Karamba, ombak besar dan indahnya lampu-lampu Tuhan

Pulau kelapa
Melihat anak-anak kecil bermain riang di beningnya air laut pulau ini seolah saya lupa akan terik matahari yang menyengat siang itu, dan ketika melirik jam di pergelangan tangan saya waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, Namun ada satu yang menggelitik bathin saya siang itu, bagaimana mereka menamakan pulau ini dengan nama pulau Kelapa ya, sementara saya tidak melihat ada populasi pohon kelapa disini.

Fasilitas di pulau ini sendiri sudah lumayan lengkap, seperti yang saya lihat di salah satu bagian pulau sedang di bangun sebuah kantor kecamatan yang menurut saya lumayan megah untuk ukuran kantor kecamatan di kampung saya tumbuh besar dulu, dermaga juga sudah di bangun permanen, untuk memudahkan kapal-kapal bersandar sehingga mobilitas penduduk pulau jadi tidak terganggu, fasilitas kesehatan, sekolah, perpusatakaan dan sebuah toko buku kecil juga saya temukan di pulau ini.

Asik Bermain
Namun tujuan dari perjalanan kali ini bukan lah di pulau Kelapa ini, saya hanya sekedar singgah di pulau ini karena kapal yang berangkat dari muara angke yang melayani rute-rute di kepulauan seribu yang saya tumpangi memang harus berhenti disini, jadi harus mencari perahu untuk berkeliling ke pulau-pulau kecil di gugusan kepulauan seribu ini.

Dermaga Pulau Kelapa
Tujuan perahu mengarah ke sebuah keramba ikan, karena memang bertujuan untuk membeli ikan untuk acara bakar-bakar ikan nanti malam, jika mengandalkan hasil pancingan tentu tidak akan memenuhi kebutuhan perut saya dan Sembilan orang teman-taman saya yang lain. Begitu sampai di keramba ternyata jenis ikan yang dicari tidak ada alias ikan mahal semua yang ada disitu, namun melihat banyak sekali ikan warna-warni dan beningnya air keramba, ingin sekali rasanyan nyemplung untuk sekedar berenang bersama ikan-ikan itu, dan viola..sang bapak yang punya keramba mengijinkan saya berenang-renang didalam kerambanya, bergegaslah peralatan snorkeling di siapkan, namun saya senantiasa tertawa dalam hati, “baru kali ini snorkeling di salam keramba ikan ha ha”

Pulau Bulat
“ ke pulau Bulat aja mas” kata si bapak yang sedang hati-hati mempertahankan laju kapal kali itu, karena ombak memang sedang tidak bersahabat, sayapun berembuk dengan teman-taman seperjalanan kali ini, soalnya tujuan kami untuk menghabiskan malam kali ini sebenarnya adalah pulau Kayu Angin Bira yang sudah sangat terkenal dengan keindahan pulaunya, banyak sekali kabar yang saya dengar bahwa pantai paisr putih di pulau ini begitu menakjubkan, namun karena disana tidak ada dermaga dan jika sore hari air laut sedang surut tentunya akan sangat susah perahu yang saya tumpangi untuk mendekat ke daratan pulau kecil itu, hingga akhirnya diputuskan untuk memilih pulau Bulat sebagai penggantinya karena memiliki fasilitas dermaga di pulaunya.

Bangku Kecil untuk menikmati laut
Pulau bulat sendiri tidaklah sebesar yang saya bayangkan, hanya sebuah pulau kecil yang kalu di kelilingi mungkin hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit, namun disini berdiri bekas resort yang lumayan mewah karena sejatinya pulau ini adalah pulau pribadi keluarga cendana, lebih tepatnya keluarga mbak Tutut. Menurut keterangan dari salah seoarng penjaga pulau yang sudah mulai renta bahwa dahulu keluarga mbak tutut sering menghabiskan waktu liburan mereka disini, namun sekarang sudah jarang sekali, bahkan dari dua dermaga yang ada, salah satunya sudah hancur di hempas ombak yang menghempas, dan satunya lagi juga sudah hampir rubuh karena tidak adanya perawatan, pulaunya sendiri menurut saya lumayan indah, menikmati matahari terbenam dari sebuah bangku tua di dermaga itu tentu akan memberikan kesan damai tersendiri bagi yang menikmatinya.



Sunset di Pulau Bulat
Ternyata kami tidak salah untuk mengambil keputuisan bahwa pulau bulatlah yang kami jadikan tempat untuk medirikan tenda dan bermalam, menghabiskan malam di sebuah hammock sambil mendengarkan dentingan nada-nada indah dari sebuah ipod usang, sementara itu ketika menengadah keatas ratusan lampu-lampu Tuhan terlihat kerlap kerlip seolah ikut bernyanyi bersama semilir angin laut yang berhembus perlahan seolah menina bobok kan raga saya yang saat itu memang sudah terlalu capek, dan benar belum sampai hitungan ke sepuluh mungkin jika dihitung saya sudah memasuki alam tidur saya, dan mulai bergulat dengan mimpi-mimpi indah di dalamnya.

Pagi menjelang dan tujuan terkahir kali ini adalah pulau Kayu angin bira, namun cuaca semakin tidak bersahabat, hujan mengguyur pagi itu, sementara kami masih harus membongkar tenda, setelah semua bekerja pada tugas masing-masing selesailah sudah semuanya dan perjalanan menuju pulau Kayuangin Bira pun akan segera di lanjutkan, dari dermaga terlihat sosok-sosok renta melambaikan tangan kearah perahu kami, mungkin ini berarti salam perpisahan dari mereka kepada kami.

Pulau Kayuangin Bira
Hanya membutuhkan waktu sekitar 30-40 menit kami sudah menjejak kan kaki di pulau kecil yang indah ini, pulaunya sendiri memiliki bentuk yang tidak beraturan menurut saya, disatu sisi memiliki sebuah tanjung dengan pasir putihnya yang indah, sementara di sisi lain memiliki teluk yang mungil dan akan nyaman untuk berenang disana. Di beberapa sisi pulaunya terdapat pantai pasir putih yang indah dengan dihiasi beningnya air laut sehingga menyihir siapapun yang datang untuk berlama-lama menghabiskan waktu disana, namun karena keterbatasan waktu dan mengingat cuaca waktu itu sedang mendung dan ombak yang lumayan besar, dengan berat hati kami pun harus segera kembali menuju perahu untuk kembali ke pulau Kelapa dan melanjutkan perjalanan pulang saya ke daratan pulau Jawa, namun benak saya seolah bersumpah bahwa saya harus kembali lagi ke pulau kecil ini. Semoga











Labels: ,