jadi jika mau ke kota dan mau tidak mau harus menggunakan perahu dia selalu memejamkan mata sambil berdoa, dan mata itu akan membuka setelah perahu bersandar di pelabuhan Depapre, saya selalu tersenyum ketika mengingat cerita lucu dari mama Papua Suroboyo itu he he, dan dikarenakan memang kondisi pantai sedang bergelombang sehingga air laut naik sampai ke pantai, setelah meletak kan tas gendongan, saya pun mencari pohon yang bisa saya tambatkan tali hammock kesayangan saya, dan ingin sekali rasanya tiduran di dalamnya sambil di buai oleh angin laut yang menghembus.

Pantai Harlen dari atas perahu

Ombak pun datang di Harlen

salah satu sudut pantai Harlen

Ombak yang lumayan besar naik ke pantai
Disamping pantai itu ada sebuah danau airtawar kecil, jejeran pohon di pinggir danau itu membuat refleksi  yang sangat indah, dan setelah puas bermain air asin di pantai para pengunjung biasanya berendam sebentar di danau kecil itu, hanya ada satu rombongan lain di pantai waktu itu, keluarga dari Prancis sepertinya, mereka adalah rombongan keluarga pilot AMA, sebuah maskapai yang melayani rute-rute sulit di Papua.
Danau Air tawar di samping pantai

Dermaga kecil di danau air tawar
Sore pun menjelang dan perahu yang berjanji akan menjemput saya pun sudah datang, saya pun berpaimitan ke mama untuk kembali kedaratan Depapre dan melanjutkan perjalanan pulang ke Sentani, lambaian tangan mama dari pantai harlen seolah mengiringi saya dengan doa nya, dan saya pun kembali ke pelabuhan rakyat di Depapre, namun masalah timbul pas saya di tengah laut dengan perahu bercadik kecil ini, bahan bakar habis kata si Papa pemilik perahu, dan kami pun harus merapat kedesa terdekat untuk membeli bahan bakar guna melanjutkan perjalanan, untungnya ada perahu lain yang lewat dan membantu menarik perahu kemi ke desa nelayan itu, sampai di Depapre saya pun berpamitan dengan keluarga papa Markus sang pemilik perahu untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke kota Sentani kembali, di sepanjang jalan saya menjumpai Babi berjalan melenggang bebas di jalanan, dan menurut sahabat baru saya berhati-hatilah jika berkendara di jalanan Papua, karena jika menabrak Babi biaya ganti ruginya bisa untuk liburan ke Eropa katanya ha ha.

harus singgah ke desa nelayan terdekat karena kehabisan bahan bakar

Desa nelayan terdekat
Malam terakhir di Sentani saya habiskan untuk berjalan-jalan mengelilingi kota, mencoba menikmati sirih Pinang yang di jajakan hampir di seluruh sudut kota kecil ini, Rasanya aneh dan membuat tenggorokan saya terbakar rasanya, memang menikmati sirih pinang adalah kebiasaan masyarakat Papua, sehingga jarang sekali melihat saudara-saudara kita dari papua dengan gigi yang jelek, rata-rata mereka memiliki deretan gigi yang bagus dan kuat, hal ini dikarenakan sirih pinang yang mereka konsumsi tiap hari baik buat kesehatan gigi, namun kadang menimbulkan masalah tersendiri ketika mereka meludah tidak pada tempatnya, karena noda dari sirih pinang ini akan sangat sulit sekali hilang jika menempel di suatu media, maka tak jarang saya menemukan tulisan “Dilarang makan pinang” di sudut tempat-tempat umum seperti bandara.
Hanya saya jumpai di Papua
dan tepat pukul 08:00 WIT saya pun bertolak untuk meninggalkan kota yang sudah menorekan kenangan di hati saya, kembali terlihat danau Sentani yang tenang seolah menyimpan sejuta misteri untuk di jelajahi dengan sisi-sisi indahnya. Selamat tinggal sahabat-sahabat baruku, sungguh perjalanan yang luar biasa, dalam hati saya, Ahkirnya saya menginjak kan kaki di bumi Cendrawasih juga. Terima kasih Tuhan, ITU SUDAH.

Labels: ,