Ambon, Kitorang Basudara

Patung pahlawan nasional Christina Marta
“Maaf tiket bapak sudah terlambat”, kata-kata itu yang mambuatku terpana sesaat hingga akhirnya hanya bisa tertawa. Di tiket tertera tanggal 16 pukul 00:50 nah saya baru datang ke bandara untuk check in tanggal 16 pukul 23:00, perkiraan saya malam itu masih tanggal 16 ternyata sudah tanggal 17. Bayangan teluk ambon yang damai saat itu juga sirna dan dalam hati berkata “mungkin belum saatnya saya untuk mengunjungi Ambon".

Setelah berusaha sekuat tenaga tiket oneway ke Ambon akhirnya bisa saya dapatkan, betapa senangnya hati saat itu, bayangan teluk Ambon yang indah dan damai kembali menyeruak dalam alam fikiran saya, duduk menikmati hembusan angin sambil memandangi lautan luas di atas batu karang pintu kota merupakan agenda yang sudah saya tunggu-tunggu selama ini. Tepat pukul 00:50 pesawat yang akan membawa saya ke bumi Maluku ini lepas landas dari bandara Sukarno Hatta Tangerang, sang pramugari sibuk mengumumkan bahwa penerbangan akan ditempuh dalam waktu 3jam 20 menit serta memperagakan cara penyelamatan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, mungkin saya sudah hafal dengan apa yang akan di lakukan dan yang akan di katakan oleh si pramugari, tapi sesuai prosedur internasional mereka harus tetep malakukan itu . sementara itu angan saya sudah terbang jauh, ke sebuah teluk yang indah di pulau ambon.

Tepat pukul 06:10 WIT pesawat mendarat dengan sempurna, perjalan dari bandara ke kota Ambon masih harus di tempuh selama 1 jam dengan menggunakan kendaraan. Banyak alternatif angkutan untuk sampai ke kota Ambon, tapi yang paling praktis adalah dengan taksi resmi yang ada di bandara, jika dengan budget terbatas bisa naek ojek ke pelabuhan Galala tempat penyeberangan ferry yang melayani rute Galala ke pangkalan angkatan laut Halong, perjalanan dengan ferry hanya di tempuh dalam waktu kurang dari 15 menit, dari Halong bisa melanjutkan dengan angkot ke kota.

View dari atas Pintu Kota
Banyak sekali objek wisata yang bisa di kunjungin di Ambon ini, kotanya tidak sebesar yang ada di bayangan saya, dan karena pusat kotanya berbatasan dengan bukit dan pantai maka dari segala penjuru kita bisa memandang pantai teluk Ambon yang damai, pusat kota berada di sebuah taman berdekatan dengan lapangan merdeka dan kantor gubernur, namun jika malam hari pantai Losari yang berada di batu merah layak di jadikan tujuan untuk menikmati malam di teluk Ambon, suasana di pantai ini mirip dengan pantai Losari yang berada di Makasar, semua pedagang café-café yang berada di sepanjang pantai kebanyakan adalah suku Bugis pendatang dari Sulawesi.

yang terlihat dari atas Hukurila
Menikmati Ambon rasanya kurang lengkap tanpa mengunungi beberapa pantai pasir putihnya yang indah, pantai Natsepa yang terkenal dengan rujaknya adalah salah satu pantai pasir putih yang letaknya tidak jauh dari kota Ambon, rujak buah adalah menu andalan pantai ini, dengan bumbunya yang khas dan belum pernah saya rasakan di daerah lain, rasanya sangat nikmat sambil memandang pantai pasir putih yang berada di teluk Baguala ini. Puas menikmati pantai ini perjalan dilanjutkan ke arah Tulehu, tepatnya di desa Waai yang terkenal dengan kolam moreanya, memasuki area kolam yang ternyata adalah pemandian umum itu sangat ramai sekali, mungkin karena hari jumat sehingga masyarakat sekitar memanfaatkan kolam tersebut sebagai tempat pemandian umum untuk membersihkan diri sebelum mereka beribadah sholat jumat. Kolam morea (belut raksasa khas Maluku) ini dipisahkan oleh sebuah jembatan, yang bagian atas adalah tempat pemandian para pria dan anak-anak, sedangkan yang bagian bawah diperuntukkan bagi kaum wanita untuk mandi dan mencuci pakaian. Dengan bantuan snorkel dan google saya memberanikan diri mengintip morea di sela-sela gua bawah tembok pembatas kolam tersebut, ternyata tidak hanya morea yang saya dapati, namun berbagai jenis ikan juga ada disana.

kolam morea yang digunakan sebagai tempat pemandian umum bagi warga
Morea yang merupakan belut raksasa air tawar adalah daya tarik kolam tersebut, lingkar badannya bisa mencapai 20cm dengan panjang satu meter lebih dan jika usianya sudah puluhan tahun panjangnya bias mencapai 4 meter. Namun sayangnya karena perang saudara yang terjadi tahun 2000 jumlah morea berkurang banyak sekali, hal ini dikarenakan kali adat waiselaka yang tempat morea di bom sehingga banyak morea yang mati. Morea adalah hewan yang dikeramatkan sehingga dilarang membunuh binatang ini. Untuk memanggil morea ini keluar dari gua-gua kecil di dalam kolam dibutuhkan bantuan dari sang pawiang, cukup dengan menjentikkan jari dan sebuah telur mentah yang di buka para morea berkumpul mendekati sang pawang dan kita bebas bermain bersama binatang langka ini.

Selain kolam morea tersebut masih ada beberapa objek wisata di Tulehu, Tulehu sendiri adalah sebuah “Negeri” yang mayoritas penduduknya adalah muslim, letaknya sekitar 25km dari pusat kota Ambon, pelabuhan penyeberangan ke pulau Haruku dan pulau Seram serta pulau-pulau di Maluku juga berada di Tulehu ini, selain itu "Negeri" ini juga menyimpan objek wisata pemandian airpanas Hatuasa dan Talanghaha, banyak yang sudah membuktikan khasiat dari teraphy dengan mandi di pemadian airpanas ini, puas menikmati pamandian airpanas perjalan mengarah ke pantai Hanimua yang terletak di desa Liang, sebuah bentangan pantai dengan pasir putih yang sangat indah, waktu yang tepat untuk mengunjungi pantai ini adalah di pagi hari disaat sinar matahari menyinari pantai yang indah ini. Berenang-renang di pantai yang airnya tenang ini juga merupakan agenda yang tidak boleh dilupakan jika kita mengunjungi pantai Hanimua ini, namun masyarakat sekitar lebih mengenal pantai ini dengan nama pantai Liang.

Tawa riang sahabat-sahabat kecil dari Tulehu
Perjalan hari selanjutnya kali ini ke arah pantai-pantai di pesisir teluk Baguala, mulai dengan mengunjungi patung Christina Marta Tiahahu, dari sini kita bisa melihat luas teluk Ambon yang indah, karena letaknya di atas ketinggian, pantai pintu kota adalah tujuan selanjutnya, sebuah karang bolong seperti pintu, memandangi laut Banda dari karang diatas pintu kota ini merupakan sensasi yang luar biasa indah, tenang dan tenteram dengan sesekali mendengar deburan ombak di bawah yang menghempas tebing karang, rasanya betah berlama-lama duduk di atas tebing ini hingga akhirnya hujan gerimis datang dan mengharuskan saya untuk berteduh. Tujuan selanjutnya adalah menyisir pantai-pantai di sepanjang sisi timur pulau ambon ini, ada pantai Namalatu terus berlanjut ke Hukurila sebuah dataran tinggi dan jika kita berada disana kita berada di tengah-tengah sehingga sebelah kanan kita adalah teluk Ambon dan sebelah kiri kita adalah teluk Baguala, sunggu pemandangan yang luar biasa indah, tanpa terasa saya sudah sampai di paso dan harus kembali ke kota ambon.

Labels: