Tana Toraja, Keagungan budaya yang tetap lestari

Atap-atap yang menyembul
Ujung-ujung atap tongkonan menyembul diantara kabut tebal pagi itu di Tana Toraja, seakan menyambut para tamu yang mengunjunginya..sungguh pemandangan luar biasa indah. Tepukan dari teman saya membuyarkan lamunan saya tentang Toraja pagi itu.

Setelah menyantap sarapan pagi di sebuah hotel termegah di Tana Toraja ini saya pun segera bergegas menuju mobil yang akan membawa saya berkeliling Toraja ini. Pak Udin dan Pak Emir sudah menunggu di loby hotel, mereka lah yang akan mengantarkan saya berkeliling Tana Toraja ini. Langit biru menyambut kami pagi itu. Sungguh cuaca yang sangat bersahabat sekali. Target utama perjalanan ini adalah upacara Rambu Tuka, yaitu upacara pemakaman masyarakat Toraja. Biasanya dengan prosesi penyembelihan kerbau, tapi uniknya adalah kerbau-kerbau tyersebut tidak di sembelih seperti layaknya tapi di tebas lehernya. Di toraja ini masyarakatnya mempunyai adat yang unik, yang mana mayat tidak langsung di kuburkan tapi di simpan dulu di dalam Tongkonan (rumah adat Toraja) sampai keluarganya mempunyai biaya untuk menyelenggarakan prosesi Rambu Tuka tersebut, dan itu memakan biaya yang tidak sedikit, jadi terkadang di simpulkan bahwa Orang toraja itu bekerja keras untuk mati.

Hotel paling nyaman di area Toraja

 “Itu ada rombongan berbaju hitam-hitam didepan” kata Pak emir yang membuyarkan kembali lamunan saya akan Tana Toraja yang indah ini. Menurut pak Emir apabila kita menemukan rombongan berbaju serba hitam berarti tidak jauh dari situ sedang di gelar prosesi Rambu Tuka, dan setelah bertanya ke rombongan tersebut ternyata benar sedang di gelar prosesi pemakaman di sebuah halaman tongkonan, setelah melihat onggokan-onggokan daging saya menghela nafas panjang…benar ternyata disitu teronggok tujuh kepala kerbau..sungguh prosesi yang mahal…dan itu akan lebih mahal jika yang meninggal adalah kalangan bangsawan.

Prosesi penguburan mayat
Setelah puas dengan menikmati prosesi adat rambu tuka perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan-jalan kecil beraspal, rupanya mobil mengarah ke Suaya, baru saja memasuki komplek pemakaman Suaya, dari arah belakang saya terdengar suara teriak-teriakan ramai sekali, pak Emir langsung memberi isyarat kepada saya bahwa itu adalah prosesi pengusungan Mayat, sayapun bergegas berlari menghampiri kerumunan tersbut, rupanya menurut keterangan pak Emir jika mereka sedang mengusung mayat harus bernyanyi keras-keras dimaksudkan agar roh jahat tidak memasuki raga si mayat, dan lagunya menggelitik alam sadar saya, yaitu lagu “Tak gendong” nya Alm Mbah Surip. Setelah mereka menjauh untuk menuju pekuburan batu saya pun melanjutkan menikmati komplek pemakaman Suaya tersebut. Suaya adalah komplek kubur batu kerjaan muslim di Toraja, mereka dikenal dengan bangsawan dari Sangalla, disini bisa ditemukan Liang Batu yaitu kuburan yang di pahat di dinding tebing di ketinggian, namun sayang kondisinya sedikit tidak terawat, Perjalanan dilanjutkan mengunjungi komplek pekuburan bayi di sebuah Phon, jadi bayi-bayi uang meninggal mayatnya di masukkan kedalam pohon yang sudah di lubangi terlebih dahulu, dan lubang itu akan menutup sendiri seiring tumbuhnya pohon tersebut, dari dalam mobil terdengan sayup-sayup suara musik dari bambu, ternyata sedang ada pertujukan kecil dari anak-anak Toraja kepada para wisatawan asing yang berkunjung.

Sawah-sawahnya masih indah
Setalah puas istirahat di sebuah rumah makan di pinggir sawah yang indah, dengan padi menguning siap di panen dan awan berarak-arak serta pemandangang gunung-gunung batunya di kejauhan, saya pun segera bergegas bersiap untuk mengunjungi Kete’ Kesu yang merupakan tujuan terakhir trip hari ini, memasuki komplek kete’kesu sudah sore hari, rumah-rumah tongkonan berbaris dan berhadapan dengan tongkonan kecil sebagi lumbung padi, sungguh pemadangan yang sulit di gambarkan, di belakang komplek tongkonan tersebut terdapat sebuah komplek kubur batu, seperti kebanyakan komplek kubur batu yang lain banyak tengkorak berserakan, ini menandakan bahwa mayat-mayat disini tidak dikuburkan tetapi hanya diletakkan saja., dan perjalan mengelilingi Tana Toraja hari ini harus berakhir, tetapi jangan lupa untuk mampir membeli Oleh-oleh di pasar Rante pao, banyak sekali jenis oleh-oleh dari toraja ini, yang terkenal adalah Kopi Toraja nya.

Perjalanan dari Toraja bisa ditempuh dengan pesawat direct Flight dari Jakarta ke Makasar, dilanjutkan lagi dengan bus menuju Toraja, perjalan dari makasar ke Tana Toraja memakan waktu kurang lebih 8 jam, tapi pemandangan yang kita lewati sungguh indah Luar biasa, pesisir pantai pare-pare, hingga memasuki komplek pegunungan batu setelah sampai di kabupaten Enrekang, beristirahatlah sejenak menikmati secangkir kopi Toraja sambil menikmati pemandangan alam Gunung Nona., Sungguh pengalaman yang tidak akan saya Lupakan mengunjungi Tana Toraja ini.

Selamat berlibur.

Labels: