Karimunjawa, Pesona keindahan pulau yang tersamar

Dermaga karimunjawa
Bis yang membawa saya dari Jakarta pun berangkat disaat malam mulai menjelang, dan harus menempuh waktu 12jam perjalanan barulah akan sampai di kota Jepara, daratan terakhir di pulau Jawa yang akan saya pijak sebelum menyeberangi lautan selama enam jam menuju kepulauan Karimunjawa, dan tepat pukul 06.00 pagi kami sampai di pelabuhan penumpang Kartini di samping objek wisata Taman Kartini Jepara.

Mendengar nama Karimunjawa, sontak fikiran saya melayang kembali ke masa kecil yang mana pada saat itu setiap malam menjelag tidur kakek sering bercerita tentang kisah keteladanan Walisongo, Walisongo adalah para penyebar agama Islam di pulau Jawa, salah satunya adalah sunan Kudus (Jafar Shodiq). Seingat saya nama Karimunjawa sendiri berasal dari kisah keluarga ini, dan hingga saat ini cerita itulah yang beredar dimasyarakat dan sudah di yakini. Karena kebetulan saya menghabiskan waktu kecil tidak jauh di daerah sunan Kudus menyebarkan ajaran Islamnya, jadi kakek tahu benar cerita ini. 
Sunset dari pelabuhan rakyat pulau Karimun Jawa
Pada masa itu hampir seluruh wilayah Jawa masih menganut ajaran Hindu dan Budha, nah sunan kudus ini memiliki cara yang diangapnya jitu untuk meraih hati masyarakat jawa untuk memeluk Islam, yakni melalui metode dakwah dengan gamelan (alat musik tradisional jawa) dan Gendhing (lagu-lagu jawa), dan cara tersebut ternyata jitu, banyak gending-gending yang di ciptakan olah Jafar Sodiq di terima masyarakat, dan di setiap gending yang di ciptakan nya di sisipkan ajaran Islam, sehingga Islam berkembang di daerah kudus dan sekitaranya, Namun metode seperti ini di tentang sendiri oleh putra sunan Kudus yaitu Amir Khasan, dan disaat sang ayah sedang menyebarkan ajaran Islam di daerah yang memakan waktu cukup lama, padepokan di titipkan ke anaknya, nah disinilah Amir Khasan menerapkan ajaran yang secara langsung mengenai Islam, tidak memalui metode gamelan dan gendhing-gendhing Jawa seperti sang ayah, kerap terjadi benturan disana-sini dengan masyarakat dan bahkan dengan murid-muridnya sendiri di padepokan.
Setelah sekian lama pulanglah sang Sunan Kudus dari luar daerah, setelah dia mengetahui bahwa sepeninggal dirinya sang Putra menggunakan metode penyebaran Islam yang tidak sesuai dengan ajarannya, sang ayah pun murka, di usirnya sang putra dan tidak boleh menginjakkan kaki lagi di tanah Jawa, dengan maksud agar sang putra bisa meneyebarkan ajaran islam di daerah yang belum mengenal islam. keesokan harinya rakit yang akan membawa Amir Khasan sudah siap dengan beberapa bekal dari sang ibu, yakni pepes ikan lele kesukaan nya, seikat padi, mustaka (Puncak bangunan) Masjid dari bahan tanah liat, serta tongkat kesayangan ayahnya.

Sang ibu dengan derai air mata mengantarkan sang anak yang sudah menyusuri sungai dengan rakitnya, berhari-hari sang ibu menyusuri sungai hingga pada suatu hari tibalah sang rakit di muara sungai dan rakitpun terbawa arus ke tengah laut, sang ibu dengan bersusah payah menaiki bukit untuk melihat rakit anaknya, hingga terlihat lah rakit di kejauhan dan terlihat pula dengan samar-samar daratan dengan gunung, sang Ibu pun memerintahkan muridnya untuk melaporkan kepada Sunan Kudus bahwa sang putra menuju daratan bergunung itu, namun sang murid dalam memberikan laporan salah ucap bahwa putra kanjeng sunan berada jauh di tengah laut menuju daratan atau gunung yang tampak kremun-kremun (samar-samar), dari situlah sang Sunan mendoakan putranya agar sampai “Karimun jawa” dengan selamat, dan beredarlah berita bahwa Amir khasan sedang berdakwah ke karimun jawa. Dan mulai saat itulah daratan itu dinamai Karimunjawa.
Pulau Tengah
Setelah 4 jam membunuh bosan di kapal KMP Muria, mulai terlihatlah samar-samar daratan dengan dengan bukit-bukitnya yang hijau, yah itulah pulau Karimunjawa, sebuah gugusan kepulauan dengan jumlah pulau sebanyak 27 pulau dengan 5 pulau yang berpenghuni, dan pulau yang berpenghuni tersebut adalah Pulau Karimunjawa, Pulau Genting, Pulau Kemujan, Pulau Nyamuk dan pulau parang. Makin lama kapal yang saya naiki pun mulau merapat kedaratan, hamparan laut yang luas dengan airnya yang jernih sekali, hingga saya bisa melihat ganggang yang tumbuh di dasar laut, bukit-bukit yang hijau nan memukau dengan latar belakang langit biru dan awan putih yang berarak menyambut kedatangan saya, hingga lelah, bosan dan penat yang sudah terkumpul selama 6 jam dikapal langsung hilang rasanya, semangat makin membara untuk segera menyeburkan diri di beningnya air laut tersebut. Dan tepat pukul 15:30 saya menginjak kan kaki di Karimunjawa.
Pulau Kecil
Menikmati Karimunjawa rasanya kurang lengkap jika hanya menikmati daratan dan permukaan lautnya saja, maka dengan menyewa perahu nelayan kita bisa menikmati pulau-pulau kecil di sekitar pulau karimunjawa ini dan Island Hoping adalah agenda yang tidak boleh di lewatkan jika mengunjungi kepulauan karimunjawa ini. Semula tujuan kapal diarahkan ke pulau Sintok, namun karena pesona pulau tengah yang saya lewati seakan memanggil-manggil akhirnya kapal pun berlabuh di pulau Tengah ini, pulaunya sepi dan indah, namun menurut keterangan beberapa teman saya pulau ini sudah dikelola oleh perorangan, pantainya yang putih bersih dengan sesekali ombak kecil datang menghipnotis teman-teman saya untuk segera menceburkan diri ke laut, dan saya pun tidak kuasa untuk menehan terlalu lama tidak menceburkan diri. Hamparan karang serta ikan warna-warni menyambut kedatangan kami, puas menikmati panorama bawah laut yang indah dengan ber snorkeling perut rasanya sudah berontak, dan menu makan siang ini adalah nasi putih dengan beberapa ikan karang bakar yang kami tangkap dengan menombak, tanpa bumbu ikan dibakar masih segar dan rasanya nikmat sekali, waktu sudah menjelang sore dan masih ada satu pulau lagi yang akan saya eksplore yaitu pulau kecil, sementara pulau Sintok kami lewatkan Karena menurut keterangan bapak pemilik kapal pulaunya tidak sebagus pulau tengah. Baru saja merapat di pulau kecil sudah disambut oleh pantai yang indah dan masih alami, jangan melewatkan pula untuk bersnorkling di pulau kecil ini, di bawah dermaga saja sudah banyak ikan warna-warni yang menyambut, dan sekeluarga nemo pun dengan lincahnya menyambut saya.

Pulau Cemara besar dari kejauhan
Wisma Apung JAYA KARIMUN adalah sebuah penginapan yang dibangun di atas permukaan air laut sehingga memberikan sensasi tersendiri jika kita menginap disana, letaknya tidak jauh dari daratan pulau menjangan besar, di bawah penginapan di pelihara beberapa ikan Hiu dan beberapa penyu, jumlah kamarnya sendiri terbagi dari beberapa kelas, mulai yang ber AC dengan kamar mandi di dalam, tanpa AC tapi kamar mandi di dalam dan yang terakhir tanpa AC dan Kamar mandi di luar, silahkan pilih sesuai selera dan ketersediaan kamar pada saat itu. Kebetulan saya mendapatkan kamar yang type terakhir tanpa AC kamar mandi diluar, tanpa AC pun saya sudah dingin karena semua dinding penginapan ini terbuat dari anyaman bambu sehingga angin laut masuk melalui celah-celah anyaman bambu tersebut.
Wisma Apung
Island Hoping masih menjadi agenda saya di hari ketiga di karimun jawa ini, tujuan nya adalah pulau Cemara Besar, Tanjung Gelam dan Pulau Menjangan, baru saja beberapa saat menikmati indahnya pulau Cemara dengan airnya yang bening berwarna hijau tosca yang indah, tiba-tiba dari arah belakang muncul mendung hitam serta angin yang sangat kencang sehingga saya dan beberapa teman saya harus segera kembali ke kapal untuk merapat ke daratan Karimunjawa, yakni di Tanjung Gelam, alhamdulillah setelah menerjang badai yang lumayan mengerikan kapal pun merapat di Tanjung Gelam, ekslpore sebagian pantai nya, dan karena langit masih mendung laju kapal pun segera di arahkan ke pulau Menjangan setelah membakar ikan dan makan siang di Tanjung Gelam.
Tanjung Gelam
Baru saja menceburkan diri di samping kapal di dekat pulau Menjangan kecil saya sudah disambut oleh ikan-ikan kecil warna-warni yang banyak sekali, bermain bersama ikan-ikan kecil yang lucu sambil menikmati hamparan karang yang indah membuat saya dan beberapa teman saya terlena hingga kami terbawa arus menjauhi kapal, dan benar untuk kembali ke kapal di butuhkan tenaga ekstra karena melawan arus, dengan berpijak di sebuah karang besar kami mencoba memanggil-manggil kearah kapal, dan ternyata sang bapak nahkoda kapal dan dua orang teman nya juga sedang mencari ikan sehingga tidak mendengar panggilan kami, dan akhirnya saya pun mengalah untuk berenang mendekati kapal sementara beberapa teman saya menunggu di jemput oleh kapal.

Sebelum pulang ke daratan Karimunjawa saya menyempatkan diri melihat penangkaran ikan hiu dan beberapa teman saya bahkan menikmati sensasi berenang bersama ikan ganas di sebuah kolam kecil yang di buat dengan menyusun batu karang sehingga air laut masih bisa masuk dari celah-celah karang tersebut, sementara mereka berenang bersama hiu saya malah tertarik dengan sunset yang indah, dan kata salah seoarang awak kapal yang saya sewa, akan semakin indah jika menikmati sunsetnya di sebelah barat pulau Menjangan besar ini, dan benar sunset petang itu sungguh indah, dan temen-teman saya akhirnya menyusul ke lokasi menikmati sunset tersebut. Matahari sudah tidak kelihatan ketika perahu meninggalkan penangkaran hiu dan saya pun kembali menginjakkan kaki di daratan Karimunjawa, kembali ke penginapan, bersih-bersih diri dan menikmati makan malam di warung bu Ester rasanya nikmat sekali malam itu.
Keesokan paginya menyempatkan diri menikmati sunrise di Nirwana resort sebelum berkemas untuk pulang kembali ke pulau jawa, sedang asik-asiknya menikmati sunrise yang sedikit tertutup awan pagi itu, tiba-tiba saya dikejutkan oleh bunyi bel dari kapal yang memberikan isyarat bahwa kapal akan segera di berangkatkan, akhirnya saya dan ketiga orang teman saya pun tunggang langgang berlarian ke penginapan untuk sesegera mungkin berkemas dan segera menuju ke kapal KMP MURIA, dan alhamdulillah tidak tertinggal, setelah bunyi bel ketiga kapal pun mulai bergerak meninggalkan pulau Karimun Jawa yang indah, makin lama makin menghilang dari pandangan dan makin samar-samar, dan saya pun teringat asal mula kata karimun Jawa, Kremun-kremun.


How to get there :

Bisa dengan pesawat, kereta, maupun Bus ke Semarang, dari semarang bisa naek kapal cepat Kartini, namun sebelumnya harus pesan tiket atau konfirmasi terlebih dahulu, karena jika musim badai kapal sering tidak berangkat. Karena kapal ini termasuk kapal cepat maka hanya membutuhkan waktu 3 jam perjalanan dari semarang ke Karimunjawa.

Bisa dengan mengunakan bus Tujuan Jepara (pantai kartini) dari pelabuhan kartini naek Kmp Muria, jika anda beruntung bisa mendapatkan tiket VIP dan jika tidak yang ekonomi bersama penduduk karimun jawa, dengan waktu tempuh selama 6 jam silahkan persiapkan perlengkapan hiburan seperti ipod dan buku bacaan untuk membunuh bosan selama perjalanan.


Selain cara-cara diatas tersebut , bagi Anda yang berkantong tebal dan waktu sebagai taruhannya, ada pesawat kecil di Bandara Ahmad Yani Semarang dapat disewa menuju Bandar Udara Dewa Daru di Pulau Kemujan (salah satu pulau di Karimunjawa). Dengan menggunakan pesawat sewaan, Anda dapat melihat keindahan pulau Karimunjawa dari angkasa sebelum mendarat di lapangan terbang yang ada di Karimunjawa. Perjalanan dengan pesawat menempuh waktu sekitar 30 menit.

Labels: