Barapan Kebo, Pesta ketika musim tanam tiba

sang Joki dengan gending kemenangan nya
“Kegiatan Karapan kerbau kerja sama pemerintah desa Benete dengan PT.Newmont Nusa Tenggara”, begitulah yang saya baca ketika memasuki sebuah lapangan bola di desa Benete kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Memang siang itu suasana persawahan di samping lapangan bola tersebut terlihat ramai dengan sesekali di iringi teriakan-teriakan para penonton acara Barapan Kebo tersebut.

Acara Barapan Kebo (karapan kerbau) sendiri sejatinya adalah sebuah pesta rakyat yang di gelar ketika musim tanam tiba, dikarenakan hampir semua area di Tana Samawa (Sumbawa) ini jarang sekali hujan maka para penduduk disini hanya bisa menanam padi sekali dalam setahun, nah ketika musim hujan turun dan sebelum proses penanaman padi berlangsung tentunya sawah terlebih dahulu akan dibajak supaya lahan yang akan ditanami padi menjadi gembur, dikarenakan hampir semua area disini kontur tanahnya berjenis tanah liat maka agak susah di bajak dan untuk memudahkan proses pembajakan sawah tak jarang para petani mempersilahkan diadakan pacuan kerbau di sawah miliknya supaya tanah menjadi gembur karena di injak-injak oleh kerbau-kerbau yang melakukan Barapan di sawah tersebut, namun seiring dengan perkembangan jaman tak jarang ajang “Barapan Kebo” ini dijadikan paket-paket wisata oleh para pelaku bisnis pariwisata di wilayah tersebut.
Suasana area pertandingan
Tehnik barapan kebo sendiri adalah terdiri dari dua kerbau karapan dan di pasangi “Noga” atau sebatang kayu yang di pasangkan di kedua leher kerbau karapan tersebut dan di tengahnya ada sebatang kayu memanjang kebelakang badan kerbau dan diujung kayu tersebut dipasang “kareng” sebagai tempat joki berpijak, dan dengan “mangkar” (cambuk) sang joki menggiring kerbau kea rah “sakak” karena untuk memenangkan pertandingan pasangan kerbau tersebut harus menabrak “sakak” (batang kayu yang ditancapak di garis finis) dan sang “sandro” (dukun) berdiri di dekat “sakak” tersebut selaku juri yang meniup peluit sebagai tanda kerbau mulai berlari dan sebagai pancatat waktu yang dihasilkan oleh sang kerbau-kerbau karapan tersebut.

Barapan Kebo
Namun tak jauh dari “sakak” tersebut biasanya ada seorang “sandro” lain yang berusaha mengecoh sang joki dan kerbaunya supaya tidak bisa menabrak “sakak” tersebut, namun sang joki biasanya juga sudah di back-up oleh “sandro” lainnya, nah disinilah biasanya terjadi adu ilmu antar para sandro, apabila sang sandro yang berdiri di dekat “sakak” merasa ilmunya kalah maka dia akan segera menyingkir, sehingga tak jarang dua meter ataupun satu meter sebelum garis finis banyak kerbau yang lari menyimpang dari jalur pacuan yang di batasi oleh “pancang”, bahkan menurut salah satu penonton yang saya temui menuturkan dahulu kala pernah terjadi satu meter sebelum sakak ada tanduk kerbau yang lepas dari kepala kerbau karapan yang bertanding waktu itu.

“hadiahnya gak seberapa mas, mungkin hanya sebuah televisi, sedangkan untuk mendatangkan kerbau dari rumah ke lokasi arena tak jarang sang pemilik harus membayar sewa truck yang mahal, mungkin lebih mahal dari hadiahnya, namun kepuasan dan prestise lah yang di cari sang pemilik kerbau karapan tersebut” begitulah celotehan sari sahabat baru saya tersebut, dan mungkin dia benar, karena selain bertujuan memenangkan pacuan tersebut para pemilik juga membawa misi sebuah harga diri, dan kerbau-kerbau yang memenangkan karapan tersebut nilai jualnya pasti akan melonjak, karena untuk menjadi kerbau karapan tidaklah gampang, kerbau-kerbau tersebut harus mempunyai ciri-ciri, diantaranya adalah kepala yang selalu menghadap kedepan, tanduknya tumbuh lurus sempurna, serta memiliki tanda pusaran pada bulunya dan yang terbaik adalah pusaran itu berada di tengkuk atau berada diantara kedua mata kerbau tersebut.

Semoga kesenian adat daerah seperti barapan kerbau ini senantiasa terjaga karena inilah yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita, dan kita patutnya bangga hidup di negeri yang memiliki budaya yang beragam ini, dan slogan di spanduk yang saya baca di dekat lapangan bola waktu itu adalah sebuah ajakan yang mulia, kata-kata yang terangkai itu berbunyi “mari sama-sama melestarikan budaya leluhur agar tetap terpelihara sepanjang masa”.

Labels: