Tidung, destinasi tetirah baru di wilayah Jakarta

Jembatan pulau Tidung
“Maaf ya Lang aku gak bisa ikut ke Tidung”, begitulah kabar terakhir yang saya dapat dari teman-teman yang tadinya mau ke pulau barengan, dari hampir 10 orang yang mau pergi semuanya pada batal disaat-saat terakhir, tapi tekad untuk pergi ke pulau itu sangat besar.

Dan akhirnya hanya bertiga kami berangkat juga ke pulau tidung setelah sedikit khawatir salah satu dari teman saya membatalkan juga di detik-detik terakhir karena di telpon maupun di sms juga gak ada jawaban, akhirnya di detik-detik terakhir sebelum kapal berangkat muncullah dia di pelabuhan tempat kami akan menumpang ojek kapal ke pulau Tidung.

Untuk menuju pulau tidung bisa ditempuh dengan 2 rute, Rute pertama dari pelabuhan Muara Angke, dari pelabuhan ini Ojek kapal akan berangkat pukul 07.00 dan akan memakan waktu tempuh selama 3 jam untuk mencapai pulau Tidung, sedangkan rute kedua adalah dari pelabuhan Rawa Saban Tangerang, berangkat jam 12.00 (tergantung cuaca juga terkadnag jam 11 sudah berangkat) dan akan menempuh 2 jam perjalanan. Hanya ada satu kali pelayaran menuju pulau Tidung, baik yang dari Tangerang maupun yang dari Muara Angke, dan untuk rute pulangnya hanya ada satu kali pelayaran dan waktu yang sama, yaitu jam 7.30 WIB pagi.
salah satu sisi pulau Tidung yang masih asri
Pulau Tidung sendiri adalah sebuah desa yang terdiri dari 2 pulau, yaitu Tidung Besar (yang berpenduduk) dan Tidung Kecil, dan diantara kedua pulau itu di hubungkan oleh sebuah jembatan dari kayu sepanjang hampir 1km terbuat dari kayu kelapa, sungguh jembatan yang sangat indah untuk di ekplore jika kita adalah penghobi fotografi. Pulau tidung besar sendiri berpenduduk sekitar 4000 jiwa dengan luas 106,9 Ha dan mayoritas populasi penduduknya adalah perempuan menurut keterangan dari bapak Hanafi seorang Polisi di pulau tidung besar,
Rayuan pulau kelapa
Pulau Tidung kecil sendiri bukanlah sebuah pulau kecil, tapi lumayan besar namun dipulau ini tidak dihuni penduduk, hanya saja saya menemukan kantor pembibitan Mangrove dan satu lagi pondokan abah, seorang lelaki tua yang berkebun di dekat kuburan tua disana, di Nisan kuburan itu tertera nama Pangerang Hitam, seorang Ratu pelarian dari Baduy menurut keterangan Abah, setelah numpang sholat di musola dekat pondokan Abah kami pun segera memulai akifitas snorkeling kami di pantai belakang pondokan abah. Sungguh spot snorkeling yang sangat bagus namun karena saya datang di saat musim ombak jadinya agak besar ombak membanting saya.
seorang nelayan melintas di bawah jembatan pulau Tidung
Untuk masalah penginapan, banyak sekali tersedia penginapan dipulau ini, dan rata-rata adalah homestay dengan harga berkisar 100 ribu sampai dengan 300ribu, Namun pilihan camping saya kemaren adalah pilihan yang kurang tepat karena sejak matahari tenggelam hingga pagi hari menjelang hujan badai disertai petir mengiringi suasana camping saya, hingga saya dan teman-teman harus memindahkan tenda yang hampir terbang dibawa angin ke sebuah teras bekas took souvenir di dekat jembatan, namun hujan tetap terus mengguyur bumi, takut terjadi apa-apa karena cuaca buruk saya pun memutuskan berjaga di luar tenda, sementara 2 temen perempuan saya istirahat didalam tenda, Namun pengalaman ini begitu sangat berharga dan seru bagi kami, disaat petir dan angin begitu kencangnya hanya Dzikir menyebut Nama Allah yang bisa saya lakukan, Namun Tuhan masih sayang kepada kami. Terima kasih Tuhan atas nikmat-Mu.

Labels: